28 August 2017

Jadi Pemeran Dimimpi Isteri Jurumudi


*Terkatung-katung 8 Jam di Laut Nunukan Bersama Staf Kemendes PDTT

Pengantar dari Redaksi
Kamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, terkatung-katung dihempas badai dan ombak besar di laut Nunukan, Kalimantan Utara.  Rombongan itu bermaksud ke Tarakan, setelah memperingati upacara detik-detik proklamasi di Pulau Sebatik. 
Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus, yang berada dalam rombongan, menuliskan  pengalamannya dalam bentuk bertutur. Ditulis secara bersambung. Kali ini, merupakan naskah ketujuh. Tulisan besok;  Azura Penyambung Harapan. [] []


Lewat pukul sembilan malam, kami terdampar di pantai bagian barat Pulau Bunyu. Pantainya tak berpenghuni. Gelap. Berhutan. Ada beberapa anak sungai, tak jauh dari posisi speedboat kami didamparkan bang Akbar.
“Jangan ada yang turun dari speedboat,” kata bang Akbar, saat saya melihat sekeliling melalui jendela speedboat. Pandangan saya agak terganggu. Terhalang butiran hujan dan air laut yang menempel di sana.
Bang Akbar keluar dari speedboat melalui jendela depan. Ia memanggil si Mas. Tak ada jawaban. Tiga kali ia memanggil, tetap tak ada jawaban. Penumpang bagian belakang juga tak ada yang tahu. Adrian Tuswandi, wartawan www.tribunsumbar.com, yang sejak awal berada dibagian belakang terkejut. Ia tak menyadari  Mas tak ada di belakang.
“Jangan-jangan ia jatuh ke laut?” tanyanya.
Semua tersentak, tapi tak lama berselang, bang Akbar seakan bicara dengan seseorang. Adrian memanjant bagian belakang speedboat, ternyata si Mas sudah berada di atap. Ia sudah bicara dengan bang Akbar. Keduanya tampak bergerak sigap mengikat bagian belakang speedboat dan ditautkan pada pohon di pantai.
Tak lama berselang, bang Akbar kembali ke posisinya di belakang kemudi. Ia menggapai sebuah kotak persis di depan Nugroho Notosutanto,  Kabag  Perencanaan Umum Setjen  Kemendes PDTT. Ia mengeluarkan bajunya, “waduh, basah semua,” katanya.
Ada nada tak baik darinya. Ia kemudian terus mengeluarkan satu persatu, namun belakangan ia melantunkan ucapan syukur, “alhamdulillah, alhamdulillah, baju salat saya masih kering,” katanya senang.
Ia bergegas membuka bajunya yang basah kuyup. Celananya yang dipakai juga basah. Baju dan celana cadangannya juga basah, kecuali baju salat (koko) putih. Ia berulangkali mengucapkan syukur. Setelah memakai baju koko putih, bang Akbar duduk tersandar. Ia meringkuk kedinginan. Kakinya dinaikkan ke kursi, dilipat bertaut dengan tubuhnya.
Suasana hening seketika. Sejurus kemudian, lima telpon selular dapat signal. Ada satu batang signal disetiap handpone. Datuk Febby menghubungi Indra Salim, staf ahli Menteri Desa PDTT. Ia  minta  agar disampaikan kepada Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo.
“Kami di pantai barat pulau Bunyu,” kata  Tina Istiana  Syamsul,  Staf Perencanaan Umum Setjen  Kemendes PDTT.
Ia menerima telpon dari seseorang yang disebutnya Pak Nelayan, sesuai nama yang ditulis dikontak selularnya. Orang tersebut sebenarnya bukan nelayan, tetapi jurumudi dan pemilik speedboat Azura. Tina beserta staf Kemendes PDTT lainnya, menyeberangi laut Nunukan – Sebatik, dua hari sebelumnya, naik speedboat Azura.
Saya menghubungi anak dan isteri, namun sama sekali tak mengabarkan kondisi sesungguhnya. Saya takut, mereka akan cemas sepanjang malam.  Saya tahu,  isteri saya termasuk tipe orang pencemas.   
Nugroho mengingatkan agar selular yang aktif dijaga batrainya. Jika batrai lemah, akan menghadirkan masalah baru untuk kontak.  Tak lama berselang, handpone di bagian belakang saya kembali berbunyi. Saya tak tahu handpone siapa, namun saya mendengar Tina dan Julie berteriak gembira mengabarkan. Ada telpon masuk dari Bakamla, tapi keduanya ragu menjawab. Ia memberikan kepada Adji Setyo Nugroho.
Adji yang kalem,  berpenampilan tenang, menerima selular dari tangan Tina. Ia  menyahuti panggilan dari seberang. Ada sedikit  basi-basi disampaikan Adji. Ada  kalimat pengantar dan penjelasan.  
“Langsung ke pokok masalah saja, Ji. Jangan pakai basa-basi,” potong Datuk Febby lantang.
Hubungan putus, kemudian tersambung lagi. Begitu berulang kali. Beberapa kali pula telpon yang dipegang Adji masuk nomor tak dikenal, namun ia tetap menyahut. Pergantian nomor-nomor telpon yang masuk ternyata dari orang-orang berbeda di Bakamla. Begitupun  telpon dari Pak Nelayan, masuk beberapa kali.
Bang Akbar mengeliat. Ia merentangkan tangannya, “alhamdulillah, saya dapat tidur sebentar. Lumayan untuk pemulihan,” katanya sembari mengganti posisi duduknya. Ia tertidur hampir satu jam.
“Mimpi isteri saya jadi kenyataan,” katanya.
Saya tersentak. Nugroho Notosutanto kemudian menyela, ia menanyakan  maksud  bang Akbar, “tiga hari lalu isteri saya bermimpi, saya terkatung-katung di laut,” kata bang Akbar.
“Benarkah, bang?” Datuk Febby, staf ahli Menteri Desa PDTT, melanjutkan pertanyaan. Saya tak tahu kapan ia bangun. Tadi, tak lama setelah  menghubungi Indra Salim, saya melihat ia  tidur bersandar ke dinding speedboat. Tidurnya disertai sedikit dengkuran.
Bang Akbar memalingkan wajahnya kepada Datuk Febby. Ia kemudian menceritakan, tiga hari lalu, isterinya bermimpin. Speedboat yang dikemudikan bang Akbar terombang-ambing di lautan. Ia tak tahu dimana posisi speedboat terombang-ambing. Sekeliling gelap. Nyaris tak ada cahaya. Lampu speedboat hidup mati. Hujan turun sangat deras. Angin sangat kencang. Ombak besar gulung-bergulung.
Dalam mimpinya, kata bang Akbar,  penumpang speedboatnya sangat banyak, namun tak seorangpun yang dikenal sebelumnya. Speedboat terombang-ambing dalam gelap malam yang kelam.
“Saya katakan padanya, mimpi hanya bunga tidur. Ia menolak, katanya allah mengirim firasat padanya,” bang Akbar menerangkan.
Selepas mimpi malam yang menakutkan isterinya, sang isteri mendatangi ustad. Malamnya mereka mengadakan doa. Doa tolak bala, “saya ikuti saja permintaannya agar ia tenang dan tak kuatir lagi,” kata bang Akbar.
Ia kemudian teringat anaknya. Saat bang Akbar mendapat order, speedboatnya dicarter ke Tarakan, ia mengabarkan isteri dan anaknya. Sang anak menolak. Ia meminta bang Akbar  tidak menerima carteran ke Tarakan. Berlayar dimalam hari, mengarungi lautan Pulau Sebatik – Tarakan, sangat berbahaya, apalagi menggunakan speedboat Berkat Doa Ibu, yang hanya bermesin satu.
Masih cerita bang Akbar. Sebenarnya saat ia hendak menuju laut dari dermaga di Pulau Sebatik, anaknya menelpon. Ia tetap meminta agar tidak berlayar malam. Tunggu besok atau batalkan saja carteran. Anaknya mengabarkan rasa kuatir dalam dirinya terhadap perjalanan bang Akbar. Berulangkali anaknya meminta, berulangkali pula bang Akbar meyakinkannya.
Bang Akbar bercerita. Kekuatiran anaknya bukan tanpa alasan. Speedboat yang dikemudikan bapaknya, selama ini hanya menjalani rute Nunukan – Sebatik, pulang pergi. Perjalanannya tidak terlalu lama. Sekitar satu jam perjalanan menggunakan Berkat Doa Ibu. Jika menggunakan speedboat lebih besar, bermesin dua atau tiga, bisa lebih cepat. Bisa setengah jam.
Saya teringat speedboat Sadewa. Bermuatan 50 orang, sesuai nomor  urut di kursinya, bermesin empat,  menempuh perjalanan Tarakan – Sebatik hampir 2,5 jam. Tak salah rasanya, saat sebelum berangkat dari pelabuhan di Sebatik, Adrian Tuswandi menyebutkan, paling cepat speedboat ini berlayar ke Tarakan hingga empat jam.
“Bagaimana kisah akhir mimpi isteri abang?” tanya saya iseng.
“Yakinlah, kita semua pasti selamat,” katanya, namun Datuk Febby menimpali. Ia menanyakan kisah lanjutan dari mimpi isteri bang Akbar, sembari menjelaskan pertanyaan saya kepada bang Akbar.
“Kita selamat. Allah menyelamatkan kita melalui pertolongan banyak orang,” katanya, namun ia tak merinci siapa saja yang menolong.
“Kita ikut dibawa dalam mimpi isteri bang Akbar. Kita semua jadi pemeran dalam mimpi itu,” kata Datuk Febby.
“Saya mohon maaf,” pinta bang Akbar.*

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...