03 June 2018

Rakyat Sumbar untuk Indonesia


Judul di atas bukan sekadar judul,  tapi dikutip dari tema ulang tahun ke-8 (delapan) Harian Umum Rakyat Sumbar. Sejak 1 Juni 2010, koran yang sedang dibaca hari ini, telah turut mengambil peran untuk  pembangunan Sumatera Barat. Mendorong dan menginspirasi masyarakat untuk berbuat yang terbaik.
Dilihat dari usia, Harian Umum Rakyat Sumbar tergolong lebih muda dibandingkan koran-koran harian lain di Sumbar. Koran ini salah satu produk era reformasi. Dua puluh tahun perjalanan era reformasi, baru separoh waktu menemani dan mengawal perjalanan masa yang disebut-sebut sebagai era keterbukaan.
Tapi usia muda bukanlah alasan untuk tertinggal dibandingkan yang lebih tua. Jika yang muda  kreatif; berpikir, melangkah dan bertindak out of the box, maka akan dapat menyodok ketertinggalan  dari seniornya. Tidak berarti yang muda kalah dalam persaingan.
Diusia sewindu ini, kami mengusung tema; Rakyat Sumbar untuk Indonesia. Inilah semangat kami untuk memberikan kontribusi positif kepada negeri ini, hari ini dan hari-hari selanjutnya. Ada makna dan semangat berlipat ganda di sana.
Rakyat Sumbar pada tema, tak hanya merek koran saja. Maknanya lebih luas. Rakyat Sumbar di sini bisa juga berarti masyarakat Sumbar atau masyarakat di Sumbar. Mendorong, menginspirasi masyarakat di Sumbar agar terus berbuat untuk Indonesia.
Selama ini, masyarakat Sumbar, orang-orang Sumbar atau orang yang memiliki tali darah, garis keturunan dan silsilah dari Sumbar secara umum, Minangkabau khususnya, memiliki peran besar dan kontribusi nyata untuk perjuangan dan pembangunan bangsa. Faktanya terbentang nyata, ratusan bahkan ribuan putra-putri terbaik asal Sumbar atau Minangkabau, telah memberikan kontribusi nyata  sejak masa lalu. Hakikat itu pula yang ingin terus digelorakan, agar putra-putri dari negeri ini tetap konsisten mengawal Ibu Pertiwi.
Dalam konteks sebagai media, Rakyat Sumbar tak hanya mengkedepankan diri sebagai sebuah industri, yang hitung-hitungannya laba rugi. Tidak! Koran ini komit dan teguh dalam  bersikap serta menjaga idealisme sebagai pilar ke-empat pembangunan bangsa. Tidak hanya sekadar berhitung-hitungan bagaimana bisnis yang dikelola layaknya bisnis semata. Kami tetap berpegang teguh pada hakikat sebuah  media, menjadi penyambung lidah dan mata hati masyarakat.  Kami tidak akan pernah melepaskan diri  untuk mengawal  setiap derap langkah kehidupan bangsa.
Bagi kami, Rakyat Sumbar untuk Indonesia, tidak hanya sebatas jargon atau tema yang latah “harus” ada dalam setiap ulang tahun.  Tidak demikian! “Keluarnya” tema tersebut melalui sebuah diskusi panjang, melalui perdebatan-perdebatan terkait dengan harapan yang hendak dicapai dimasa depan. Bukan sekadar tema yang “harus” dimunculkan setiap tahun.
“Pencapaian” yang didapatkan dari tema ulang tahun kali ini, merupakan tindaklanjut dari dari tema yang diusung pada ulang tahun, ditahun lalu. Ketika itu, semangat kami; Inspirasi Rakyat Sumbar. Semangat itu  berlanjut menjadi kekuatan.  Berlahan dan pasti, impian itu telah memberikan inspirasi. Tak sedikit catatan-catatan inspirasi  yang telah kami dapatkan.  Inspirasi dari rakyat Sumbar  telah mendorong kami mencapai posisi seperti yang ada saat ini.
Terhadap semua harapan tersebut, dinamisasinya diwujudkan melalui logo yang dipakai pada momentum ulang tahun kali ini.  Menggunakan warna biru dan merah. Biru melambangkan kesetiaan, bijaksana, percaya diri,  kepercayaan dan kecerdasan. Jika ditinjau dari sudut psikologis, biru berarti bertanggungjawab dan (yang lebih penting) memiliki efek positif bagi tubuh dan pikiran.
Warna merah pada kata Untuk Indonesia, tidak hanya sekadar keberanian, tetapi adalah kekuatan, agresif, bergairah dan memiliki semangat yang sangat kuat. Perjuangan Untuk Indonesia hanya bisa dilakukan jika dalam diri ada keberanian, kekuatan, gairah dan semangat yang kuat serta agresif, seperti yang dimiliki para pendiri bangsa dulu.
Tekad dan harapan yang dimiliki tersebut  diejawantahkan  pada angka 8 (delapan) yang memiliki dua unsur goresan; Kaluak Paku (Gelungan daun pakis) dan Karambiak (Kerambit). Keduanya diambil dari tradisi leluhur Minangkabau yang tak dimiliki suku bangsa manapun.
Kaluak paku adalah nama salah satu motif ukiran dalam adat Minangkabau. Berasal dari motif gulungan (kaluak) pada ujung tanaman pakis (paku) yang masih muda. Secara  harfiah, kandungan makna  pada kaluak paku berarti gulungan tanaman pakis yang memiliki keindahan dan kedinamisan. Secara tersirat, menggambarkan  kodrat manusia. Pucuk pakis pada awal pertumbuhannya melingkar ke dalam,  kemudian  tumbuh melingkar ke luar. Manusia pada  tahap awal mengenal dirinya terlebih dahulu sebelum melakukan sosialisasi dan interaksi dengan lingkungannya. Introspeksi diri dulu sebelum berbuat ke luar. Inilah perlambang tanggungjawab seorang lelaki Minangkabau kepada penerusnya.
Karambiak merupakan senjata tradisional Minangkabau. Biasanya, seorang pendekar mengeluarkannya sebagai senjata terakhir untuk menuntaskan pertarungan demi membela diri. Dalam catatan tertua yang ditemukan, Asian Journal British: July – Dec 1827, mengatakan bahwa tentara Minangkabau dipersenjatai dengan keris di pinggang dan tombak di tangan mereka. Jika senjata itu hilang, rusak dan sebagainya saat bertarung, maka mereka akan mengeluarkan senjata pamungkas, Kerambit.
 Senjata ini berbentuk pisau kecil. Ukurannya lebih kurang sejengkal. Bentuknya melengkung, mirip cakar harimau. Digunakan untuk merobek anggota tubuh lawan secara cepat, tentu saja dibutuhkan keberanian dalam bela diri. Luka akibat Kerambit, dari luar tampaknya hanya seperti luka kecil saja, namun di bagian dalam sangat mengkuatirkan karena putusnya urat-urat dalam tubuh.
Impian ini tentu tidak akan berarti apa-apa jika pembaca, pelanggan dan mitra meninggalkan kami.  Kami optimis, impian tersebut dapat diwujudkan jika  pembaca, pelanggan dan mitra masih bergandengan tangan bersama kami  demi sebuah cita-cita luhur, memberikan bakti terbaik untuk negeri tercinta, bernama; Indonesia!*

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...