26 April 2022

Laluan Sutra di Negeri Bersaudara


Oleh: Firdaus Abie

 

Seratus tahun sebelum masehi hingga kini

bukanlah waktu yang singkat

masa telah berganti

budaya telah diasak

peradaban bergerak membuat sesak

tapi hati kita masih di sini

terpaut bagai dipatri

 

Dinasti Han membuka jalan

Dinasti Tang menjadikan terang

Parameswara membuat lebih penting;

tanah Melayu destinasi pertama

dua negeri pun menjadi bersaudara

membangun ekonomi, diplomasi dan budaya

 

Kita pernah berjarak dalam ruang waktu

Kau di sana tanpa kabar

Kami di sini menghadapi penjajahan Barat

Berat, tapi kami belum kiamat

hingga Benderaku berkibar hebat;

Ku pertahankan sepenuh raga ku
Dikaulah lambang negara berpadu
Di bawah naungan Duli Tuanku

 

Dua puluh dua abad kami terikat

Tali yang putus disambung anak cucu

Mahathir Muhammad,

Tun Abdullah Ahmad Badawi,

Dato’ Sri Mohd Najib

Demi ekonomi dalam negara

untuk 100 negara di Asia Tenggara, Asia Barat, Asia Selatan, Atlantik dan Eropa

 

Laluan sutra menjadikan kami bersaudara

 

Padang, 16 Maret 2022

Kekuatan Silaturahim dan Penjualan Buku



Oleh Dr Sirikit Syah 
 

Catatan: penulis Dr Sirikit Syah, Selasa tadi pagi (26/4/2022) pukul 06.30 WIB meninggal di Rumah Sakit Haji Surabaya, Jawa Timur. Setelah sembilan hari dirawat di sana. 

 

Beberapa hari lalu saya betul-betul dibuat amazed alias terkesima membaca laporan bahwa Aqua Dwipayana bisa menjual 30 ribu eksemplar bukunya hanya dalam waktu 2-3 bulan. Apalagi dalam situasi pandemi Covis-19. Itu sungguh prestasi yang luar biasa untuk seorang pengarang atau penulis buku. 

Saya kemudian melakukan refleksi pada perjalanan perbukuan saya. Buku saya pernah diterbitkan sampai cetak ulang belasan kali, tapi saya tidak mendapat royalti karena sudah dibayar di awal dengan murah. 

Saya juga pernah dikagetkan e-mail dari seorang akademisi di Inggris yang akan menganalisis cerpen saya di paper ilmiahnya. Cerpen dikutip dari buku kumpulan cerpen cetakan ketiga. 

Lho?! Kok ketiga? Kok saya tidak diberitahu oleh penerbit bahwa cerpen saya sudah naik cetak tiga kali? Saya hanya diberi royalti untuk cetakan pertama. 

Buka Puasa di Sidoarjo dan Bandung, Memotivasi dan Memenuhi Janji

Oleh: Aqua Dwipayana



Minggu terakhir bulan Ramadhan ini aktivitas saya sudah mulai reda. Sengaja dikondisikan seperti itu untuk persiapan menyambut Lebaran Idul Fitri bersama keluarga tercinta. 

Sekaligus sebagai upaya "pendinginan" mesin. Setelah tiga minggu berturut-turut selama Ramadhan jadwalnya padat sekali di Sulawesi. Utamanya di tiga provinsi: Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. 

Senin kemarin (25/4/2022) sekitar 24 jam saya di Jawa Timur. Aktivitas utamanya silaturahim di Surabaya dan Sidoarjo. 

Mereka yang saya temui antara lain Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Nurchahyanto, Waaster Kodam V/Brawijaya Letkol Inf La Ode Muhammad Nurdin, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur Lutfil Hakim, abang kandung saya Ikhsyat Syukur, dan mantan Station Manager Lion Group Surabaya Kolid Widodo yang biasa dipanggil Dodo. 

23 April 2022

Setelah Ia Pergi

 By: Firdaus Abie

 

 

Mama

rindumu padanya menyiksaku

aku juga rindu

kutelan jauh di dalam hati

rinduku tiada bertepi

 

setelah  ia pergi

hari-hariku terasa sepi

tak tahu apakah ia kembali

ataukah rasa ini kubawa mati

 

kutitip pesan pada angin

tiada jawaban kembali

kukirim kabar pada burung

tak ada kicauan balik padaku

kusampaikan salam melalui embun

ia tak tahu harus mencari ke mana

 

Mama

Rindumu padanya

Rinduku juga

Rindu yang menyiksa kita

 

Padang, 3 Maret 2022

Kisah Mesin Tik Usang

Inmemorian Azwar Siry SH, MM:


 

 Oleh: Firdaus Abie


Seorang lelaki, bertubuh sedang, berkostum putih abu-abu, keluar dari pekarangan sebuah kantor. Tangan kanannya menenteng sebuah mesin tik. Di saku belakangnya terselip dua buah buku tulis. Ia mempercepat jalannya. Mengitari jalan Tan Malaka, menyeberangi jalan Sudirman, masuk ke Pasar Raya, lalu menaiki angkutan kota ke arah Parak Laweh.

Turun dari angkutan kota, Ia mempercepat langkahnya.

“Bang, saya dapat mesin tik!” teriaknya begitu Ia masuk ke rumah.

Lelaki yang dipanggil abang itu terkejut.

“Dapat dari mana?” tanyanya.

“Saya minta langsung kepada kepala kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang,” jawabnya.

“Serius? Tidak mencurikan?”

“Pernahkah itu saya lakukan?” tanyanya balik menyerang.

“Bagaimana ceritanya bisa mendapatkan mesin tik ini?” tanyanya.

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...