29 August 2017

Azura "Penyambung Harapan"


*Terkatung-katung 8 Jam di Laut Nunukan Bersama Staf Kemendes PDTT

Pengantar dari Redaksi
Kamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, terkatung-katung dihempas badai dan ombak besar di laut Nunukan, Kalimantan Utara.  Rombongan itu bermaksud ke Tarakan, setelah memperingati upacara detik-detik proklamasi di Pulau Sebatik. 
Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus, yang berada dalam rombongan, menuliskan  pengalamannya dalam bentuk bertutur. Ditulis secara bersambung. Kali ini, merupakan naskah kedelapan.  Tulisan besok;  Ancaman Baru Menuju KRI Kerapu. [] []


Alhamdulillah. Kontak dengan “dunia” masih bisa terhubung. Adji Setyo Nugroho,  Datuk Febby, (duanya staf ahli Menteri Desa PDTT),  dan Nugroho Notosutanto, (Kabag  Perencanaan Umum Setjen  Kemendes PDTT), dapat berkomunikasi dengan pejabat di Kemendes. Selular di tangan  Julie Ervina, dan Tina Istiana  Syamsul, masih tetap tersambung dengan Pak Nelayan mau pun tim Bakamla.
Sejak pesan singkat berisi titik koordinat posisi kami terdampar, sudah terkirim ke Bakamla.  Komunikasi terus berlangsung. Tina dan Julie bersorak senang. Ada pesan singkat masuk dari tim Bakamla. Pesannya, tetap saja dikoordinat tersebut, tim evakuasi akan datang menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Kerapu.
Wow... akan dievakuasi menggunakan kapal perang? Benarkah? Semua mengucap syukur. Pertolongan akan segera datang. Kami akan segera meninggalkan pantai yang kelam. Dingin. Tak ada tanda-tanda kehidupan.
“Lihat di kiri kita, ada lampu laser hijau...!” teriak bang Akbar, selang limabelasan menit kemudian. Semua melihat arah yang ditunju bang Akbar. Ada laser hijau bergerak, seakan mencari sesuatu. Kami yakin, laser itu datang dari Pak Nelayan sebab ia mengatakan memandu dengan laser hijau.
Benar saja. Tak lama berselang, telepon Pak Nelayan menghubungi nomor Tina, “ya, kami melihat laser hijau, persis di kiri bagian depan tempat kami terdampar,” kata Tina ketika kontak mereka terhubung.
Tina kemudian meminta kepada bang Akbar untuk membalas laser hijau di tengah laut dengan laser hijau dari Berkat Doa Ibu. Jawaban bang Akbar mengejutkan kami. Speedboatnya tak punya laser hijau, alternatifnya menghidupkan lampu speedboat saja. Dihidupkan, tak bisa. Lampu kembali mati.
“Pakai senter saja. Pakai senter saja!” teriak yang lain.
Adrian Tuswandi berdiri di tempat duduk, kepalanya melewati atap speedboat, kemudian mengarahkan lampu senter ke tengah laut. Diarahkan ke sumber laser hijau.
“Iya, pak. Sebentar,” kata Tina dalam kontaknya dengan Pak Nelayan, kemudian meminta Adrian Tuswandi mengarahkan senternya ke air laut, mengarah ke laser hijau. Senter dikibas-kibaskannya. Tak berjarak lama diantaranya, lampu speedboat kembali bisa dihidupkan bang Akbar.
“Apa? Sudah kelihatan, pak? Ya, ya.. laser hijau bapak mengarah ke kami. Ya, benar, kami di sini,” Tina semakin bersemangat. Tina dan kami semua sangat senang ketika laser hijau mengarah kepada kami.
“Pak Nelayan segera menuju ke sini,” kata Tina. Kami sangat senang.
Laser hijau Pak Nelayan berganti lampu biru muda. Geraknya menuju ke posisi kami. Berlahan dan pasti. Kami semakin senang. Saat itu juga, beragam bayangan muncul. Pak Nelayan datang dengan sejumlah orang yang akan menolong. Ia pasti membawa air minum dan sedikit makanan untuk pengganjal perut.
Sejak meninggalkan pelabuhan di Pulau Sebatik, sekitar pukul setengah lima, Kamis sore, hingga Jumat dinihari, tak ada yang minum dan makan, walau hanya sekadar makanan ringan. Tak seorang pun yang membawa perbekalan untuk perjalanan menjelang sore itu.
Perut sudah keroncongan. Rasa haus mulai menyerang. Bayangan Pak Nelayan membawa sedikit minuman dan minimal kue-kue ringan, melintas dalam pikiran. Pak Nelayan datang pada waktu yang tepat.
Kurang tigapuluh menit, speedboat Azura merapat persis di samping Berkat Doa Ibu. Pak Nelayan langsung mengucapkan salam dan mengajak semua pindah ke speedboatnya, “Yuk, semua pindah. Jangan berlama-lama di sini,” pintanya.
Kami menyambut kehadiran Pak Nelayan dengan hati riang. Kehadirannya bagaikan menjadi penyambung harapan bagi kami. Tak ada yang menjawab ajakan Pak Nelayan. Semua masih terdiam bagaikan dihipnotis.
“Sebaiknya semua pindah ke Azura. Kita tinggalkan pantai ini. Kita istirahat di bagian selatan pulau ini saja. Tak jauh, kok,” katanya.
Pak Nelayan sudah berada persis disamping speedboat kami. Ia berada di laut. Saya melihat dan semakin percaya kami sudah aman karena air hanya selutut Pak Nelayan. Kami berharap, Pak Nelayan membawa sesuatu.
Harapan hanya tinggal harapan. Pak Nelayan datang seorang diri. Ia tak membawa apa-apa. Hanya speedboat dan dirinya saja. Tak ada makanan. Tak ada minuman. Kami akhirnya harus menelan angan dalam-dalam.
Pak Nelayan hanya datang membawa harapan. Tidak membawa makanan yang kami bayangkan. Ia mengajak kami untuk pindah ke speedboatnya. Ia mengatakan akan membawa kami ke selatan. Tempatnya lebih ramai.
Datuk Febby meminta, tak seorang pun yang pindah dulu. Tetap saja di Berkat Doa Ibu. Katanya, sebaiknya tunggu dulu perkembangan dari Bakamla yang mengirimkan KRI Kerapu. Datuk Febby meminta kepada Adji untuk menjelaskan kepada Pak Nelayan karena posisi mereka berdekatan.
Adji menjelaskan kepada Pak Nelayan. Beliau paham, namun ia tetap meminta agar secepatnya meninggalkan pantai yang gelap dan kelam ini. Katanya, tempat kami bersandar sekarang banyak anak sungainya.
Setiap Pak Nelayan mengajak pindah dan akan membawa kami ke bagian selatan Pulau Bunyu, ketika itu pula Adji menjelaskan. Bertahan saja dulu di sini. Kita tunggu perkembangan dari Bakamla. Pak Nelayan kemudian naik ke speedboatnya.
Sepeninggal Pak Nelayan naik ke speedboatnya, kami semakin cair. Rasa cemas sudah mulai hilang. Rasa takut mulai berkurang. Kami pun bercanda dalam berandai-andai. Secara bergurau ada yang mengatakan, bagaimana kalau dipesan makanan melalui online, adakah yang mau mengantarkan?
“Kalaulah kita bisa meminta, apa makanan yang paling diinginkan malam ini?” Datuk Febby bertanya iseng.
“Nasi Padang,” kata Revdi Iwan Syahputra.
“Ayam goreng,”
“Burger..”
“Apa saja yang enak dan mengenyangkan”
“Bakso..”
Beragam keinginan datang sahut bersahut. Jawaban spontan dan meluncur deras itu semakin membuat rasa lapar bertambah.
“Mie instan rebus pakai telor ceplok,” saya menimpali.
Semua tertawa, menertawai kekonyolan harapan malam itu. Hujan sudah reda sejak tadi reda, namun badai masih terasa. Speedboat kami masih digoyang-goyang ombak di pinggir pantai.

Ada satu jam lebih Pak Nelayan menemani kami, lalu kemudian ia memberikan kabar, ada laser hijau di tengah laut. Ia meyakinkan kami, laser hijau tersebut pasti dari kapal dimaksud. Adji menghubungi nomor terakhir yang mengontaknya, “kami melihat laser hijau diarah barat posisi kami,” katanya.
Yup, benar saja, laser hijau itu mengarah-arah ke tempat kami, tapi belum fokus. Adji masih berkomunikasi melalui telepon selular. Tak lama berselang, Adji meminta Pak Nelayan membalas laser hijau tersebut. Pak Nelayan menurut. Akhirnya, laser hijau dari tengah laut tepat menyorot speedboat Berkat Doa Ibu. Setelah itu, laser dari KRI Kerapu dan speedboat Azura sama-sama berganti warna biru muda.
“Ayo, pindah ke sini saja. Biar saya antarkan menyongsong KRI Kerapu,” kata Pak Nelayan, tapi kami tetap bertahan. Tak mau pindah. Menunggu evakuasi dari TNI Angkatan Laut.
Pak Nelayan berulangkali meminta kami pindah ke Azura. Kami tetap tak mau. Adji meyakinkan beliau, “biar kita menuggu saja, pak” katanya. Kami tetap bertahan.
Adji  berkomunikasi intensif dengan tim evakuasi di KRI Kerapu. Pak Nelayan  pergi. Meninggalkan kami di pantai tak berpenghuni. Ia membawa speedboat Azura.  Speedboatnya mengarah ke lautan, kami masih saja menunggu bantuan. Ketika  cahaya lampunya speedboat Azura hilang dari pandangan,  baru kami menyadari. Pak Nelayan pasti kecewa pada kami. *



No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...