07 June 2018

Tantangan Mirna


Sejak pertemuan di rumah Mirna, ternyata tanpa sengaja, Badri dan Mirna  sering berjumpa. Pertemuan mereka terjadi di tempat berbeda. Terkadang di tempat  baralek, sama-sama pulang dari surau, di jalan ketika menuju atau pulang dari ladang. Sejak itu pula, tak pernah Badri bisa bicara langsung.
 Setiap ia hendak menyampaikan persoalan mengintip Rabiatun, seketika itu juga Mirna mengalihkan cerita. Permintaan Mirna selalu sama, bicarakan dikesempatan lain saja. Sejak itu pula, Badri sering kali mencoba membuat janji dengan Mirna. Gadis itu menurut, namun setiap Badri hendak mengulang pembicaraan serupa, Mirna pun mengelak. Badri makin bingung.
Diam-diam mereka saling buat janji. Mengukir waktu, mencuri kesempatan untuk bisa bertemu. Mereka bertemu diam-diam, tak mau ada yang tahu. Kalau pun mereka tahu bahwa orang tua mereka sudah berteman sejak masih muda, namun mereka tak percaya kalau pertemuan diam-diam itu akan direstui. Kalau pun harus datang ke rumah masing-masing lebih memungkinkan, namun mereka juga harus berjuang untuk mengakali agar pertemuan itu benar-benar logis.
Tak mudah bagi mereka untuk skenario. Badri terus mencari jalan agar ia diminta mande ke rumah amak, begitu pun Mirna. Ia juga terus mencari akal agar diminta amak untuk menemui mande. Kalau itu terjadi, maka memungkin bagi mereka untuk bertemu dalam kurun waktu yang agak lama dan tidak perlu kuatir dilihat orang.
Kontrol lingkungan masih sangat kuat dan teramat ketat di kampungnya. Tabu bagi sepasang insan tak muhrim didapati berduaan. Hukuman paling ringan, kepala digundulkan. Proses pemotongan rambut secara total dilakukan di balai adat, disaksikan orang sekampung.
Pernah ada yang ketahuan, kemudian kepala keduanya dibotak. Rambut mereka dipotong habis. Beberapa waktu berselang, kembali mereka ditemukan berduaan. Warga pun marah. Selain kepala mereka digunduli kembali, hukuman pun dijatuhkan lebih berat. Keduanya dinikahkan, namun tak seberapa orang yang hadir. Prosesi pernikahan hanya dihadiri keluarga dan tetangga sebelah rumah saja.
Badri tak ingin hal itu terjadi, namun ia masih terus mengukir janji dengan Mirna. Ketika tak memungkinkan datang ke rumah, keduanya merancang pertemuan secara sembunyi-sembunyi. Biarlah tidak tiap hari, biarlah tidak tiap minggu, namun jika ada momen-momen penting, seperti baralek, pulang dari surau, jalan ketika menuju atau pulang dari ladang atau moment yang mereka rancang sendiri, sudah cukup untuk mempertautkan rasa mereka berdua.
Pertemuan paling menyenangkan, sekali pun tidak setiap saat, justru diidamkan mereka ketika ada orang di kampung baralek. Di sana, bisa saja sepekan lebih mereka bertemu. Pertemuannya pun dalam rentang waktu yang lebih lama.
Kebiasaan di kampung mereka, proses persiapan baralek di rumah mempelai adalah urusan muda-mudi. Sepekan sebelum ijab kabul, biasanya muda-mudi akan mengurus persiapan tempat. Mempersiapkan dapur yang lebih besar, tungku-tunggu untuk memasak, menata bagian dalam rumah, kamar pengantin, pekarangan rumah, pemasangan tenda, mempersiapkan kayu bakar termasuk membantu mengangkat kebutuhan lainnya.
Momen di tempat baralek menjadi penting bagi keduanya. Mereka tak akan pernah dicurigai, tak akan pernah diawasi, sekali pun mereka berduaan agak lama. Pertemuan di tempat yang ramai, apalagi di tempat baralek, dipandang sebagai hal yang biasa. Tak mungkin terjadi aktivitas yang lebih jauh, lagi pula kehadiran di sana merupakan kehadiran yang dianjurkan. Kehadiran muda-mudi di tempat baralek dimaksudkan untuk  menjaga silaturrahmi, kemudian  membantu pemilik hajatan. Langkah kerja ini sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum mereka lahir.
Selama berupaya menyelesaikan persoalan dengan Mirna, selama itu pula Rabiatun nyaris terabaikan oleh Badri. Lelaki itu harus menuntaskan urusannya secepat mungkin dengan Mirna, namun perempuan itu terus menggantung. Ia  selalu mengulur-ulur waktu ketika Badri membicarakan persoalannya.
  Badri tak menyadari, ternyata, diam-diam, Mirna sudah sejak lama jatuh hati padanya. Badri adalah sosok lelaki yang sangat dikaguminya. Kalau pun Mirna tahu Badri masih sering keluyuran, namun ia sudah lama jatuh hati pada lelaki tersebut.
Sejak ia membela Rabiatun saat pulang sekolah ketika SD dulu, Mirna langsung kagum padanya. Ia melihat Badri sebagai sosok lelaki yang melindungi. Tak usil. Tak pernah mengganggu teman-temannya, apalagi anak-anak perempuan. Ia justru cenderung bersikap melindungi teman perempuan. Mirna sejak awal sebenarnya tahu kalau ayah Rabiatun bukanlah seorang pesilat.
Ia memang tak mau menyampaikan langsung. Tabu jika perempuan memulai mengungkapkan isi hatinya pada lelaki, namun Badri tak pernah tahu kalau cara Mirna adalah untuk mengakali pertemuan demi pertemuan mereka. Mirna sejak lama mengagumi Badri, namun ia tak nyaris tak pernah mendapatkan kesempatan untuk dekat dengan Badri. Lelaki itu lebih memperhatikan Rabiatun daripada dirinya.
Badri  tak pernah menyadari, saat Mirna meminta agar ia menemuinya di batas kampung mereka, saat purnama tiga bulan lalu. Badri hanya bermaksud untuk menyelesaikan persoalannya saja, namun Mirna sudah mempersiapkan rencana sendiri. Ia sengaja mengajak Badri ke sana karena ia tahu kalau di kawasan tersebut sedang ada acara malam purnama. Sebelum keduanya sempat bertemu, Badri sudah balik kanan. Ia takut, di sana sangat ramai.
Badri kemudian membongkar kenangan masa lalu. Ia mengingat sesuatu yang tak pernah diduga saat masih mengaji di surau. Ia pernah mendapatkan salam dari Mirna. Salam untuknya diterima dari beberapa kawan perempuannya sama mengaji. Ketika itu, Badri menjawab sambil bersiloroh, ia tahu, usianya dan Mirna belum pantas. Ia berprasangka baik saja, semua salam itu pasti candaan kawan-kawannya saja.
Sejak kejadian itu, Badri mencoba menghindar. Ia mulai menjaga jarak, namun jarak yang dibuatnya tersebut justru semakin mendekatkan Mirna padanya. Setiap Badri menjauh, ketika itu juga Mirna mendekat.
Saat mereka bertemu, Mirna selalu memancing dengan kalimat yang menghunjam. Ia belum mengatakan kepada siapa pun perihal perbuatan Badri yang suka mengintip. Setiap kalimat itu dilontarkan, saat itu pula Badri berpikir keras.
Saking paniknya dengan kalimat itu, Badri sempat nyaris kalap. Ia sudah berencana untuk menghabisi Mirna. Ia merasakan, kalimat yang dilontarkan Mirna sudah berarti teror terhadapnya.  Kalimat itu dilontarkan Mirna justru saat dirinya mencoba menghindar darinya. Ketika sudah dekat, Mirna justru menghindar.
Badri sudah mempersiapkan seutas tali dan belati. Ia sudah bersepakat untuk bertemu Mirna, sepulang salat isya. Tali dan belatinya sudah disimpan di bawah bawah batu besar disebuah persimpangan jalan.
Rencana jahat itu dibatalkan secara tiba-tiba. Ia sudah jalan seiring dengan Mirna, namun entah kenapa, tiba-tiba ia menangkap sosok Rabiatun pada diri Mirna. Ia seakan berjalan beriringan dengan Rabiatun, gadis yang sudah lama terabaikan olehnya demi menyelesaikan persoalan dengan Mirna.
Awalnya pikirannya bercabang. Apakah rencana semula diteruskan atau tidak. Ia memilih untuk tidak melanjutkan, sebab sosok yang ada di sampingnya bukan Mirna, tetapi Rabiatun.  
Badri membayangkan, kalau niat itu jadi dilakukannya, tali yang sudah dipersiapkan di bawah batu akan dijeratkan ke leher gadis di sampingnya. Tapi, apa salah Rabiatun? Rabiatun tak bersalah. Ia hanya bermaksud untuk membuat perhitungan dengan Mirna, tetapi kenapa Mirna berganti wujud menjadi Rabiatun?
Atau, apakah pandangan yang terlihat hanya ilusi saja? Kalau niat itu terus dilakukan, kemudian yang terbunuh tetap Mirna, lalu masihkah Rabiatun atau keluarganya mau menerima kehadirannya kelak selepas dari penjara?
Beragam pikiran berkecamuk di kepala Badri.









No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...