20 August 2019

“Kupertahankan Adat dan Tradisi Sampai Mati...”

Waerebo – NTT, Leluhurnya dari Minangkabau:



Sebuah kampung di tanah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Namanya, Waerebo. Kampung kecil,  tersuruk, diapit tiga perbukitan terjal,  kini menjelma menjadi salah satu daerah paling populer di NTT. Namanya mencuat hingga mancanegara. Kendati begitu, kecintaan dan penghormatannya kepada leluhur, adat dan tradisi tak bisa ditawar.

Oleh: Firdaus  -- Manggarai, NTT

Waerebo dulunya berada di Kabupaten Manggarai. Ketika pemekaran,  Kabupaten Manggarai menjadi tiga. Kabupaten Manggarai Barat, Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Manggarai Tengah. Waerebo berada di Kabupaten Manggarai Tengah. Ibukotanya, Ruteng.

Pusat Kampung Waerebo. Memiliki tujuh rumah adat berbentuk kerucut meruncing ke atas.
Mencapai Waerebo harus melalui perjalanan panjang dan berliku. Butuh waktu sekitar tiga hingga empat jam dari Bandara Komodo di Labuanbajo melintasi Lembor – Borik hingga Dintor. Rute lain, Bandara Komodo di Labuanbajo – Ruteng – hingga Dintor. Dua rute perjalanan ini, sama parahnya. Jalurnya buruk. Jalannya rusak. Perjalanan tepat berada di pinggang perbukitan yang langsung berhadapan dengan bibir laut selatan Flores.
Sesampai di Dintor yang berada di ketinggian sekitar 2 mdpl, perjalanan dilanjutkan ke Kampung Denge di ketinggian 500-an mdpl. Jika datang dari arah Borik harus belok kiri. Jika dari Ruteng, belok ke kanan. Butuh waktu sekitar 45 menit jika mengendarai mobil agar sampai ke daerah tertinggi yang bisa dicapai kendaraan bermotor.
“Kita harus berjalan kaki,” kata Blasius Monta, tokoh masyarakat Waerebo, yang sehari-hari menjadi guru di SDK Denge, ketika menerima penulis di Denge.
Denge merupakan kampung terakhir sebelum naik ke Waerebo. Masyarakat Waerebo sudah ada yang bermukim di Denge, tapi sebagian besar ada di Kampung Kombo. Di tahun 1980-an, warga Denge menghibahkan tanah, sawah, ladang dan kebun untuk orang Waerebo yang mau turun. Kawasan yang dihibahkan tersebut kemudian diberi nama Kampung Kombo.
Butuh fisik dan stamina prima untuk mencapai Waerebo di ketinggian sekitar  1.270 Mdpl. Perbukitan yang dijelajahi memiliki kemiringan yang berat. Jika diukur rute yang dilalui, diperkirakan hanya sekitar 5 KM, tapi butuh waktu hampir empat jam berjalan kaki. Kawasan tertinggi sebelum sampai di Waerebo mencapai ketinggian sekitar 1.600 mdpl, lalu harus menuruni lembah perbukitan Goloponto, Golomehe dan Pontonao.
Memasuki Waerebo ada  aturannya.  Setiap pengunjung harus membunyikan alat tabuh yang disediakan di Rumah Kasih Ibu, sebagai penanda datangnya tamu. Setelah itu, wajib  ke rumah adat yang disebut Rumah Gendang untuk melakukan upacara adat penghormatan kepada leluhur (Waelu’u).
Pendakian ke Waerebo. Pendakian yang menantang dan melelahkan.

Setiap orang baru yang masuk ke kampung tersebut, harus disambut secara adat. Prosesi penyambutan secara adat hanya boleh dilakukan saat matahari masih ada, atau pada rentang pukul tujuh pagi hingga enam sore. Jika di luar jadwal tersebut, boleh saja masuk ke desa adat tersebut, namun tidak akan disambut secara adat. Bagi yang tidak disambut secara adat, tidak diperkenankan melakukan aktivitas di kampung tersebut. Mereka harus segera masuk  Rumah Gendang.
Masyarakat setempat memiliki keyakinan, setiap tamu adalah orang yang wajib dihormati dan dilindungi. Prosesi penyambutan secara adat adalah wujud nyata menghormati tamu. Inti dari penyambutan secara adat, meminta kepada leluhurnya agar turut memelihara dan menjaga tamu tersebut. Jika sudah disambut secara adat, lalu ada masalah pada tamunya,  maka masyarakat setempat wajib membantu dan menyelamatkan tamu tersebut.
“Jika ada yang belum diterima secara adat, jika  mereka ada masalah, secara adat kami tidak bisa membantunya,” kata Blasiun Monta.
 
Patris (paling kiri), Along (tengah) menerima rombongan dari Minangkabau. Keduanya bersemangat mengisahkan tentang leluhurnya dan komitmen mereka dalam menjaga dan mempertahankan adat dan tradisi.

 Di pusat kampung Waerebo ada tujuh rumah adat. Setiap rumah adat memiliki fungsi berbeda. Rumah terbesar atau rumah utama, disebut Rumah Gendang. Rumah adatnya berbentuk kerucut meruncing ke atas. Di bagian bawahnya berbentuk lingkaran. Ukuran lingkarannya bergaris tengah 15 meter. Enam rumah lainnya,  bergaris tengah 11 sampai 13 meter.

Di pintu masuk Rumah Gendang ada tanduk kerbau. Rumah Gendang dipergunakan untuk kegiatan adat. Seluruh acara adat dilaksanakan di sana. Satu rumah digunakan untuk istirahat dan bermalam para tamu. Rumah ini tanpa kamar. Lima rumah lainnya dipakai bersama. Ada delapan kamar, dihuni  delapan kepala keluarga dari perwakilan delapan cabang keturunan (semacam suku). Sisanya, masyarakat  membuat rumah di sekitar tujuh rumah adat,  tapi tidak boleh mendirikan bangunan di depan Rumah Gendang.    
Rumah adat berbentuk kerucut meruncing ke atas tersebut merupakan rumah kandang. Terdiri dari lima tingkat. Setiap tingkatan memiliki fungsi berbeda. Tingkatan pertama dijadikan untuk tempat tinggal dan beraktivitas. Kedua, menyimpan bahan makanan seperti  beras, jagung, sayuran dan kebutuhan sehari-hari. Tingkat ketiga untuk menyimpan bahan makanan sebagai stok pangan. Tingkatan berikutnya,  menyimpan bibit tanaman untuk ditanam pada masa tanam. Tingkat kelima, atau paling tinggi, digunakan untuk menyimpan  benda atau barang-barang keperluan adat yang digunakan pada waktu tertentu saja, misalnya untuk upacara adat kelahiran, menikah, kematian atau  upacara Penti.
Bagi masyarakat Waerebo, mendirikan rumah adat adalah bagian yang sangat berat dalam kehidupan mereka. Atap rumah adat terdiri dari alang-alang dan ijuk. Kerangkanya dari bambu, rotan pilihan. Menggunakan kayu hutan terbaik, mereka menyebutnya kayu borok. Merupakan kayu paling keras di tengah hutan belantara. Pembangunannya tanpa paku.
Persoalan paling beratnya, kayu hutan yang dipotong tak boleh menyentuh tanah saat menebangnya. Tak boleh kena tanah saat mengangkatnya, tak boleh terkena tanah saat memasangnya. Semua prosesnya juga harus dilakukan sambil menyanyi, menari dan memotong puluhan ternak.


Nenek Moyang dari Minangkabau

Masyarakat Waerebo meyakini secara turun temurun, leluhurnya berasal dari Minangkabau. Terlihat raut antusias masyarakat setempat, ketika rombongan kami memperkenalkan diri sebagai orang Minangkabau. Mereka langsung memeluk erat rombongan.
Cerita turun temurun yang dikisahkan kembali oleh Blasius Monta (53 th), diperkirakan 600 tahun silam, atau tahun 1400-an Masehi,  orang pertama menetap di Waerebo bernama Maro. Ia bersuku bangsa Minangkabau. Konon ia kehabisan bekal dalam pelayaran di wilayah laut selatan Flores, lalu melihat ada asap di daratan. Ia kemudian merapat ke daratan dan menelusuri asal asap yang terlihat.
Asap itu berasal dari sebuah perkampungan. Namanya Todo. Maro dan saudaranya menetap di Todo, lalu menikah dengan perempuan setempat. Suatu ketika, terjadi perselisihan antara Maro dan saudaranya. Maro akhirnya memilih meninggalkan Todo. Ia berjalan menjauh dari Todo. Hidup berladang dan berburu, berpindah-pindah.
Ketika sampai di sebuah lembah tak berpenghuni, ia memutuskan untuk menetap di kawasan tersebut. Dalam mimpi, ia diperintahkan agar memberikan nama wilayah itu, Waerebo. Apa arti Waerebo? Tak ada yang tahu. Wae berarti air, dalam bahasa Manggarai. Tapi Waerebo tak ada arti sama sekali. Setidaknya, sampai hari ini. Masyarakat setempat tak tahu apa arti dari kata Waerebo tersebut.  Orang Waerebo bersuku Modo.
Waktu berganti, musim berubah. Selama menetap di tempat barunya, Maro tak pernah dapat gangguan sedikit pun. Usaha pertanian dan perburuannya berbuah hasil mengembirakan. Hubungan ke Todo tetap terjalin.
Sejak leluhur pertama orang Waerebo,  hingga kini sudah ada 21 generasi.  Generasi tertua yang masih hidup hingga sekarang, generasi ke 18. Saat ini berusia 99 tahun. Kondisinya sudah sangat lemah.
 
Blasius Monta, generasi ke-19 Waerebo
Blasius yang generasi ke-19 Waerebo mengisahkan, sebenarnya sampai tahun 1980-an, kehidupan masyarakat Waerebo dan Todo tetap berlangsung harmonis. Jika ada kegiatan sosial kemasyarakatan atau pun adat, kedua daerah tersebut saling membantu. Masyarakat Todo justru menyediakan sebuah kamar di salah satu rumah adatnya untuk saudara mereka dari Waerebo. Di pusat desa adat Todo, mulanya ada sembilan rumah adat. Di Waerebo, ada tujuh.
Ketika rumah adat di Todo lapuk dan hancur, sempat lama tidak diperbaiki, hingga  datang seorang pastor. Rumah adat dibangun kembali, tapi hanya tujuh. Tak dijelaskan  kenapa tujuh rumah adat. Di rumah yang baru dibangun tersebut, tak ada lagi kamar untuk orang Waerebo.
Tak terungkap apa agama awal orang Waerebo, tapi orang Waerebo meyakini diri bahwa mereka baru mengenal agama tahun 1912, ditandai dengan peringatan 100 tahun Gereja Katolik di sana, tahun 2012. Agama Katolik tersebut dibawa orang Portugis ke Todo dan selanjutnya masuk ke Waerebo. Tujuh tahun kemudian, baru mereka mengenal sekolah.
Saat penelusuran penulis di Waerebo, tak banyak peninggalan yang bisa dihubungkan dengan adat dan budaya leluhurnya, Minangkabau. Ada pun yang mirip, mungkin alat musik gendang Waerebo yang mirip Gandang Tasa. Di Minangkabau, Gandang Tasa menjadi alat musik dan permainan anak-anak nagari di daerah pesisir pantai.  Masyarakat Waerebo memiliki sulaman.  Mereka sebutnya Songke. Di Minangkabau, namanya Songket.
Jejak Minangkabau justru lebih banyak ditemukan di kampung Todo, desa Todo, Kec Satarmese Utara, Kab Manggarai Tengah. Segaris lurus dengan kampung Waerebo, di desa Satarlenda, Kec Satarmese Barat, Kab Manggarai Tengah.
Konon dikisahkan secara turun temurun, dari mulut ke mulut, seorang berasal dari Minangkabau, bernama Mashur, memperisteri perempuan di Todo. Pernikahan Mashur dan perempuan  itu melahirkan sejumlah anak, lalu keturunannya terus tumbuh dan berkembang. Keturunan Mashur dan isterinya kemudian membentuk kerajaan. Namanya Kerajaan Todo. Mashur dan isterinya kemudian diyakini sebagai leluhur orang Manggarai sekarang, namun siapa nama isteri dari Mashur dan dari mana ia berasal, tidak ada literatur yang menjelaskannya.
Cerita turun temurun, mulanya rumah adat di perkampungan Todo berbentuk Rumah Gadang, persis rumah adatnya rang Minangkabau. Diperkirakan tahun 1911, corak Rumah Gadang berubah menjadi rumah adat sekarang. Bercorak kerucut runcing ke atas, disebut Mbaru Niang Todo. Ada pun kesamaan yang saat ini bisa dilihat di perkampungan Todo dengan kebudayaan Minangkabau, di antaranya motif kain tenun atau sulaman, namanya pun mendekati sama. Orang Minangkabau menyebut Songket. Orang Todo dan Waerebo menyebut Songke. Kesamaan lain, batu kuburan dan ukiran di rumah adat dan tiang utama (di Minangkabau disebut Tonggak Tuo).
Selain itu, di Todo masih disimpan Al-Qur’an kuno. Usianya sudah sangat tua. Al-Qur’an tersebut ditulis dengan tulisan tangan di atas daun lontar. Tak mudah untuk melihatnya karena pemeliharaannya diperlakukan secara khusus lantaran sudah dimakan usia.
“Saya pernah melihatnya sekali,” kata M. Nur Madilau, salah seorang tokoh masyarakat kampung Dintor, keturunan Bugis, sembari menyebutkan, ia memperoleh kesempatan melihatnya ketika ada acara adat di Todo.
Perkembangan selanjutnya, anak cucu keturunan Mashur dengan isterinya asal Todo tersebut terus mencari wilayah lain. Mereka kemudian menyebar ke Bajawa dan Ruteng. Di Bajawa, mereka justru menganut sistem matrilinial. Berbeda di Waerebo dan Todo yang patrilineal.
Sejauh ini belum terungkap, apakah kehadiran Maro pertama kali ke Todo dimasa atau sesudah adanya Kerajaan Todo? Atau, apakah Mashur, sang raja Kerajaan Todo adalah adik dari Maro yang sama-sama berlayar dan lalu merapat ke daratan karena kehabisan bekal?
Belum ada literatur yang bisa menjawabnya. Tidak ada juga penjelasan turun temurun di masyarakat. Blasius Monta mengatakan, tak pernah ada informasi atau kisah tentang siapa nama adik dari Mora yang datang bersamanya ke Todo. Tak pernah pula diketahui apakah ada hubungan Mora dengan Mashur.

Pertahankan Adat dan Tradisi

Along, Lucky, dan Patris adalah tiga dari sejumlah anak muda Waerebo yang mengabdikan dirinya ke kampung halaman. Ketiganya generasi ke-20 Waerebo. Usia mereka belum 35 tahun, namun peran mereka untuk memuaskan keingintahuan orang luar terhadap adat dan tradisi Waerebo tak bisa dipandang sebelah mata.
Mereka siap setiap saat untuk Waerebo. Penulis bertemu Along di desa Denge, Selasa (13/8), sehari sebelum melanjutkan perjalanan ke Waerebo. Ketika itu, ada keinginan untuk langsung menuju Waerebo, tapi ia menjelaskan butuh waktu tiga hingga empat jam ke sana. Rencana terpaksa urungkan. Jika dipaksakan juga, dipastikan sudah kemalaman di jalan, sebab penulis sampai di Denge sudah lewat pukul lima sore.
Perjalanan yang penulis tempuh untuk sampai ke Waerebo, sangat panjang. Sehari sebelumnya, selesai Salat Idul Adha, penulis bertolak dari Padang melalui Bandara Internasional Minangkabau. Menginap semalam di kawasan Bandara Internasional Soekarno – Hatta Tanggerang, lalu dari Bandara Soekarno – Hatta ke Bandara Internasional Juanda Surabaya, langsung ke Bandara Internasional Komodo di Labuanbajo. Selanjutnya menuju Denge melewati Lembor dan Borik.
Kata Along, selain melintasi rute yang berat di malam hari, rombongan tidak akan diterima secara adat. Prosesi penerimaan secara adat hanya bisa dilakukan saat matahari masih bersinar. Sekitar pukul tujuh pagi hingga enam sore. Jika belum diterima secara adat, tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun. Artinya, hanya bisa langsung tidur saja.
Along menjadi penunjuk jalan. Ia langsung menjadi pemandu. Sesampai di Waerebo, rombongan diarahkan ke desa adat. Di sana sudah menunggu tetua adat dan sejumlah masyarakat untuk penyambutan. Along kemudian memperkenalkan Lucky, dan Patris.
Mereka memaparkan, penyambutan atau diterima secara adat pada hakikatnya terdiri dari dua macam. Pertama, penyambutan tamu umum, seperti halnya penyambutan rombongan wisata. Disambut di depan rumah adat. Tujuannya menghormati leluhur mereka dan sekaligus berharap kepada leluhur mereka agar rombongan yang datang tetap dijaga dan dipelihara.
“Permintaan kami kepada leluhur, tolong jaga tamu yang datang karena mereka keluarga kita. Pelihara mereka sejak datang hingga kembali ke rumahnya,” kata Patris sembari menyebutkan, pandangan di kampung adat tersebut hanya satu, menaiki altar di Compang (pusat kampung) yang berada di depan Rumah Gendang. Bagi masyarakat Waerebo, altar dipandang sebagai tempat suci karena disana merupakan tempat acara adat.
Acara adat dan tradisi bagi masyarakat Waerebo tidak banyak. Ada tiga upacara wajib bagi setiap individu dan keluarga. Upacara adat kelahiran, perkawinan dan kematian.
Semua aktivitas boleh dilakukan di mana saja. Bagi masyarakat yang sudah menetap di luar kampung Waerebo, ketiga prosesi tersebut boleh dilakukan di mana mereka tinggal, tapi mereka wajib melakukan upacara adat di kampung Waerebo sebelum Penti.
Penti adalah tahun barunya masyarakat Waerebo, tapi jadwalnya tidak tetap. Berkisar antara Oktober dan November. Kendati tahun baru, tak ada urutan tahunnya. Penti atau tahun baru bagi masyarakat Waerebo adalah sebuah proses dalam prosesi mempertahankan kehidupan. Penti merupakan momentum untuk memulai musim tanam. 
Leluhur masyarakat Waerebo memberikan pembelajaran, masa bercocok tanam harus dimulai ketika bunga-bunga berbagai tanaman muncul. Kehadiran bunga-bunga tanaman itu sebagai pertanda, waktu tersebutlah paling cocok untuk memulai bertanam.
Pembelajaran dari para leluhur tersebut dijadikan pegangan masyarakat, sampai kini. Bunga-bunga tanaman muncul pada Oktober – November. Jika memulai bercocok tanam di luar jadwal tersebut, diyakini tanaman yang ditanam tidak akan tumbuh.
Upacara adat kelahiran, perkawinan dan kematian juga harus mengikuti jadwal Penti. Jika ada kelahiran, perkawinan dan kematian sebelum Penti, maka keluarga bersangkutan harus melaksanakan upacara adatnya sebelum Penti. Upacara adat kelahiran, difokuskan dalam bentuk pemberian nama secara adat. Perkawinan, prosesi adat perkawinan wajib dilakukan di kampung Waerebo, begitu juga upacara kematian. Khusus upacara kematian, prosesi adatnya membawa batu kuburnya ke upacara tersebut.
Kegiatan atau peristiwanya boleh dilakukan di luar Waerebo atau di rantau, namun upacara adatnya wajib dilakukan di Waerebo. Jika upacara adat tidak dilakukan sebelum Penti, maka keluarga bersangkutan dipandang tidak layak mengikuti kegiatan adat Waerebo. Maka mereka tidak berhak mengikuti Penti dan kegiatan adat lainnya.  Secara tidak langsung, mereka diasingkan dari kegiatan adat.
Adat yang dianut di Waerebo, pada mulanya, tidak boleh menikah sesama orang Waerebo. Siapa pun yang menikah, harus mencari pasangan di luar Waerebo. Jika dilakukan, maka akan disanksi secara adat. Tidak diikutsertakan dalam kegiatan adat.
Penulis serius mendengarkan penjelasan Blasius Monta

Terhitung sejak generasi ke-18, ada keputusan adat terbaru. Sudah diizinkan sesama orang Waerebo, namun diikat dengan ketentuan yang sangat ketat. Persilangannya pun diatur sangat ketat sehingga setiap pasangan diyakini tidak bersentuhan langsung secara adat dan budaya.
Anak-anak muda Waerebo, seperti halnya Along, Lucky, dan Patris, serta generasi di atasnya, satu generasi dengan Blasius Monta, memiliki komitmen untuk tetap mempertahankan adat dan tradisi mereka.
“Kupertahankan adat dan tradisi sampai mati...” tekad mereka senada, pada kesempatan terpisah.
Semangat itu terpatri sejak lama, terutama di awal tahun 2000-an. Ketika itu, rumah adat mereka sudah mulai keropos dan rusak. Jika dibangun dari swadaya masyarakat, tidak akan mampu merealisasikannya. Tak hanya mahal dari bahan material, tetapi juga mahal dari bahan persembahannya. Berbagai upaya dilakukan. Berbagai presentasi dilakukan, akhirnya pada Mei 2007 dapat bantuan untuk renovasi. Tahun 2011, dapat bantuan untuk membangun tiga rumah adat. Tahun 2012 dapat penghargaan dari Unesco, sehingga dapat bantuan untuk renovasi bangunan lainnya. Renovasi berikutnya terjadi 2013. Akhirnya, tahun 2017, dapat dana untuk pembangunan.
Kini, secara fisik, tujuh rumah adat yang ada sudah kembali sempurna. Lingkungannya juga sempurna. Tapi, masyarakat Waerebo masih memiliki sebuah obsesi. Kata Blasius Monta,  obsesi yang mereka miliki sangat besar. Mereka memimpinkan, suatu saat bisa berkunjung ke negeri leluhurnya di Minangkabau, sekaligus mencari tapak jejak kampung sang leluhur.
“Setidaknya kelak kami bisa mengirim putra-putri terbaik Waerebo kuliah di Padang sambil melesuri jejak sang leluhur,” katanya sambil menatap jauh ke depan. Tatapannya menembus perbukitan yang mengelilingi Waerebo, lalu mendarat di negeri leluhurnya.*


Tulisan ini, pertama kali dimuat di Harian Umum Rakyat Sumbar, Senin 20 Agustus 2019.

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...