25 August 2017

Lampu Biru atau Pulau Bunyu?

*Terkatung-katung 8 Jam di Laut Nunukan Bersama Staf Kemendes PDTT

Pengantar dari Redaksi
Kamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, bermaksud ke Tarakan, setelah memperingati upacara detik-detik proklamasi di Pulau Sebatik,  terkatung-katung dihempas badai dan ombak besar di laut Nunukan, Kalimantan Utara. 
Bagaimana kisah lain di balik peristiwa mencekam jelang malam itu? Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus, menuliskan pengalamannya dalam bentuk bertutur. Ditulis secara bersambung. Kali ini, merupakan naskah kelima. Tulisan besok besok; Terdampar di Pantai tak Berpenghuni [] []


Terombang-ambing dipermainkan ombak. Tak disadari, lebih sejam speedboat berputar-putar di tempat sama tak karuan. Arah tak tampak. Gelap malam kian pekat. Tak ada penerangan. Lampu speedboat hidup mati tak karuan.
Kabar dari Alam Kribo, speedboat berputar-putar di tempat yang sama, menyentakkan semua orang. Bang Akbar, sang jurumudi tak percaya.
Nugroho Notosutanto, Kabag  Perencanaan Umum Setjen Kemendes PDTT, awalnya tak percaya, namun ia tak kalah gelisah dan cemas. Air laut sudah tergenang di kakinya. Ia tak ungkapkan apa yang terjadi. Ia kemudian meminta stafnya untuk melihat GPS. Boby, Julie Ervina, Tina Istiana  Syamsul, membenarkan apa yang disampaikan Iwan Kribo.
Lelaki berperawakan serius itu meminta Boby dan Tina maju ke depan. Boby duduk persis di depan, di ruangan kosong antara bang Akbar dan Nugroho. Tina duduk di belakangnya, tepatnya diantara saya dan Datuk Febby.
Bang Akbar tak bisa baca kompas dan GPS. Boby dan Tina menuntun. Saya sempat melihat posisi speedboat di tablet Tina. Speedboat diarahkan ke pulau Baru, pulau terdekat dari posisi kami. Posisinya diarah barat, atau sebelah kanan speedboat. Disebelah timur, pulau Bunyu. Tarakan yang hendak dituju, di sebelah selatan. Sangat jauh.
“Kalau tak bisa GPS, tak usah GPS. Pakai perasaan saja, yang penting kita selamat!” pintanya keras.
Bang Akbar mengikut. Ia mengarahkan speedboat ke pulau Baru, tiba-tiba ombak besar menghantam haluan speedboat. Haluan terbenam. Gulungan ombak berikutnya, haluan sudah berada di permukaan, tapi speedboat sempat terhuyung-huyung. Terombang ambing tak karuan.
“Ombak semakin besar. Angin datang dari arah depan membawa gulungan ombak!” kata bang Akbar mengabarkan.
“Putar arah saja! Merapat ke pulau Bunyu!” pinta Datuk Febby berteriak keras. Bang Akbar mengikuti perintah Datuk Febby. Berlahan speedboat putar haluan. Balik kanan. Bang Akbar memutar haluan berlahan. Ia memilih memutar ke arah kiri. Ombak besar terus mempermainkan speedboat. Hempasan ombak besar kembali membuat semua ketakutan.
“Jangan panik! Jangan panik! Jangan panik..!” teriak bang Akbar. Tak ada suara. Semua diam.
“Pindah satu orang ke kanan,” pintanya. Saya pun kemudian menyambung, berteriak lebih keras sembari melihat ke belakang.
Waktu-waktu berikutnya, perintah bang Akbar kembali bermunculan, meminta semua menurut sesuai perintahnya. Demi keseimbangan speedboat yang terus bergerak berlahan ke arah pulau Bunyu, tak henti dipermainkan ombak.
Saat panik, takut dan beragam perasaan bercampur aduk, tiba-tiba ada dering telpon masuk, “Telpon dari pak nelayan, telpon dari pak nelayan,” teriak Julie Ervina.
“Angkat saja! Angkat saja!” balas Tina tak kalah keras.
“Ya, pak. Kami sedang di laut terombang-ambing,” kata Julie Ervina, yang belakangan saya tahu kalau ia berasal dari Batusangka.
Saya tak tahu apa jawaban dari seberang, dari orang yang disebutnya pak nelayan tersebut, “kami menuju pulau Bunyu, pak,” balas Julie.
“Siapa?” tanya Nugroho.
Tina yang berada paling dekat posisinya dari Nugroho menjelaskan. Ia menulis nama orang tersebut di telpon selularnya, pak nelayan. Lelaki dimaksud adalah jurumudi dan pemilik speedboat Azura, yang mengantarkan rombongan mereka dari Nunukan ke Pulau Sebatik, dua hari lalu, menggunakan Azura.
“Ia akan menjemput kita ke pulau Bunyu,” kata Julie.
Alhamdulillah. Semua bersyukur. Ada harapan datang pertolongan.
Kehadiran kontak dari pak nelayan memantik semangat baru. Nugroho meminta agar segera mengabarkan kepada Bakamla. Dihubungi, tapi tak bisa. Selalu putus. Tak habis akal, dikirimkan  pesan singkat S.O.S.  Pesan terkirim. Alhamdulillah.  
Entah kenapa, sejak pesan singkat terkirim, signal hilang. Dicoba berulangkali, tak bisa terhubung. Datuk Febby, Adji Setyo Nugroho (Tim Ahli Kantor Staf Menteri Kemendes PDTT), juga mencoba melalui telpon selularnya. Tak ada jaringan.
Di depan kemudi, bang Akbar tak henti-hentinya memberikan beragam perintah kepada penumpang. Penumpang dibagian belakang diminta untuk berpindah-pindah tempat. Ombak masuk gulung-bergulung. Menghempas ke haluan speedboat. Pulau yang dituju belum juga tampak.
“Ada lampu, ada lampu..!” teriak bang Akbar. Ia menunjuk ke arah serong kanan speedboat yang dikendalikannya.
Semua melihat ke sana, “kita ke sana saja,” pintanya seakan menunggu persetujuan.
“Ke pulau Bunyu aja,” balas Datuk Febby.
“Pulaunya belum tampak,” jelas bang Akbar sambil terus membantu penerangan dari senter. Hujan masih deras. Angin masih kencang.
“Ya, ada lampu biru,” sahut penumpang dibagian belakang, “tapi posisinya tak pasti, bang” sambungnya.
“Jangan-jangan batas wilayah dengan Malaysia, makin berbahaya..!” sambut yang lain.
“Apakah itu mercusuar?” tanya bang Akbar.
“Tak mungkin. Mercusuar lampunya kuning dan kelap-kelip,” potong yang lain.
“Tetap ke pulau saja, bang!” pinta Datuk Febby lantang.
Bang Akbar mengikut, ia kemudian memasukkan tubuhnya ke dalam. Gemertak gigiya terdengar jelas, “saya kedinginan,” katanya menggigil.
“Sedikit lagi, bang. Sedikit lagi, bang!” kata Boby, ia memperlihatkan posisi speedboat di layar GPS.
“Pulaunya sudah kelihatan,” sambung Nugroho, setelah ia melongokkan kepala melalui pintu di persis menghadap ke haluan speedboat.
Speedboat terus bergerak. Kali ini kecepatannya sedikit lebih tinggi dibandingkan awal saat berbalik arah. Angin dan ombak dari arah belakang speedboat membantu mendorong ke pulau. Hujan mulai reda, namun lampu speedboat kembali mati. Bang Akbar menghentikan speedboat, lalu menghidupkan kembali. Ia berkali-kali pula mengingatkan si Mas untuk memperhatikan derigen. Minyak jangan sampai terputus ke mesin. Slang pompa air jangan sampai terhimpit.
Ketika pantai sudah semakin jelas, sudah semakin terasa dekat dari speedboat, satu sama lain saling menguatkan. Takbir bergema. Boby dan Tina terus menguatkan bang Akbar yang sudah menggigil kedinginan. Sekali-sekali ia menyebutkan pandangan gelap. Ia minta bantuan agar disentarkan dari samping belakang.  Revdi Iwan Syahputra alias Ope,  Adrian Tuswandi alias Toaik,  Nana Suryana (Tenaga Ahli Setdirjen Pembangunan Kawasan Pedesaan),  Iwan, Alam Kribo, Adji Setyo Nugroho, saya, secara bergantian melakukan tugas yang diperintahkan bang Akbar.
Speedboat terus bergerak menuju pantai. Pantai sudah semakin dekat. Speedboat terus bergerak. Angin masih bertiup kencang. Ombak terus mempermainkan speedboat.
“Alhamdulillah, kita sudah sampai di pantai,” kata bang Akbar.
“Sudah sampai, bang?” serentak kami bertanya tak percaya.
“Mana pantainya?”
“Di kanan dan belakang,” jawab bang Akbar.
“Di belakang?” tanya yang lain, tetap belum percaya.
“Ya. Sengaja haluan speedboat ke laut. Pantai di belakang,”
“Amankah kita, bang?”
“Insya allah aman. Speedboat sudah tersekat di pantai paling dangkal,”
“Alhamdulillah. Allahu akbar!” teriak semua.
 Semua memanjatkan syukur.  Semua tafakur.
“Pantai ini tak berpenghuni. Jangan ada yang turun. Berbahaya!” bang Akbar memberi kabar. Kami semua terpana. Saling berpandangan!
Malam kian kelam. Tempat kami terdampar sangat gelap. Saya melihat jam di telpon selular. Baru lewat pukul sembilan malam, atau 2,5 jam lebih kami terkatung-katung sejak speedboat berpuyat-putar tak tahu arah. *

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...