07 July 2018

Masyarakat Sumbar Butuh LoSoSa


Rakernis PT Garam (Persero) di Bukittinggi




Bukittinggi, Rakyat Sumbar---Perjalanan semester I, tahun kerja 2018, telah berakhir. Capaian satu semester tersebut “dikuliti” jajaran manajemen PT Garam (Persero) dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis), di Bukittinggi, Selasa (3/7).
Rakernis tersebut dipimpin Dirut PT Garam (Persero) Budi Sasongko, juga ada Direktur Operasi Hartono, Direktur Pengembangan  Edward Hariandja dan Direktur Keuangan Anang Abdul Qoyyum, Kepala Wilayah Pemasaran Sumatera II  Febrico Wardono serta kepala divisi di lingkungan PT Garam (Persero).
Saat pembukaan, turut menghadirkan Direktur Rumah Sakit Ahmad Muchtar Bukittinggi dr Khairul Said, Direktur PT Kurnia Garam Sejahtera Abtar Latif, General Manager Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus dan wartawan senior Rusdi Bais.
Keempat orang tersebut diberikan kesempatan untuk memaparkan kondisi di lapangan, terkait penerimaan masyarakat terhadap garam sehat LoSoSa, salah satu produk PT Garam (Persero) yang sekaligus menjadi icon perusahaan tersebut.

19 June 2018

Serahkan Dua Unit Bantuan Usaha Ekonomi Produktif untuk Sahabat

* Halal bi Halal Angakatn '91 SMAN 4 Padang


Padang, Rakyat Sumbar---Halal halal bi halal 1439 Hijriah, dijadikan sebagai momentum memperkokoh silaturrahmi sesama alumni Angkatan '91 SMA Negeri 4 Padang. Dua unit bantuan usaha ekonomi produktif diserahkan untuk dua sahabat mereka.
Rustam memperoleh becak motor, Ernita mendapatkan gerobok untuk jualan gorengan dan aneka jus. Dua bantuan usaha ekonomi produktif ini didapatkan dengan cara berbeda.
"Becak motor sepenuhnya dari donasi yang diberikan kawan-kawan, sedangkan gerobak didapatkan dari kerjasama dengan pihak ketiga," kata Firdaus Abie, Ketua Ikatan Alumni Angkatan '91 SMA Negeri 4 Padang, disela-sela halal bi halal, di Oma Cafe Lubukbegalung, Senin (18/8) kemarin.
Kerjasama dengan pihak ketiga, katanya, upaya pengurus Angkatan '91  memenuhi  kebutuhan sahabatnya tersebut disambut baik LAZ Mitra Umat Madani.

SATU CINTA UNTUK '91

 Kami Bersahabat, Satu dalam Rasa...  

 



Kami bersahabat sejak dulu. Tiga tahun kami seiring sejalan. Tiga tahun bergandengan tangan untuk satu langkah yang sama. Menuntut ilmu di SMA Negeri 4 Padang, yang masa itu akrab dalam sebutan Smanpex. SMA Ampek.
Sekolah kami, berada di pinggir sungai. Ketika kami memulai sekolah di sana, kami mengenal sungai itu dengan sebutan Sungai Babilon. Entah apa sejarah yang memunculkan nama sungai tersebut begitu, konon tak seorang pun yang tahu. Kami menerima apa adanya, seperti kami menerima aroma udara yang dikeluarkan pabrik getah, atau aliran sungai yang sudah bercampur limbah.
Tiga tahun kami bersama, lalu terengut tuntutan. Janjian telah sampai. Waktu menghukum segalanya. Kami harus pergi, meninggalkan Smanpex tercinta. Meninggalkan sekolah dan para guru. Langkah pun diseret terpisah. Anak muda matah dari 10 kelas (satu kelas 30-40 orang) harus menyeret langkah sesuai hakikatnya. Ada yang termangu, tersentak dalam diam. Ada yang melangkah optimis, menuntut ilmu pasti. Ada yang mengatur langkah, menata diri menatap hari.
Belasan tahun terpisah, tercerai-berai, entah dimana.  Masa yang panjang itu, akhirnya memendam rindu. Rindu merentang, memagut angan. Ah, segeralah ke sini!

07 June 2018

“Kapunduang..!”


 
Sampai di rumah sepulang dari  pos ronda, menjelang malam, Badri membawa dendang dari siulan. Hatinya berbunga-bunga. Ia mendapati mande masih menjahit.
“Mande, siapa yang akan menikah?” tanya Badri, ketika ia menemukan seonggok siriah langkok[1] di meja ruang tengah rumahnya.
Rabiatun ka baralek. Tadi ayah dan ibunya ke sini. Beliau juga mengundangmu sekalian meminta bantuanmu untuk persiapan pesta nanti,”  jawab  mande. Ia terus menyulam.
Badri tergagap. Langkah dan siulannya terhenti.
“Rabiatun,  mande?” tanyanya tergagap.

Menjemput Hati Rabiatun


Sejak melepaskan diri dari Mirna, Badri kembali mengejar cinta Rabiatun. Ia menjemput kisah masa lalu bersama Rabiatun. Perempuan idamannya itu terus dibuntuti. Hari-harinya selalu mencari celah agar bisa kembali dekat pada Rabiatun.
Bisikan untuk kembali mengintip Rabiatun di tapian, sepanjang waktu terus membuntutinya. Ketika bisikan itu semakin deras, Badri sudah melangkah menuju tapian menjelang asyar. Ketika langkahnya terus mengarah ke tempat biasa dulu ia mengintip, darahnya mengalir deras.
Badri tertegun. Langkahnya terhenti. Ia merasakan ada sesuatu yang menjalari tubuhnya. Bulu romanya berdiri. Perasaan cemas berubah menjadi ketakutan. Ia menggigil dalam diam. Selang beberapa saat kemudian, ia balik kanan dan kemudian melangkah meninggalkan tapian.

Ancaman Melepas Mirna


 
Sejak pertemuan di malam jahanam, Badri mencoba mengubur jauh tentang Mirna. Ia sebenarnya sudah mulai merasakan hatinya terpaut pada Mirna. Mulanya memang hanya sandiwara. Ia mendekati Mirna untuk menutup malunya agar Mirna tak membocorkan perangainya mengintip Rabiatun di tapian.
Mulanya Badri hanya patuh pada permintaan Mirna karena takut perangainya dibocorkan ke orang kampung. Bagaikan sapi yang diberi tali di hidungnya, Badri menurut saja. Ia patuh jika ada permintaan dari Mirna.

Malam Jahanam



Hari belum gelap, namun Mirna sudah menutup jendela kamarnya. Sinar lembayung menerobos masuk dari pintu angin. Pintu kamar sudah terkunci sebelum Mirna menutup jendela.
Mirna membolak-balik pakaian di lemari. Ia mencari sesuatu. Tak lama di antaranya, ia membentangkan handuk kecil dengan kedua tangannya. Handuk itu diciumnya dalam-dalam sembari memejamkan mata.
Sesaat kemudian ia membuka matanya, menjauhkan hidungnya dari handuk kecil itu. Tak lama berselang, ia kembali mengulangi caranya semula. Cara mencium yang sama dilakukannya tujuh kali, setelah itu ia meletakkan handuk itu di bawah bantalnya.

Tantangan Mirna


Sejak pertemuan di rumah Mirna, ternyata tanpa sengaja, Badri dan Mirna  sering berjumpa. Pertemuan mereka terjadi di tempat berbeda. Terkadang di tempat  baralek, sama-sama pulang dari surau, di jalan ketika menuju atau pulang dari ladang. Sejak itu pula, tak pernah Badri bisa bicara langsung.
 Setiap ia hendak menyampaikan persoalan mengintip Rabiatun, seketika itu juga Mirna mengalihkan cerita. Permintaan Mirna selalu sama, bicarakan dikesempatan lain saja. Sejak itu pula, Badri sering kali mencoba membuat janji dengan Mirna. Gadis itu menurut, namun setiap Badri hendak mengulang pembicaraan serupa, Mirna pun mengelak. Badri makin bingung.
Diam-diam mereka saling buat janji. Mengukir waktu, mencuri kesempatan untuk bisa bertemu. Mereka bertemu diam-diam, tak mau ada yang tahu. Kalau pun mereka tahu bahwa orang tua mereka sudah berteman sejak masih muda, namun mereka tak percaya kalau pertemuan diam-diam itu akan direstui. Kalau pun harus datang ke rumah masing-masing lebih memungkinkan, namun mereka juga harus berjuang untuk mengakali agar pertemuan itu benar-benar logis.
Tak mudah bagi mereka untuk skenario. Badri terus mencari jalan agar ia diminta mande ke rumah amak, begitu pun Mirna. Ia juga terus mencari akal agar diminta amak untuk menemui mande. Kalau itu terjadi, maka memungkin bagi mereka untuk bertemu dalam kurun waktu yang agak lama dan tidak perlu kuatir dilihat orang.

03 June 2018

Rakyat Sumbar untuk Indonesia


Judul di atas bukan sekadar judul,  tapi dikutip dari tema ulang tahun ke-8 (delapan) Harian Umum Rakyat Sumbar. Sejak 1 Juni 2010, koran yang sedang dibaca hari ini, telah turut mengambil peran untuk  pembangunan Sumatera Barat. Mendorong dan menginspirasi masyarakat untuk berbuat yang terbaik.
Dilihat dari usia, Harian Umum Rakyat Sumbar tergolong lebih muda dibandingkan koran-koran harian lain di Sumbar. Koran ini salah satu produk era reformasi. Dua puluh tahun perjalanan era reformasi, baru separoh waktu menemani dan mengawal perjalanan masa yang disebut-sebut sebagai era keterbukaan.
Tapi usia muda bukanlah alasan untuk tertinggal dibandingkan yang lebih tua. Jika yang muda  kreatif; berpikir, melangkah dan bertindak out of the box, maka akan dapat menyodok ketertinggalan  dari seniornya. Tidak berarti yang muda kalah dalam persaingan.
Diusia sewindu ini, kami mengusung tema; Rakyat Sumbar untuk Indonesia. Inilah semangat kami untuk memberikan kontribusi positif kepada negeri ini, hari ini dan hari-hari selanjutnya. Ada makna dan semangat berlipat ganda di sana.

29 May 2018

(Mungkin Ini) Porprov Terburuk


Oleh: Firdaus Abie


Hari ini pesta usai. Sebelum benar-benar usai, sebelum api di koldron benar-benar dipadamkan (walau sesungguhnya sudah pernah padam beberapa hari setelah Poprov XIV Sumbar di Padang, baru saja dibuka), sebelum hajatan benar-benar ditutup, hari ini masih ada para atlet yang berjibaku, bermandikan keringat, jatuh bangun demi prestasi.  Ada yang melepaskan gelak tawa tanda suka cita. Ada yang menahan tangis menanggung pedih. Semuanya berbaur di arena yang keras.
Pesta yang berakhir hari  ini, selain merangkai prestasi, juga telah menghadirkan sejumlah catatan   (mungkin tak disadari), menodai sejarah  panjang olahraga bergengsi bagi olahraga di Sumatera Barat. Setidaknya, saya memiliki ada enam catatan penting. 
Seorang teman menyebutkan, kalau pun catatan ini saya tulis, tetap saja tidak akan terselesaikan sampai acara ini ditutup. Kata saya, ke lima persoalan itu, tidak akan untuk sekarang, sebab tidak akan bisa diapa-apakan lagi oleh tuan rumah dan panitia, namun ini sebagai catatan agar tidak terulang dikemudian hari.
Catatan pertama saya, ketidakikutsertaan Kota Padangpanjang, adalah sebuah prestasi buruk. Bagi Padangpanjang, baik KONI Kota Padangpanjang, mau pun Pemko Padangpanjang, dan KONI Sumbar. Aneh dan lucu saja, persoalan perbedaan pandangan, ternyata tidak bisa terselesaikan, sehingga harus mengorbankan anak-anak muda Padangpanjang untuk tidak bisa berlaga membela daerahnya.

Kalah Kelas Dibandingkan Porkota

* Catatan Kecil Seremonial Pembukaan Porprov XIV/2016 Sumbar di Padang

Oleh: Firdaus Abie

Katanya, ada 18 kontingen yang berlaga di Porprov XIV Sumbar di Padang, sebab Kota Padangpanjang tak ikut serta, tetapi kenapa hanya ada 17 yang ikut defile? Kenapa pula wasit,  juri tidak ikut berdefile? Apakah ada aturan baru yang saya tidak tahu? Mohon pencerahannya, maklum  saya masih awam soal olahraga!
Status saya di facebook itu ditanggapi beragam sejumlah kawan. Tak hanya di beranda, tetapi ada juga yang menelpon langsung.
“Apakah hanya dua itu yang tampak?” tanya sejumlah kawan kepada saya. Tentu saja tidak!
Saya mencatat sejumlah ketidaklaziman terhidang  terang benderang dari seremonial pembukaan berbiaya besar tersebut. Seremonial pembukaan yang diharapkan menggetarkan, ternyata hanya sebuah tontotan tanpa greget.  

28 May 2018

Kami Bersaudara, Terpisah Lama




Rindu itu membuncah. Sekali tekan, menjalar liar entah kemana. Menembus beribu-ribu kilometer. Tak cukup sepekan, detaknya terus bergerak. Semakin cepat. Lumbung pun terus terisi. Satu persatu nama tersangkut di tangan admin.
“Kita harus bertemu..”
“Kapan?”
“Terserah, kapan saja”
“Ya, kapan saja”

Hebatnya Silaturrahmi

Penulis, Aqua Dwipayana dan Werry Darta Taifur



Hebatnya Silaturrahmi
Lama tak jumpa, tiba-tiba saya dapat kabar kalau beliau ke Padang. Saya ingin bertemu dengan sosok yang sudah saya anggap senior dan guru. Komunikasi via wa terhubung, namun sepanjang siang yang direncanakan, pertemuan tak terlaksana.
Keesokan pagi, saya hubungi kembali. Hopp! Beliau baru saja keluar dari hotel tempatnya menginap semalam. Ia mengabarkan ke Kuranji, “saya ke Kuranji sebentar, da Firdaus. Nanti saya kabari. Kalau bisa, kita bertemu di Andalas saja,” katanya melalui pesan singkat.
“Oke, mas” balas saya. 
Ia kemudian memberikan alamat lengkap. Saya langsung menuju alamat tersebut. Saya perhatikan waktu. Ia memperkirakan akan sampai di sana antara pukul 10.30 – 11.00 wib. Saya melihat jam, masih harus menunggu satu jam lagi. Tak apalah. Saya bergerak menuju lokasi yang disebutkan, lalu menunggu tak jauh dari tempat dimaksudnya.
Sesuai jadwal, saya melihat sebuah mobil. Berwarna hitam. Mobil itu masuk ke arah alamat yang saya terima. Saya ikuti. Benar saja, ketika mobil itu berhenti, saya melihat orang yang hendak saya temui turun dari mobil tersebut. Saya juga turun dari mobil. Ia melihat saya.
“Ayo uda Firdaus,” katanya memberi kode. Saya menuju ke arahnya, ia juga menuju ke arah saya. Kami bersalaman, lalu cipika-cipiki sejenak. Ia merangkul bahu saya.
“Pak rektor, ini sahabat saya,” katanya sembari menyalami sosok yang dipanggilnya pak rektor.
Pak rektor dimaksud, Werry Darta Taifur. Pak Werry, mantan Rektor Unand yang kini menjadi salah seorang Komisaris di PT Semen Padang.
“Pak Firdaus juga sahabat saya kok, pak Aqua,” kata Pak Rektor, menyambut kami di kediamannya bersama sang isteri.
Pertemuan kami berlanjut. Pak Rektor tampak senang. Beliau sangat antusias menerima kami. Katanya, ia tak menduga kalau pak Aqua Dwipayana, motivator hebat, penulis buku-buku best seller mau dan berkenan main ke rumahnya. Beliau memiliki jadwal yang sangat padat.
“Saya sangat senang sekali pak Aqua dan pak Firdaus berkenan ke kediaman saya ini,” katanya antusias.
Berlahan diskusi pun berlangsung. Banyak hal yang didiskusikan. Melompat-lompat saja karena pertemuan tersebut bukan kegiatan resmi, tapi silaturrahmi saja, “luar biasa The Power of Silatarrahmi-nya, pak Aqua,” kata Pak Rektor sembari mengutip judul buku Aqua Dwipayana yang best seller tersebut.
Bagi saya, pertemuan ini sangat spesial. Pertama, secara bertatap muka dan berkomunikasi langsung dengan Pak Rektor, sudah lama tak berlangsung. Terakhir, kalau tak salah ingat, saat beliau masih Rektor Unand. Kalau pun bertemu pada beberapa kesempatan,  hanya secara kebetulan diberbagai kegiatan. Kedua, terakhir kali bertemu mas (saya sejak dulu memanggil dengan tambahan kata itu di depan namanya, sedangkan mas Aqua memanggil saya dengan sapaan uda Firdaus) Aqua,  saat saya masih di Padang TV. Artinya, ada sekitar sembilan tahun lebih.
Saya mengenal beliau sejak tahun 2000. Ketika itu, beliau masih di Semen Cibinong. Ia main dan singgah ke Padang Ekspres, lantaran menurutnya darah wartawan yang  mengalir di tubuhnya masih deras. Ia pernah menjadi wartawan di Suara Indonesia, Surabaya Minggu, Radio TT 7 Malang, Bisnis Indonesia dan Jawa Pos.
Beliau juga pernah mengundang saya ke kantornya, saat di Cibinong dulu. Sejak saat itu, hubungan dan komunikasi berlangsung. Biasanya, setiap sampai di Padang, beliau mengabarkan. Komunikasi masih sering kami lakukan walau jarang jumpa. Bagi saya, beliau adalah seorang senior dan guru. Ia sangat mengayomi, memberikan banyak ilmu, menjadi guru tapi tidak menggurui. 
Beberapa waktu lalu, saya mempersiapkan sebuah buku bertemakan jurnalistik dan aspek-aspek lain yang menyertainya. Beliau memenuhi permintaan saya untuk memberikan kata pengantar. Secara materi, naskah buku tersebut sudah selesai, namun belum tuntas menjadi sebuah buku.
Belakangan saya mengikuti aktivitas ayah dari Alira Vania Putri Dwipayana dan Savero Karamiveta Dwipayana ini. Aktivitasnya sangat luar biasa dan menginspirasi. Ia menyisihkan hasil royalty penjualan buku-buku yang ditulisnya, honornya sebagai narasumber dan sumbangan  dari berbagai sabahabat, kolega dan sponsor untuk keperluan pemberangkatan jemaah umrah. Sudah dua gelombang jamaah umrah yang diberangkatkannya.
Akhir April lalu, beliau memberangkat 39 orang melaksanakan umrah. Mereka yang diberangkatkan adalah orang-orang yang dalam pikirannya tak mungkin melaksanakan ibadah ke tanah suci tersebut, di antaranya pegawai rendahan, bintara dan hafiz.
Tak berselang lama, terdengar suara mengaji dari masjid tak jauh dari kediaman Pak Rektor, sebentar lagi waktu Jumatan, masuk. Pertemuan itu pun kami akhiri. Walau pun singkat, namun silaturrahmi itu sangat bermakna,  seperti batrai yang baru saja diisi. *  

Aroma Dapur Emak



Cerpen: Firdaus Abie


Entah kenapa, Da Boy belum juga kembali. Ia belum mau balik ke Jakarta, padahal puasa sudah jalan sepekan. Biasanya Da Boy pulang dua atau tiga hari menjelang lebaran, tak sampai seminggu setelah lebaran ia kembali ke Jakarta.
Puasa kali ini, berbeda. Da Boy sudah di kampung sebelum balimau[1]. Katanya ia ingin balimau  ke Lubuk Tempurung.  Sudah dua puluh lima tahun ia tak ke sana.  Lubuk Tempurung merupakan tempat pertama dan terakhir ia balimau. Ketika itu ia masih duduk di bangku kelas dua SMP. Emak membawanya bersamaku.
Ketika itu, kami pergi bertiga secara sembunyi. Takut ketahuan. Ayah melarang kami ke tempat balimau.  Kata Ayah, dari tahun ke tahun, suasana balimau sudah mulai menyimpang. Tidak lagi membersihkan diri, tetapi justru menambah dosa. Lelaki dan perempuan mandi bercampur di sepanjang aliran sungai.
Dulu, kata Ayah, disaat beliau muda, mandi balimau sangat dinantikan. Tradisi mandi bersama, membersihkan diri bersama, diatur sedemikian rupa. Ada lubuk pemandian tersendiri. Tak bercampur pemandian laki-laki dan perempuan. Anak perempuan mandi di baruah[2] saja. Jika ada yang melanggar, akan dikenakan sanksi adat.

18 February 2018

Menggantung Aib




Sejak ditanya Mirna, Badri tak lagi pernah ke tapian. Perasaan takut bercampur aduk dalam dirinya. Selama tak pernah lagi ke tapian, ia juga terus mencoba mencari peluang untuk menemukan Mirna. Tapi sepanjang itu pula, Mirna tak pernah dijumpainya.
Badri berupaya memintas jalannya sepulang mengantarkan makanan untuk abaknya, tapi saat itu, bukan Mirna yang mengantarkan makanan, melainkan amaknya. Badri berpapasan dengan wanita ramah dan berkerudung itu. Wanita itu disapanya. Ia balik menyapa dan menegur Badri, malahan menanyakan kondisi mande. Badri menjelaskan kalau mande dalam keadaan sehat.

11 February 2018

Ketakutan Badri

Hop! Tatapan mata Badri tertumpuk pada sepasang bongkahan di dada Rabiatun. Jantungnya berdegup kencang. Badri mencoba menahan diri, menahan debaran jantung yang berdentum deras, sederas dentuman air terjun di tapian. Badri takut kalau-kalau dentuman itu terdengar Rabiatun.
Setelah sebelumnya tanpa sengaja melihat Rabiatun mengosok dan mengerayangi tubuhnya dengan sabun, kali ini Badri melihat sepasang bongkahan itu saat Rabiatun bersalin basahan dengan sarung yang kering, kemudian mengenakan pakaian.
Sejak melihat pemandangan itu, Badri merasa ia seperti menikmati pemandangan sendiri. Pemandangan yang menyenangkan, tak pernah ditemuinya sebelumnya. Pemandangan itu dinikmatinya dalam debaran jantung yang berdentum kencang. Seakan mampu mengoyang batang beringin tempatnya bersembunyi.
Badri juga harus memutar otak. Ia harus bisa mencari alasan yang tepat agar selepas ashar bisa menghindar dari kawan-kawan sepermainannya. Biasanya, saat-saat menjelang dan selesai ashar, mereka belum selesai bermain.

Menjemput Masa Lalu



Kembali ke sini
Menjemput rindu
Berbingkai sembilu

Asa berlalu,
nyata meraja
Kudekap tanpa gelora


Padang, 20 Januari 2018

08 February 2018

Permaisuri Hati



Peri seribu peri
Lewat olehmu, oh permaisuri hati

Padang, 25 November 2017

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...