14 July 2014

Karupuak Kuah Lado hingga Test Drive


*Berkunjung ke “Pasar” GOR H Agus Salim – Padang, Lokasi “Olahraga Belanja”:

Sejak dibangun tahun 1982 dan kemudian digunakan untuk arena MTQ ke 13 tingkat Nasional, komplek GOR H Agus Salim, Padang, tak pernah sepi dari kegiatan. Lima tahun belakangan, kawasan ini justru menjadi pilihan utama warga kota untuk olahraga, jualan dan belanja. Beragam jualan dibentang, mulai dari karupuak kuah lado hingga test drive.

Firdaus – Padang

Membuka lembaran masa lalu, mulanya kawasan yang kini dijadikan Kompleks GOR H Agus Salim adalah arena pacuan kuda. Ketika itu dikenal dengan nama Rimbokaluang. Konon, menurut cerita masa lalu, di sana ada rimbo (rimba) yang banyak bersarang kalaluang (kelelawar). Wilayah yang merupakan milik Bank BNI ditukarguling dengan tanah Pemko Padang di kawasan Tunggulhitam.

Ketika kawasan Rimbokaluang  berganti menjadi Kompleks GOR H Agus Salim, kota Padang makin bersolek. Akses baru untuk transportasi pun didapatkan. Ada jalur baru. Jalan Rasuna Said – Simpang Jam Ria (Padangbaru), kemudian Jam Ria – Simpang Hadis Didong (depan DPRD Sumbar) via Jl Khatib Sulaiman, dan Pasar Pagi Raden Saleh – Pasar Alai via Jl Raden Saleh.
Setelah digunakan untuk MTQ Nasional, berbagai agenda besar tingkat provinsi mau pun Nasional sudah sering dilaksanakan di kawasan ini. Dibutuhkan lembaran yang sangat panjang jika catatannya diurut secara rinci. Termasuk salah satu moment  paling bersejarah dalam lembaran keberadaan Sumatra Barat sebagai provinsi yang disegani di tingkat Nasional, yakni disaat Gubernur Sumbar Azwar Anas menerima Prasamnya Purnakarya Nugraha, supremasi tertinggi keberhasilan sebuah provinsi dalam pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Ketika itu diserahkan Presiden Soeharto.
Beberapa tahun kemudian, pasca-stadion Imam Bonjol dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau Imam Bonjol, pertandingan sepakbola berskala daerah dan nasional di pindahkan ke stadion H AGus Salim. Sejak itu, stadion  H Agus Salim dijadikan sebagai home base-nya tim sepakbola Semen Padang dan PSP Padang. Gemuruh sorak penonton sepakbola kemudian pernah hilang dari stadion kebanggaan rang Sumbar tersebut, menyusul tak berdayanya PSP Padang di kancah sepakbola Nasional, serta pindahnya home base Semen Padang ke stadion Tantawi, Sijunjung.
Setelah menjalani tiga musim kompetisi di Sijunjung, Semen Padang kembali ke stadion H Agus Salim. Sejak itu, stadion H Agus Salim kembali ramai. Berlahan dan pasti,  tim berjuluk Kabau Sirah terus menunjukkan prestasi membanggakan.
Kini kawasan Kompleks GOR H Agus Salim tak hanya memiliki stadion untuk sepakbola. Sudah ada tiga lapangan futsal terbuka, dua lapangan tenis, tiga lapangan voli pasir, GOR beladiri, sport hall, arena panjat tebing, kolam renang, serta kini sedang dibangun satu lagi sport hall yang bisa digunakan untuk lapangan voli indoor, bulutangkis, futsal indoor. 
Lima tahun terakhir, suasana di komplek GOR H Agus Salim memberikan nuansa lain. Berbeda dari biasanya. Setiap sabtu dan minggu ada pemandangan yang hampir sama setiap akhir pekan. Tak hanya orang-orang berolahraga yang ditemui, tetapi setidaknya ada sekitar seribuan lapak yang dibentang disepanjang jalan, mengitari stadion H Agus Salim.
Jalan tersebut memutari kawasan stadion serta pelataran parkirnya, yang memiliki luas sekitar 9.000 M2 atau, atau persisnya jalan melingkar tersebut sedikitnya memiliki panjang sekitar 1.500 M. Para pedagang menggelar dagangannya di sepanjang jalan tersebut. Menempati kiri kanan jalan. Ada yang membuka lapak hanya dengan menggelar tikar, plastik, atau memiliki satu atau dua meja kecil, berjualan dengan menempatkan barang dagangan mereka di mobil, memiliki sejumlah alat peraga atau hanya sekadar menyebarkan brosur saja.
Beragam barang dagangan dijual di sepanjang jalan tersebut. Sebuah lapak, barang dagangannya ditempatkan di atas sebuah meja, kemudian penjualnya duduk di sebuah kursi kayu. Ia menawarkan makanan ringan, karupuak kuah lado (kerupuk ubi kemudian diolesi dengan kuah cabe merah).
Selain itu, jualan lainnya sangat beragam. Ada parfum, aroma terapi, kosmetik, peralatan dapur, peralatan bengkel, pertukangan, cairan penghilang noda getah dipakaian, mainan anak-anak hingga umang-umang, berbagai  makanan dan minuman hingga kesempatan test drive. Penjual pakaian sangat mendominasi.  “Pasar” itu ada  setiap sabtu dan minggu.
Setelah kawasan kompleks olahraga ini menjadi pasar, secara berlahan peruntukan berolahraga kian berkurang. Jika sebelumnya olahraga dikategorikan pada olahraga prestasi, olahraga pendidikan dan olahraga rekreasi, kini bertambah satu lagi; olahraga belanja!
Hanya saja, khusus lokasi olahraga belanja di “pasar” GOR H Agus Salim, harus ekstra waspada. Ketika mengitari kawasan tersebut dengan berlari,  bersepada atau sekadar berjalan santai, maka harus tetap waspada. Di antara keramaian tersebut, setelah kiri dan kanan jalan dipakai untuk berjualan, juga pejalan kaki atau yang menggunakan sepeda harus berpandai-pandai lantaran jalan tersebut juga masih ada lalu lalang sepeda motor dan mobil.
Tak hanya itu. Bangunan yang menyatu dengan stadion sepakbola, peruntukannya sudah tidak konsisten lagi. Pada awal pendiriannya, bangunan tersebut ditujukan untuk sekretariat cabang olahraga, namun belakangan banyak yang sudah berganti peruntukan. Dipergunakan untuk berjualan.
Realita ini, tentu saja memberikan ketidaknyamanan dan ketidakpastian peruntukan kawasan olahraga. Lalu dimana pengelola kawasan ini? Akankah kondisi ini dibiarkan begitu saja?
“Kita terus menata kawasan ini secara berlahan,” kata Kadispora Kota Padang Suardi.
Penataan dimaksud, tak akan ada lagi kendaraan bermotor yang masuk dan mengitari jalan tersebut. Begitu juga dengan para pedagang, mereka hanya dibolehkan berjualan di salah satu sisi jalan saja, tidak di kedua sisi seperti yang terjadi sekarang.
“Bangunan yang menyatu dengan stadion yang dijadikan tempat berjualan, berlahan sudah kita tertibkan dan sudah diambil alih kembali. Secepatnya akan diselesaikan,” kata Suardi.
Secepatnya?
Kapan?
Ehemmmm….!*

CATATAN: Tulisan ini dimuat Harian Umum Rakyat Sumbar, edisi Senin 6 April 2014

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...