31 January 2020

“Mengapa hanya Tiga Hari Saja, Ustad?”

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (5)



Jamaah Umroh Paragon dengan latar belakang Jabal Uhud


 

“Mengapa hanya tiga hari saja, ustad?” protes beberapa orang di antara kami.

Sang ustad, Muhammad Azzam, hanya menjawab dengan senyum. Tanpa perlu dijelaskannya, ia yakin semua jamaah umroh Paragonians, yang terdiri dari karyawan, keluarga dan wartawan, sudah tahu jawabnya.

Sari Nuryatini, Esa dan Rahmadan Syahril, tiga karyawan Paragon Technology and Innovation yang ditugaskan perusahaan untuk memimpin Kloter 14, tersenyum. 

“Insya Allah, suatu saat kelak kita bisa kembali ke sini,” kata Rahmadan Syahril.

“Protes” yang meluncur tersebut, sebenarnya bagian dari rasa terkejut karena Ustad Azzam dan Ustad Hakim mengabarkan, besok pagi, semua Jamaah Umroh Paragon sudah harus berada di lobi hotel, lalu secara berjamaah menuju makam Nabi Muhammad SAW.

“Kita ziarah wada’ ke makam Nabi Muhammad,” kata Ustad Hakim.

Semua paham. Ziarah wada’ menandakan bahwa rombongan Jamaah Umroh Paragon akan segera meninggalkan Madinah. Akan meninggalkan Masjid Nabawi. Meninggalkan makam Nabi Muhammad SAW yang bersebelahan dengan Makam Abu Bakar Siddiq dan Makam Umar Bin Khatab.

Aku menyimak semua yang dijelaskan Ustad Muhammad Azzam. Ustad yang mengelola pondok pesantren di Lombok, menceritakan kisah perjalanan Nabi Muhammad SAW. Ia mengisahkan beratnya perjuangan Nabi Muhammad SAW, termasuk hal-hal yang ada di sekitar kawasan Masjid Nabawi.

Di rumah Rasulullah yang kini menjadi makam, ada jendela menghadap ke Baqi. Baqi terletak di sebelah Tenggara rumah Nabi, atau  Tenggara dari Masjid Nabawi. Pemakaman Baqi dikenal dengan  Jannatul Baqi. Dalam sejarahnya,  Allah  perintahkan Nabi Muhammad  untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai  pekuburan kaum muslimin di Madinah. Luas pemakaman di Baqi 180.000 m2, kelilingnya dipagar tinggi.

Sahabat pertama dimakamkan di Baqi, Utsman bin Mazh’un Radhiallahu ‘anhu”. isteri-isteri Rasullah, anak-anak beliau, sahabat dan pejuang-pejuang Islam dimakamkan di Baqi. Di antara keutamaan pemakaman di Baqi, selain tempatnya atas perintah Allah kepada Nabi Muhammad, Rasullah juga berjanji untuk selalu menziarahi pemakaman tersebut.

“Siapa yang bisa meninggal di Madinah, silahkan meninggal di Madinah. Karena aku akan memberikan syafaat bagi orang yang meninggal di Madinah.” (HR. Turmudzi 3917, dishahihkan An-Nasai dalam Sunan al-Kubro (1/602) dan al-Albani).

Di sebelah jendela, ada pintu yang lebih besar. Pintu yang sekaligus berada di bagian belakang rumah tersebut menjadi tempat bagi malaikat Jibril untuk berkunjung menemui Baginda Rasulullah. Ada rasa berbeda mengalir dalam tubuh.

Ustad Hakim kemudian memimpin doa. Doa panjang disampaikan untuk Rasulullah, keluarga, sahabat dan pejuang-pejuang Islam. Lantunan doa menembus relung-relung kalbu. Hadirkan rasa rindu. Rindu pada Rasulullah. Rindu pada Baginda Rasul. Baru dua hari lalu berada di Madinah, kini sudah harus bersiap-siap untuk meninggalkan Kota Madinah. Baru beberapa kali saja berziarah di makam Baginda Rasul,  sekali di Baqi, sekali di Jabal Uhud, kini sudah harus berpisah.

“Sekarang, lanjutkan doa sendiri. Sampaikan semua isi hati,” kata Ustad Hakim seusai memimpin doa.

Satu persatu memperbaiki posisi. Ada yang bergerak agak menjauh. Ada yang tetap pada posisinya semula. Aku tak bergerak. Terus melanjutkan doa. Salah satu isi doa yang saya sampaikan; meminta dan bermohon agar  Allah memberikan kesempatan dan kemudahan padaku serta keluarga untuk  beribadah di Tanah Suci. Menunaikan ibadah haji dan umroh.

Dalam perjalanan menuju Masjid Bir Ali untuk Miqat sebelum umroh, sekitar 20 menit menggunakan bus dari Madinah, masih sangat segar dalam ingatanku perihal tiga hari di kota suci tersebut. Hari-hari  beribadah di Masjid Nabawi. Berburu waktu untuk bisa masuk ke Raudah. Alhamdulillah, semua jamaah dapat beribadah di Raudah. Ada di antaranya yang lebih dari sekali.

Ziarah ke Jabal Uhud juga tak kalah membuat ada rasa haru. Nabi Muhammad memimpin perang besar di Jabal Uhud. Jabal (Gunung) Uhud berjarak sekitar 5 KM dari Madinah. Tingginya sekitar  1.050 meter. Panjangnya 7 Km dan terdiri dari batu-batuan granit, marmer merah dan batu-batu mulia. Jabal Uhud tidak tersambung dengan gunung yang lain.

Ziarah ke Jabal Uhud tidak langsung datang ke sana, tetapi hanya melihat dari kejauhan, tepatnya Lembah Aqiq, tempat perang besar Perang Uhud. Di sana ada  Jabal Arrimah yang sekaligus ada Makam Syuhada Uhud. Saat Perang Uhud,  15 Syawal 3 Hijrah atau Maret 625 Masehi, 70 sahabat Nabi Muhammad dan pejuang Islam, gugur.  Termasuk paman Rasulullah,  Hamzah bin Abdul Mutholib. Mereka yang gugur dimakamkan di Makam Syuhada Uhud.

Perang Uhud jumlah pasukan tidak berimbang. Awalnya Rasulullah memimpin 1.000 orang, kaum musrikin Quraisy 3.000-an orang, namun ada di antara pasukan nabi tersebut yang mengundurkan diri, sehingga Rasulullah hanya memiliki 700 orang pasukan.

Dalam sejarahnya,  saat  perang tersebut, kaum muslimin sebenarnya telah mendapatkan kemenangan dan kaum musyrikin mundur. Tapi 50 pemanah yang ditempatkan di Jabal  Arrimah tergoda melihat barang-barang berharga yang ditinggalkan musuh, mereka turun dan mengabaikan perintah Nabi Muhammad, kecuali  Abdullah bin Jabir dan enam pemanah lainnya.

Alhasil, melihat situasi itu Khalid bin Walid (komandan Quraisy saat itu dan belum masuk Islam) memanfaatkan keadaan membawa pasukan berbelok dari arah belakang pasukan Islam dan pasukan kaum muslim mengalami kekalahan yang tidak sedikit.

Ziarah juga dilakukan ke rumah-rumah sahabat Nabi Muhammad yang sudah dijadikan masjid.  Termasuk ziarah ke  Masjid Qiblatain. Qiblatain berarti  dua kiblat.  Masjid ini mulanya  dikenal dengan nama Masjid Bani Salamah karena  dibangun di  bekas rumah Bani Salamah. Letaknya di tepi jalan menuju kampus Universitas Madinah di dekat Istana Raja ke jurusan Wadi Aqiq atau di atas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah.
DI awal Islam,  orang melakukan salat dengan kiblat ke arah Baitul Maqdis atau  Masjidil Aqsha) di  Palestina. Tahun ke 2 Hjijriah, Senin di bulan Rajab, saat Nabi Muhammad salat zuhur di Masjid Bani Salamah, saat itu beliau menghadap ke arah Masjidil Aqsa, tiba-tiba turun wahyu (Al Baqarah ayat 144) yang artinya; 
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”

Masjid Quba merupakan masjid pertama dibangun Rasulullah SAW, yakni pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi. Masjid ini sudah bisa digunakan dihari ketiga pembangunannya. Kini dapat menampung  hingga 20 ribu jamaah.

Masjid ini memiliki  tiga pintu utama dan 16 pintu. Tiga pintu utama berdaun pintu besar dan ini menjadi tempat masuk para jamaah ke dalam masjid. Dua pintu diperuntukkan untuk masuk para jamaah laki-laki sedangkan satu pintu lainnya sebagai pintu masuk jamaah perempuan. Diseberang ruang utama masjid, terdapat ruangan yang dijadikan tempat belajar mengajar.

Di antara keutamaan beribadah di Masjid Quba, menurut Ustad Hakim, melaksanakan salat sunah di sini, ibadahnya sama dengan melaksanakan sekali umroh.

“Kita sudah sampai di Masjid Bir Ali, saatnya mempersiapkan diri untuk Miqat,” kata Ustad Hakim.

"Labbaik allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk. La syarika lak.

 “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sungguh, segala puji, nikmat, dan segala kekuasaan adalah milik-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu.”

Waktu berlalu terasa sangat singkat! *

30 January 2020

Berpacu Menuju Raudah


Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (4)







Perjalanan Jakarta – Madinah menggunakan penerbangan Garuda Indonesia, GA 960, berlangsung tenang. Sesekali terasa ada guncangan. Aku dapat seat 41 C. Di sebelah kiriku Aziz. Di kirinya, Risnanda. Keduanya kukenal di dua tempat berbeda.

Aziz merupakan karyawan Paragon Technology and Innovation yang sehari-hari bertugas di Cirebon. Aku mengenalnya di Bandara Soeta – Tanggerang, disaat semua rombongan calon jamaah umroh berkumpul.

Ketika itu, ada banyak orang menggunakan seragam sewarna dengan kemaja batik yang aku gunakan. Seragam bermerek NRA (Nur Rima Al-Waali), biro perjalanan yang akan menggantarkan kami ke Tanah Suci. Kendati berseragam sama, namun aku menghitung, terlihat nyata ada lima kelompok. Aku harus di mana?

Aku perhatikan secara seksama.

“Kita ke sana,” ajak  Ira Anzaina Putri (Human Capital Executive Paragon Technology), yang biasa aku sapa Mbak Ira, sebelum sempat aku menentukan kepastian kelompok mana yang harus didatangi.

“Ya,” balasku. Junus dan Juhri mengiyakan.

Ada perbedaan penampilan kelompok yang hendak kami tuju dibandingkan empat yang lain. Kami menuju kelompok jamaah yang menggunakan scarf berwarna biru, bermerek Jamaah Umroh Paragon.  Scarf yang sama juga melingkar di leherku dan Junus serta Juhri.

Aku mengenal Risnanda di Wisma Haji dan Umroh milik NRA, Jl. Mampang Prapatan Raya No 74E Tegal Parang - Jakarta Selatan.  Ketika hendak salat Magrib, aku turun ke musala wisma. Ketika itu, ada Risnanda bersama isterinya dan Eggy Erizal bersama isteri. Kami berjamaah. Risnanda yang jadi imam.

Perjalanan kami selingi dengan bicara panjang lebar, khususnya seputar ibadah umroh. Ada kalanya kami juga asyik sendiri-sendiri dengan tayangan di depan kursi masing-masing. Aku menikmati sajian salawat penyejuk jiwa melalui fasilitas tayangan di pesawat. Menggunakan Headphone yang disediakan.

Sampai di Madinah, setelah mengambil koper kecil, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Al-Haram.

“Nanti keluar dari hotel, lurus saja. Kita akan jumpai pintu dua puluh enam, nah itu panduannya,” kata Ustad Hakim, pembimbing ibadah yang disediakan untuk kami. Ustad Hakim sudah enam tahun menetap dan kuliah di Makkah.

Biro perjalanan NRA menyediakan dua orang ustad untuk membimbing dan mendampingi Jamaah Umroh Paragon. Selain Ustad Hakim, juga ada Ustad Muhammad Azzam yang berangkat bersama jamaah, Jakarta – Madinah – Makkah – Jeddah – Jakarta. Ustad Hakim menjemput ke Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, mendamping selama di Tanah Suci hingga ke Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.

Informasi Ustad Hakim semakin membuat semangat jamaah umroh Paragon bersemangat. Setelah turun dari bus, dalam perjalanan masuk ke lobi hotel, sebuah suara membelah keheningan malam.

“Jam dua nanti, kita ke masjid,” ajak suara itu Informasi Ustad Hakim semakin membuat semangat jamaah umroh Paragon bersemangat. Setelah turun dari bus, dalam perjalanan masuk ke lobi hotel, sebuah suara membelah keheningan malam.

“Jam dua nanti, kita ke masjid,” ajak suara itu. Entah siapa yang memulai, tak ada yang tahu, tetapi semua menjawab setuju. Ketika itu, pukul 00.15 waktu Madinah.

Benar saja. Kamis, 16 Januari 2020, pukul dua, semua sudah berada di lobi hotel. Setelah cukup, langkah pun dilangkahkan menuju Masjid Nabawi. Dingin. Menggigil. Angin berhembus sangat kencang. Suhu dinihari, 8 derajat celsius.

Aku bersama Paragonians (sebutan untuk karyawan Paragon dan keluarga besar Paragon) bergerak menuju  pintu 26 Masjid Nabawi.  Bismillahirahmanirrahim. Langkah pun dilangkahkan. Suhu dingin terasa menusuk tulang.

Di dalam masjid, jamaah lain sudah ramai, mengisi syaf-syaf demi syaf. Saya dan tujuh teman lainnya,  bergegas menuju syaf terdepan. Tujuannya, Raudah (Taman Sorga), yang terletak antara mimbar Rasulullah dengan kediamannya.

Dalam risalah disebutkan, Raudah merupakan salah satu tempat paling mustajab dalam doa. Dua jamaah mendapatkan kesempatan masuk ke Raudah. Lainnya berada syaf lain. Raudah merupakan salah satu tempat utama jamaah.  Diriwayatkan Abdullan bin Zaid al-Maziini RA, Nabi SAW bersabda, Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga. Kemulian ini membuat jemaah selalu mengincar tempat ini untuk melaksanakan  salat wajib dan sunah.

Raudah tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 22 x 15 meter. Terbentang dari mimbar yang dulunya dipakai Nabi Muhammad hingga sebelah rumah beliau. Kini, Raudah menjadi bagian dari Masjid Nabawi yang memiliki 232 tiang. Awalnya, masjid ini memiliki enam tiang. Tiang-tiang Masjid Nabawi, pada mulanya tiang tersebut berasal dari pohon kurma.

Sesampai di bagian utama Masjid Nabawi, khususnya di pintu 2, 3 dan 4, aku melihat orang berlarian. Aku tertegun, lalu ikut berlari ke arah orang berlari tersebut. Aku yakin, petugas telah membuka sekat untuk masuk ke Raudah. Impian untuk bisa beribadah di Raudah membuncah dalam diri kami.

“Haji.., haji.., haji..,” teriak petugas sembari menunjuk-nunjuk.

Aku melihat kepadanya. Tunjuknya di antaranya ditujukan juga padaku, pada jamaah lainnya. Ia kemudian merentangkan tangan, pertanda tak boleh melewati batas yang diberikannya. Jamaah lain berdiri terpaku. Aku juga. Tak lama di antaranya, ia kemudian memberikan tanda agar semua duduk.

Aku melihat ke kiri, mencari titik batas rumah Rasulullah yang kini sudah dijadikan komplek pemakaman beliau. Seorang lelaki di sebelah kananku juga terlihat mengamati hal yang mirip denganku.

“Kita di luar Raudah,” katanya. Aku mengangguk.

Posisiku ketika itu, dua shaf di belakang shaf terakhir Raudah. Tak bisa masuk menembus Raudah, akhirnya aku kuatkan diri untuk tetap berada di syaf tersebut, lalu mencari celah untuk bisa masuk. Minimal, selepas salat Subuh. Eh, belum selesai salat Subuh, wilayah Raudah sudah ditutup kembali.

Hari pertama ke Masjid Nawabi tersebut, ternyata hanya dua di antara delapan jamaah pria rombonganku yang berhasil masuk ke Raudah dinihari tersebut. Ia berkesempatan beribadah di Raudah hingga lepas Subuh.

Selepas Subuh, aku akhirnya mengikuti alur jamaah yang berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW melalui pintu di depan syaf terdepan Masjid Nabawi. *

29 January 2020

Bukan Hanya untuk Kita

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (3)

 


"Isteri saya diumrohkan Paragon. Saya juga diberi kesempatan," kata Eggy Erizal, teman sekamarku  di Wisma Haji dan Umroh Jakarta.  
Kami berkenalan setelah sekamar. Aku berangkat dari Padang, sedangkan Erizal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Erizal bercerita, isterinya merupakan karyawan Paragon Technology and Innovation,  perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Salah satu produknya yang terkenal merek Wardah. Ketika dikabari bahwa isterinya diberangkatkan umroh oleh perusahaan, dirinya terkejut. Ia tak pernah menduga memperoleh kesempatan tersebut.
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berangkat bersama,” katanya.
Sang isteri, Erna, bekerja di Paragon untuk wilayah kerja Tasikmalaya. Ia sudah tujuh tahun menjadi karyawan perusahaan yang terus tumbuh tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur yang tiada terkira ketika dikabarkan memperoleh kesempatan program khusus; Umroh Gratis Paragon. 
Ira Anzaina Putri, Human Capital Executive Paragon Technology and Innovation, yang sehari-hari saya sapa Mbak Ira, menyebutkan, umroh gratis  tersebut sebagai  apresiasi manajemen terhadap komitmen dan loyalitas karyawan pada perusahaan.
“Semua karyawan memiliki hak dan kesempatan yang sama,” katanya.
Tak ada batasan, selain masa kerja, “jika sudah bekerja tujuh tahun, maka perusahaan akan memberangkatkan mereka untuk umroh,” katanya.


Mbak Ira belum dapat. Katanya, ia harus menunggu empat tahun lagi, “saya baru tiga tahun bekerja di Paragon,” katanya.
Lain Mbak Ira, lain pula Pak Manan, lelaki yang menjemput aku, Junus (Wartawan Koran Jakarta) dan Juhri (SCTV Ambon) ke penginapan, ketika menanyakan perihal lelaki ramah yang menjemput kami tersebut.
Katanya, ia dulu karyawan Paragon. Sudah pensiun. Belakangan, ia ternyata masih diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bedanya, status tidak seperti karyawan lagi. Kendati demikian, Pak Manan mengaku sangat senang karena kendati sudah pensiun, namun tenaganya masih digunakan di perusahan yang telah mengantarkannya ke Tanah Suci.
"Saya Alhamdulillah berangkat bersama Bu Nur, saat pertama program Umroh Gratis ini ada," kata Pak Manan.
Bu Nur yang dimaksud adalah Ibu Nurhayati Subakat, pendiri dan pemilik Paragon Technology and Innovation. Perusahaan yang didirikannya pada 1985,  awalnya hanya memiliki dua karyawan. Sekarang pegawainya sudah lebih dari 12 ribu orang.
Pak Manan bercerita, ia  bekerja sekitar 15 tahun di Paragon. Di tahun 2017, saat Angkatan I Umroh Gratis untuk karyawan tersebut, ia termasuk salah satu di antaranya. Ia tak pernah membayangkan memperoleh kesempatan yang luar biasa.
"Saya tak pernah membayangkan bisa umroh ke Tanah Suci," tambahnya.
 Program umroh gratis untuk  karyawan Paragon berlangsung sejak 2017. Tahun pertama, diberangkatkan 500 orang,  tahun kedua 600 orang, dan tahun ketiga 700 orang. Setiap tahun rata-rata dibagi dalam 16 kloter.
"Apa yang kita dapat, bukan hanya untuk kita. Ada hak orang lain yang harus diberikan," kata Nurhayati Subangkit, ketika aku, Junus  dan Juhri diundang khusus ke pabrik Paragon Technology and Innovation, sebelum ke Bandara Soekarno Hatta untuk selanjutnya terbang ke Madinah.
Perempuan asal Padang Panjang, Sumbar itu kemudian membeberkan fakta tentang perusahaan yang kini dikelolanya bersama anak-anaknya. Nurhayati menanamkan prinsip agar peduli kepada karyawan dan selalu ingat kepada orang lain. Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan perusahaannya.
Pascakebakaran yang pernah menghancurkan usahanya tahun 1990, Nurhayati bangkit untuk mengembangkan usaha, sehingga kini terus berkembang pesat serta sudah masuk ke Malaysia serta Singapura.
Sekitar 90 persen dari karyawannya yang berjumlah lebih dari 12 ribu orang adalah generasi milenial. Paragon memiliki lahan untuk pabrik dan kantor seluas 20 Ha. Semua karyawan diberi ruang untuk berekspresi sesuai tuntutan dan kebutuhan pasar.
Nama Paragon Technology and Innovation didapatkan dari diskusi panjang dengan karyawan. Semula perusahaan ini bernama Pusaka Tradisi Ibu.
"Ada mitra dari luar negeri meminta kami untuk mempertimbangkan mengganti nama perusahaan," kata Nurhayati, mengenang sembari menyebutkan, Paragon berarti permata yang indah.
Ada lagi cerita menarik dari Mbak Ira dan Mbak Ria yang mendampingi kami keliling pabrik, ketika ada standing banner yang berisi enam nilai-nilai perusahaan.
"Ini justru Paragonians yang merumuskan," kata Mbak Ira.
Paragonians merupakan sebutan gaul untuk karyawan dan orang-orang yang mencintai Paragon Technology and Innovation.
Rumusan Nilai-nilai Perusahaan, tambahnya, merupakan cerminan keseharian di Paragon Technology and Innovation yang memiliki lebih dari 1.000 item produk.*


Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...