17 July 2014

Tak Pernah Membuka Aib


* Randai, Kesenian Tradisional Asli Minang:

Penampilan randai. (sumber foto: http://thegenteelsabai.files.wordpress.com/2011/12/cropped-header1.jpg)
Ranah Minang tak hanya dianugerahi kekayaan alam yang indah, namun kesenian tradisional yang lahir dan tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakatnya, juga tak kalah memukau. Kesenian tradisional tersebut, pada awalnya lahir dari permainan anak nagari.
Randai memiliki sejarah yang panjang. Berangkat dari permainan anak-anak muda Melayu, kemudian berkembang menjadi teater. Randai sebangun dengan dengan Lenong (Betawi), Makyong (Riau), Mamanda (Kalimantan), Ketoprak (Jawa) dan lain-lain.
Pada awalnya, randai dimainkan anak-anak nagari Minangkabau di sasaran silat. Mereka memainkan randai disela-sela latihan silat, sehingga gerak dan langkah silat terlihat nyata pada randai. Aktivitas randai, tak hanya sekadar memiliki filosofis yang kuat, tetapi juga memiliki banyak keunikan yang tak dimiliki kesenian tradisional lainnya.
Di mata seniman dan budayawan Minangkabau, Zulkifli S.Kar M.Humum Dt Sinaro Nan Kuniang dan Mak Khatik, randai yang semula berangkat dari permainan anak nagari, terus bergerak dan tumbuh menjadi kesenian yang memiliki kekuatan lebih dari sekadar permainan anak nagari, tetapi menjadi seni berteater total. Semua yang ada dalam kesenian, dimiliki oleh randai. Seni teater yang dimainkan di randai, memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri yang tak dimiliki kesenian tradisi kesenian tradisional mana pun.
Ciri khasnya, menurut Zulkifli S.Kar, M.Hum Dt Sinaro Nan Kuniang, yang juga dosen Instirut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, randai terdiri dari empat komponen pokok; cerita, dialog dan akting, gurindam (cerita yang dinyanyikan) dan galombang (jalan melingkari secara bersama). Seluruh komponen di randai menjadi satu kesatuan menjadi sebuah cerita (kaba).
Cerita dalam randai adalah cerita yang mengantarkan dan mengandung nilai-nilai untuk menjalani kehidupan. Cerita yang ditampilkan dalam randai, sejak dahulu hingga kini, selalu menjaga nilai-nilai sosial dan tidak akan pernah mengungkapkan aib.
Kalau pun ada cerita yang diangkat dari kisah nyata, maka lokasi kejadian akan disamarkan dan tidak akan pernah mengungkapkan. Pemainnya juga demikian. Nama asli tak akan dimunculkan, kemudian diganti dengan nama yang disimbolikan.  Misalnya, tokoh memiliki keahlian silat, disegani masyarakat dan memiliki postur tinggi semampai dan tampan, maka akan cenderung diberi nama Palimo Gagah, dan sebagainya.
“Artinya, tokoh atau lokasi yang dimainkan mewakili simbol-simbol yang ada,” kata Zulkifli sembari menyebutkan, setelah gempa 30 September 2009 meluluhlantakkan Sumbar, ia diminta untuk menciptakan cerita randai yang dimaksudkan sebagai media sosialisasi rumah tahan gempa. Ia kemudian menghasilkan cerita berjudul  Ande Paringgo.
Hal unik dari randai adalah posisi “panggung”-nya yang dikelilingi penonton, sehingga pemain secara bebas bisa membelakangi atau menghadap ke penonton, tak peduli siapa yang menonton. Artinya, ketika menonton randai, maka status sosial seorang penonton tidak pernah dipandang. Semua sama.
Berbeda dengan kesenian tradisi lain di Minangkabau, randai memiliki perbedaan yang spesifik. Jika kesenian lain, memiliki “rasa” dimana kesenian itu lahir dan tumbuh, namun randai memiliki “rasa” Minangkabau secara umum. Misalnya, rabab pasisia, silat, saluang pauah, salawat dulang, saluang darek, sampelong dan lain-lain, memiliki rasa yang sangat kental dengan daerah asalnya. Kalau pun kemudian ada permainan randai dari Pariaman, Pesisir Selatan, Payakumbuh dan sebagainya, namun “rasa” daerah tersebut tak akan pernah muncul, yang ada hanya rasa Minangkabau secara umum.*



No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...