28 October 2013

”Ada Awan Lurus Tebal yang Memanjang”

Fenomena Unik Pembawa Kabar Gempa

Oleh: Firdaus


Sore yang mencekam. Tak pernah terbayangkan, bencana itu datang lagi. Gempa dahsyat itu datang tanpa terduga, di saat kedamaian mengitari perjalanan. Sore itu, seusai menerima tamu di ruangan Divisi Program dan Produksi Padang TV, tempat saya sehari-hari menjalani aktivitas, saya menuju ke Padang Ekspres berjalan kaki. Sebelum berangkat, saya sempat meminta dan berpesan kepada tim kerja, untuk menunggu agak sebentar. Ada hal yang hendak disampaikan.
Di Padang Ekspres, saya langsung ke lantai dua untuk sebuah keperluan. Baru saja hendak duduk, tiba-tiba goncangan itu membuyarkan suasana canda di ruangan tersebut. Semua tersentak, lalu berlarian keluar. Ketika sampai di anak tangga lantai dua, suasana sudah ramai. Maklum saja, di lantai dua dan tiga Padang Ekspres ada sejumlah divisi dari sejumlah perusahaan. Yakni, Padang Ekspres, Posmetro Padang, P’Mails, dan media online Padang Today.
Sesampai di anak tangga itu, saya sempat tertegun. Ada seorang berguling dari lantai dua. Yang pasti, dari posturnya, dia seorang laki-laki. Sampai tulisan ini saya tulis, belum terdeteksi siapa gerangan lelaki tersebut. Lalu, satu persatu di antara kami yang berada di lantai dua berlarian turun ke bawah. Sementara guncangan sangat terasa. Sangat keras. Dinding sepanjang tangga mulai berjatuhan.

27 October 2013

Menuju Tujuh Miliar



 Oleh: Firdaus 



Berjalan sedikit lebih jauh, sama buruknya dengan berjalan tidak cukup jauh....
---Confusius, pemikir paling berpengaruh dunia asal China---


Pandangan Confusius yang lahir di negara kecil Lu (sekarang Provinsi Shantung, Cina) pada tahun 551 SM, sebenarnya tidak jauh berbeda jika dikaitkan dengan peristiwa yang pernah terjadi pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.
Ketika itu, seorang kafir yang sangat bejat, sering membunuh, merampok dan memperkosa, datang kepada nabi. Ia menyatakan penyesalan dan kemudian benar-benar mau bertobat. Nabi memintanya untuk berangkat ke sebuah tempat. Di sana bisa bertobat dan beribadah lebih khusus.
Di perjalanan, ternyata Allah berkehendak lain. Ia didapati meninggal dunia di perjalanan. Semua orang bingung. Bagaimana menyelenggarakan jenazah tersebut. Apakah diselenggarakan seperti tradisi kaum kafir, atau diselenggarakan secara Islam.
Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar diukur jarak tempuh yang sudah dilaluinya dari rumah si kafir ke tempat yang dituju. Setelah diukur, perjalanan yang  ditempuh sudah sangat jauh dari rumahnya. Artinya, sudah dekat ke tempat yang diperintahkan nabi.
Nabi Muhammad SAW kemudian memerintahkan agar jenazahnya diselenggarakan secara Islam. Para sahabat pun kemudian heran dan bertanya kepada nabi. Nabi menjelaskan, lelaki itu sudah menunjukkan kesungguhannya untuk bertobat. Dari jarak yang sudah ditempuh, ia sudah jauh meninggalkan masa lalunya.
Hikmah dari ilustrasi itu, sebenarnya dapat juga dianalogikan pada banyak sisi kehidupan saat ini. Setidaknya, ada data mengkuatirkan yang dikeluarkan badan dunia, bahwa pada Oktober 2011 diprediksi bahwa dunia ini akan didiami tujuh miliar jiwa. Sanggupkah bumi menjadi pijakan dengan kondisi air tanah kian kerontang, hutan yang semakin menggundul, es di kutub yang terus mencair, namun berbagai polutan terus menggila?

Totalitasnya pada Olahraga tak Diragukan!

Inmemoriam Sjaiful Bachri, Wartawan Olahraga Senior Sumbar:



Pagi, lah minum tu? Ambo alah..
Terkadang, kalimat tersebut dibarengi dengan sedikit penjelasan. Di antaranya; Pagi, lah minum tu? Ambo alah, jo teh manis se. Atau, Pagi, lah minum tu? Ambo alah, lontong gulai paku di Simpangharu. Tapi, yang pasti, apa pun penjelasannya, pertanyaan awalnya tetap sama; Pagi, lah minum tu?


Oleh: Firdaus


Pertanyaan itu diajukan pemilik akun di facebook,  Sjaiful Bachri, setiap pagi. Tapi terhitung Jumat (25/10) pagi, sapaan itu tak ada lagi untuk hari-hari mendatang.  
“Ka jadi kawan sambia minum pagi mah..” jawab Sjaiful Bachri, ketika perihal status setiap pagi itu saya tanyakan padanya, saat saya dan uda Pul ---demikian saya biasa memanggilnya--- bertemu di Sekretariat KONI Sumbar, Senin (21/10) lalu.
Pertemuan tersebut rupanya pertemuan terakhir saya dengannya. Pada pertemuan tersebut ada tokoh-tokoh olahraga Sumbar; Zainal Kasim, Sartusa Ibrahim dan Azwar Akip. Pertemuan menjelang siang itu memunculkan diskusi perihal olahraga, terutama terkait dengan prestasi Timnas U-19. 
Kabar Sjaiful Bachri berpulang ke rahmatullah, saya terima melalui sebuah grup Blackberry, Jumat pagi. Uda Sjaiful Bachri meninggal dunia Kamis (24/10), sekitar pukul 23.30 WIB, pada usia 62 tahun.  Dikebumikan di kampung halamannya di Kacang, Solok, Jumat (25/10). Kabar itu, tentu sangat mengejutkan. Saya mengingat peristiwa beberapa hari sebelumnya, tampaknya da Pul masih sehat-sehat saja.
Inmemorial Sjaiful Bachri, Wartawan Olahraga Senior Sumbar:
Totalitasnya pada Olahraga tak Diragukan!


Pagi, lah minum tu? Ambo alah..
Terkadang, kalimat tersebut dibarengi dengan sedikit penjelasan. Di antaranya; Pagi, lah minum tu? Ambo alah, jo teh manis se. Atau, Pagi, lah minum tu? Ambo alah, lontong gulai paku di Simpangharu. Tapi, yang pasti, apa pun penjelasannya, pertanyaan awalnya tetap sama; Pagi, lah minum tu?


Oleh: Firdaus


Pertanyaan itu diajukan pemilik akunnya, Sjaiful Bachri, setiap pagi. Tapi terhitung Jumat (25/10) pagi, sapaan itu tak ada lagi untuk hari-hari mendatang.
“Ka jadi kawan sambia minum pagi mah..” jawab Sjaiful Bachri, ketika perihal status setiap pagi itu saya tanyakan padanya, saat saya dan uda Pul ---demikian saya biasa memanggilnya--- bertemu di Sekretariat KONI Sumbar, Senin (21/10) lalu.
Pertemuan tersebut rupanya pertemuan terakhir saya dengannya. Pada pertemuan tersebut ada tokoh-tokoh olahraga Sumbar; Zainal Kasim, Sartusa Ibrahim dan Azwar Akip. Pertemuan menjelang siang itu memunculkan diskusi perihal olahraga, terutama terkait dengan prestasi Timnas U-19.
Kabar Sjaiful Bachri berpulang ke rahmatullah, saya terima melalui sebuah grup Blackberry, Jumat pagi. Uda Sjaiful Bachri meninggal dunia Kamis (24/10), sekitar pukul 23.30 WIB, pada usia 62 tahun.  Dikebumikan di kampung halamannya di Kacang, Solok, Jumat (25/10). Kabar itu, tentu sangat mengejutkan. Saya mengingat peristiwa beberapa hari sebelumnya, tampaknya da Pul masih sehat-sehat saja.
Bagi wartawan olahraga di Sumbar, Sjaiful Bachri adalah adalah panutan. Ia sangat mencintai dunianya sebagai wartawan olahraga. Sjaiful Bachri memulai karirnya jurnalistiknya sebagai wartawan olahraga.  Bidang liputan olahraga ternyata sangat memikat hatinya, hingga akhir hayatnya ia tetap setia pada liputan olahraga.
Selama menjadi wartawan dan redaktur olahraga di Harian Haluan, lakek tangan Sjaiful Bachri menjadi “momok” dan sekaligus panutan bagi para wartawan olahraga di berbagai media di Sumbar lainnya, sebab, ia mampu mengelola halaman olahraga Haluan menjadi lebih berwarna dengan sajian-sajian berita olahraga yang nyaris tidak didapatkan media lain. Terutama olahraga yang terjadi di daerah.
Jika ada ivent olahraga tingkat lokal, maka pemberitaan secara berkesinambungan, setiap hari, lengkap dengan data, grafik atau pun klasemennya, akan disuguhkan kepada pembaca, sehingga pembaca dengan sangat mudah memahami dan mengikuti perkembangan ivent tersebut.
Hebatnya, sekali pun ia sudah tergolong sebagai wartawan olahraga senior di Sumbar, namun ia tak pernah membeda-bedakan liputan olahraga. Ia juga mau meliput dan memberikan porsi untuk pemberitaan olahraga dari kampung ke kampug.
Ketika saya menjadi redaktur olahraga di Harian Pagi Padang Ekspres, apa yang dikerjakan uda Sjaiful Bachri menjadi patokan dasar. Target tim kami, harus menggalahkan hasil kerja beliau, walau pada beberapa liputan, kami kecolongan juga.
Melawan hasil kerja Sjaiful Bachri, menurut Nofi Sastra  ---wartawan Tabloid BOLA yang pernah menjadi Sekretaris SIWO PWI Sumbar----  harus dilakukan secara ekstra. Hal ini, kata Nofi, Sjaiful Bachri bekerja dengan energi yang luar biasa. Ia sangat kuat, tahan dan sangat sabar. Bukti dari kerja kerasnya, ia tak hanya sekadar mampu mengelola halaman olahraga setiap hari, tetapi juga mampu menulis berita olahraga dalam jumlah yang sangat banyak setiap hari. Kualitasnya pun tak perlu diragukan.
Sikapnya yang tenang dan sabar pernah saya rasakan secara langsung. Ketika meliput PON XV di Jawa Timur, tahun 2000, suasana di sekretariat kontingen PON Sumbar terjadi keributan antara pimpinan kontingen dengan wartawan asal Sumbar. Ketika situasi memanas, Sjaiful Bachri mampu meredam ketegangan dengan cara yang sangat elegan.
“Kondisi wak lah parah, jan dipaparah juo lai. Mambana ambo. Ambo nan mambana-a,” kata da Pul, ketika itu.
Ada pun pernyataan Sjaiful Bachri yang menyebutkan, kondisi awak alah parah (kondisi kontingen Sumbar sangat parah, kacau dan hancur-hancuran,--pen), karena ketika itu Sumbar tak membawa pulang sekeping medali emas pun. Malahan berada di peringkat pincik dari 26 provinsi, setelah Timor Timur lepas dari Indonesia.
Kecintaan alumni Fakultas Ekonomi Unand ini kepada olahraga tidak hanya ditunjukkannya dalam konteks meliput dan menulis berita olahraga. Ia terjun langsung ke dunia olahraga, yang oleh sebagian orang disebut sebagai dunia para “orang-orang gila” tersebut. Sjaiful Bachri tak hanya sekadar menjadi pengurus di sejumlah cabang olahraga, tetapi ia juga menjadi Ketua Umum Pengprov Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PMTSI) Sumbar. Hasilnya melahirkan petenis meja Nasional asal Sumbar, Riri Syahrani. Riri lahir dimasa kepengurusan yang dipimpinnya.
Ketika masa kepengurusannya berakhir, Sjaiful Bahri menolak untuk dicalonkan lagi. ketika periode setelah kepemimpinnya berakhir, ia pun kemudian  dinobatkan lagi menjadi Ketua Umum Pengprov PTMSI Sumbar secara aklamasi.
Pada banyak kesempatan, ia tak senantiasa berbagi dengan wartawan olahraga lainnya. Ia berbagi kepada para yuniornya tidak pernah memposisikan kalau mereka itu adalah para yuniornya, ia memposisikan semua yuniornya sebagai teman dan sahabat. Ia selalu mengingatkan, wartawan olahraga memiliki peran besar yang sangat besar terhadap baik atau buruknya pembinaan dan perkembangan olahraga.
Hanya saja, guru, senior dan sahabat yang senantiasa mengayomi itu telah pergi. Telah berpulang dan kembali kepada sang khalik. Tak ada lagi sapaan ramah dan nasehat-nasehat darinya. Yang tertinggal hanya kenangan dan pelajaran yang pernah diberikannya.
Selamat jalan, da Pul.*


 

25 October 2013

Berpulangnya Guru Rang Pasaman

Inmemoriam Hj Hasniar Rudolf:


Hanya dalam hitungan menit, kabar berpulangnya ke rahmatullah; Hj Hasniar Rudolf, menjalar sangat cepat. Tiba-tiba saja, rumah berpekarangan luas, di jalur utama Bukittinggi – Pasaman, persisnya di kawasan Kaluai, Kenagarian Tanjuangbaringin, Kecamatan Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman, dipadati para pelayat. 

Oleh: Firdaus – Lubuksikaping, Pasaman

Para pelayat sudah langsung menuju rumah yang tertata rapi dan bersih tersebut, sementara pihak keluarga masih mengurus proses untuk membawa pulang jenazah dari RSUD Lubuksikaping, di Lubuksikaping, Pasaman.
Sekitar satu jam berselang, jenazah dibawa pulang oleh keluarga.  Di rumah duka sudah dipadati pelayat untuk memberikan doa dan sekaligus penghormatan terakhir untuk almarhumah. Rang Pasaman berduka disaat gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang menyambut Idul Adha.
Rasa kehilangan tersebut, tidaklah berlebihan. Bukan semata-mata karena salah seorang anaknya, Benny Utama, menjadi Bupati Pasaman saat ini. Bukan karena itu, tapi dikarenakan, dimasa hidupnya, Hj Hasniar Rudolf, adalah gurunya rang Pasaman.
Inmemoriam Hj Hasniar Rudolf:
Berpulangnya Guru Rang Pasaman


Hanya dalam hitungan menit, kabar berpulangnya ke rahmatullah; Hj Hasniar Rudolf, menjalar sangat cepat. Tiba-tiba saja, rumah berpekarangan luas, di jalur utama Bukittinggi – Pasaman, persisnya di kawasan Kaluai, Kenagarian Tanjuangbaringin, Kecamatan Lubuksikaping, Kabupaten Pasaman, dipadati para pelayat.

Oleh: Firdaus – Lubuksikaping, Pasaman

Para pelayat sudah langsung menuju rumah yang tertata rapi dan bersih tersebut, sementara pihak keluarga masih mengurus proses untuk membawa pulang jenazah dari RSUD Lubuksikaping, di Lubuksikaping, Pasaman.
Sekitar satu jam berselang, jenazah dibawa pulang oleh keluarga.  Di rumah duka sudah dipadati pelayat untuk memberikan doa dan sekaligus penghormatan terakhir untuk almarhumah. Rang Pasaman berduka disaat gema takbir, tahmid dan tahlil berkumandang menyambut Idul Adha.
Rasa kehilangan tersebut, tidaklah berlebihan. Bukan semata-mata karena salah seorang anaknya, Benny Utama, menjadi Bupati Pasaman saat ini. Bukan karena itu, tapi dikarenakan, dimasa hidupnya, Hj Hasniar  Rudolf, adalah gurunya rang Pasaman.
Predikat gurunya rang Pasaman, tidaklah berlebihan. Semasa hidupnya, Hj Hasniar Rudolf mengabdikan diri sepenuhnya untuk pendidikan di Kabupaten Pasaman. Hampir seluruh PNS di Pemkab Pasaman sekarang adalah bekas anak muridnya. Selain itu, ribuan muridnya tersebar di seluruh pelosok negeri ini.
Hasniar lahir di Lubuksikaping, 23 Agustus 1934. Pendidikan guru diperolehnya ketika mengikuti pendidikan di SGA Padangpanjang, tahun 1951-1954, kemudian melanjutkan ke IKIP Jakarta, jurusan Geografi. Dua tahun selepas tamat IKIP Jakarta, Hasniar dimasa mudanya mengabdikan diri menjadi guru di SMPN 1 Cikini Jakarta selama enam tahun.
Di tahun 1962, istri dari Rudolf Dahlan ini kembali ke kampung halamannya di Lubuksikaping. Ia kemudian mengabdikan dirinya di menjadi guru hingga pensiun di SMAN 1 Lubuksikaping, Pasaman. Artinya, sepanjang masa tugasnya sebagai guru, Hasniar hanya mengabdi di dua sekolah. Enam tahun di SMPN 1 Cikini, Jakarta, serta sisanya, selama 32 tahun di SMAN 1 Lubuksikaping, satu-satunya tempat pengabdian di kampung halaman. Selama 32 tahun tersebut, delapan tahun di antaranya; tahun 1986-1994, Hasniar dipercaya menjadi kepala sekolah dan tetap mengajar.
“Mak tuo sangat telaten dan dikenal memiliki disiplin yang sangat ketat,” jelas Hengky Octavia, anak dari saudara laki-laki Hj  Hasniar Rudolf, yang pernah menjadi siswa SMAN 1 Lubuksikaping, ketika Hj  Hasniar Rudolf menjadi kepala sekolah.
Pengakuan senada diungkapkan mantan murid-muridnya. Boleh dikata, tak ada siswa atau pun mantan siswa SMAN 1 Lubuksikaping yang pernah jumpa Hj  Hasniar Rudolf semasa masih di sekolah tersebut yang tak memiliki kesan tersendiri.
Selain terkenal  telaten dan sangat ketat menerapkan disiplin, ibu tiga orang anak tersebut juga tergolong rendah hati dan sangat dekat dengan siapa saja. Sekali pun sudah menjadi kepala sekolah, dan tergolong orang berada di kampung halamannya, namun kesehariannya tetap sederhana.
Kini, guru rang Pasaman yang rendah hati dan sederhana itu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan berjuta kenangan bagi keluarga dan mantan muridnya.*

22 October 2013

Semua Bisa Dikalahkan, Kecuali Tuhan!

Menapaki Piala Dunia U-20 di Selandia Baru, Tahun 2015:


Catatan: Firdaus



Ahai! Entah kenapa, tiba-tiba saya menjadi lebay. Dalam kurun waktu kurang dari satu bulan, dua kali saya menyaksikan sepakbola di tv, diiringi perasaan harubiru. Mata berkaca-kaca. Ada butiran bening, panas, menggantung di sudut kedua mata. Lalu jatuh berderai. Ah, lebay!

http://dicas.guiamais.com.br/wp-content/uploads/2012/07/Bola-na-Rede.jpg
Saya mulai menyaksikan siaran langsung sepakbola di tv, sejak Piala Dunia di Spanyol, tahun 1982. Ketika itu, saya masih duduk di bangku SD. Menonton di tv tetangga.  Siaran langsung, siaran tunda, dan highlight-nya ditayangkan TVRI. Saya terpesona pada penampilan Paolo Rosi dan Dino Zoff.
Sejak masa itu hingga kini, baru dua kali saya merasakan keharuan yang mendalam.   Peristiwa itu, terjadi dalam waktu hampir berdekatan. Kejadian pertama, sepanjang partai Indonesia vs Vietnam, di babak final Piala AFF. Ada kebanggaan yang tiada terkira pada perjuangan Evan Dimas dkk. Bagi saya, penampilan mereka merupakan penampilan terbaik Timnas Indonesia (kategori apa pun) yang pernah saya lihat.
Ada perasaan senang, ternyata Timnas Indonesia sudah bisa bermain bola secara benar. Persoalan elementer selama ini; kontrol yang kurang cermat, passing yang tak jelas arah, kerjasama yang tak maksimal, emosional dan egois, tak lagi menonjol. 
Kebanggaan itu kemudian menjadi keharuan yang tiada terkira, setelah tendangan pinalti Iham Udin Armain, berhasil memperdaya penjaga gawang Vietnam.  Butiran bening  di sudut mata itu kemudian jatuh tanpa disadari.

13 October 2013

Pak Ogah

Oleh: Firdaus

Mendengar orang menyebut namanya, maka yang terbayang adalah sosok unik di film boneka Si Unyil, yang sangat populer di tahun 1980-an.
Dikatakan unik, lantaran karakternya pada film yang ditayangkan setiap Minggu pagi itu sangat khas. Kepalanya plontos. Mangkalnya di pos ronda yang selalu dilewati banyak orang. Setiap orang yang minta tolong padanya selalu dimintai uang.
"Cepek dulu..." pintanya dengan intonasi yang terasa didendangkan.
Saking melekatnya karakternya, sejak itu ada dua persamaannya yang kemudian dilekatkan pada sosoknya.
Orang yang plontos dipanggil dengan panggilan Pak Ogah. Orang yang membantu proses kelancaran lalu-lintas, juga disebut sebagai Pak Ogah.
Pak Ogah yang satu ini beda. Saya mengenalnya secara tak sengaja. Ketika itu saya berkunjung ke salah satu kabupaten di Sumbar.

07 October 2013

Mahasiswa Butuh Kemampuan Jurnalistik

*Pelatihan Jurnalistik bagi Mahasiswa PTS se Sumbar, Jambi


Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X, Prof Damsar mengingatkan, aktivitas jurnalistik memiliki banyak persamaan dengan aktivitas akademi. Menguasai ilmu jurnalistik, maka dengan sendirinya bisa memperkuat ilmu akademi yang ada di kampus.
“Dalam ilmu jurnalistik, ada idealisme pers yang meliputi kejujuran, keberanian dan berpihak kepada kebenaran. Prinsip itu juga ada dan harus dimiliki kalangan akademi. Jika idealisme tersebut dimiliki mahasiswa, maka dengan sendirinya akan memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi mahasiswa menatap masa depan,” jelas Prof Damsar ketika membuka Pelatihan Jurnalistik bagi Mahasiswa PTS Sumbar – Jambi, di Bukittinggi, Kamis (3/10) lalu, diikuti 87 mahasiswa.

01 October 2013

“Malu Kami Membawa Tamu ke Padang…”

* Dialog Forum Editor (FEd) Sumbar


Membahas tentang Padang, hari ini, seakan membentang benang kusut. Tak pernah terselesaikan. Padang Kota Tercinta memiliki persoalan di sana-sini. Kusut-masai. Karut-marut.
Mau diurus dari mana? Semuanya serba masalah. Di sana ada masalah, di sini juga punya masalah. Masalah dimana-mana.

Firdaus – Padang

Banjir, misalnya. Persoalan banjir, ternyata bukan masalah kekinian. Dalam catatan Eko Alfares, pengamat Perkotaan, persoalan banjir di Kota Padang sudah terjadi sejak 400 tahun silam. Tak pernah terselesaikan.
Belakangan persoalannya semakin parah, sebab dasar-dasar hukum di Padang semakin tidak jelas. Dibanyak tempat tak ada lagi ruang yang bisa menerima resapan air ke datang. Semuanya terbendung di permukaan karena adanya penutupan permukaan tanah oleh bangunan atau landasan yang dicor dan sejenisnya.
“Jika ini dibiarkan, Padang akan terus mengalami banjir dan akan semakin lebih parah untuk masa-masa datang,” kata Eko Alfares, pada dialog Forum Editor (FEd) Sumbar, yang menghadirkan 10 pasangan Calon Walikota Padang serta pengamat, wartawan, akademisi dan praktisi, terkait persoalan infrastruktur dan sarana publik di Padang.

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...