30 August 2017

Ancaman Baru Menuju KRI Kerapu 812


*Terkatung-katung 8 Jam di Laut Nunukan Bersama Staf Kemendes PDTT

Pengantar dari Redaksi
Kamis – Jumat (17-18 Agustus 2017) lalu, sebuah speadboat berisi 12 penumpang dari rombongan Kemendes PDTT, terkatung-katung dihempas badai dan ombak besar di laut Nunukan, Kalimantan Utara.  Rombongan itu bermaksud ke Tarakan, setelah memperingati upacara detik-detik proklamasi di Pulau Sebatik. 
Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar Firdaus, yang berada dalam rombongan, menuliskan  pengalamannya dalam bentuk bertutur. Ditulis secara bersambung. Kali ini, merupakan naskah kesembilan.  Tulisan besok;  Makanan Terenak Ada di KRI Kerapu 812. [] []


Jumat, menjelang pukul dua dinihari. Hampir lima jam kami terdampar dan bersandar di pantai tak berpenghuni. Sekali pun begitu, rasanya lebih baik dan lebih aman daripada terombang-ambing di lautan luas, dipermainkan angin dan gelombang besar.
Angin masih bertiup kencang. Ombak masih mempermainkan speedboat yang sudah didamparkan di pasir pantai. Tiga bagian, kiri kanan bagian belakang dan belakang diikatkan ke pohon-pohon di pantai.
Pak Nelayan sudah pergi bersama Azura-nya. Cahaya lampu speedboatnya sudah hilang ditelan gelap malam. Tak seorang pun tahu arahnya. Kemana Pak Nelayan? Tak seorang pun yang tahu. Beliau pasti kecewa karena kami tak mau pindah ke speedboatnya, padahal beliau sudah menemani kami sekitar satu jam.
Adji Setyo Nugroho, staf ahli  Menteri Desa PDTT, masih terus berkomunikasi dengan tim evakuasi dari KRI Kerapu.  Kabar yang diperoleh dari tengah laut, kapal masih terus merengsek menuju ke arah pantai. Kami menunggu harap-harap cemas.
Benar saja. Dugaan kami di speedboat menjadi kekuatiran baru. KRI Kerapu tak bisa terus merapat ke pantai, “di sini posisi terakhir dan terdekat kami. Jika terus merapat, kapal ini akan kandas karena masuk laut dangkal,” kata tim evakuasi di KRI Kerapu ditirukan ulang Adji.
Hop..! Detak jantung saya kembali tak karuan. Ada daya. Haruskah kami kembali mengarungi lautan dalam dan bergelombang besar?  Nugroho Notosutanto, Kabag  Perencanaan Umum Setjen  Kemendes PDTT, menanyakan kepada Adji apakah tidak disampaikan agar mereka mengirimkan sekocinya saja.
Kata Adji, ia memang hendak menyampaikannya, tapi pembicaraan terputus. Jaringan signal kembali hilang. Jarak KRI Kerapu ke titik kami di pantai lumayan jauh. Data  dari tim di KRI Kerapu yang disampaikan kepada Adji, jaraknya 3,2 mil laut (sekitar 5,5 km garis lurus di darat)
“Tetap bertahan di sini atau kita yang mendatangi KRI Kerapu?” tanya Datuk Febby, staf ahli Menteri Desa PDTT. Semua diam. Tak ada jawaban.
Keheningan diiringi irama riak ombak menghempas ke pantai. Kata sepakat pun dibulatkan. Kami bergerak menuju KRI Kerapu. Bang Akbar setuju. Ia kemudian meminta Mas membuka tali-tali yang mengikat speedboat ke pohon di pantai. Satu persatu dilepas.
Deru mesin sudah terdengar. Lampu depan sudah dihidupkan. Bang Akbar memberi aba-aba, speedboat segera bergerak. Semua siap. Bulan sabit tersumbul di balik awan. Bulan nun di ujung sana, sebentar lagi tenggelam di lautan kelam.
Berlahan speeboat bergerak. Panduannya sudah jelas, cahaya biru muda di tengah laut. Di sana ada KRI Kerapu yang akan mengevakuasi kami ke Tarakan. Tiada terkira senangnya hati. Rasa lelah semakin membungkus diri. Sebagian tubuh sudah basah kena tempias hujan dan hempasan butiran ombak.
Parjalanan menuju KRI Kerapu dimulai berlahan. Setelah itu, terasa ada peningkatan kecapatan. Perlahan dan pasti, kecapatan mulai tinggi. Ombak masih beriak. Gelombang masih menghempas. Speedboat bergerak menerjang gelombang, melawan arah ombak yang datang.
Mata saya tak lepas dari jam di telepon selular. Selang duapuluh perjalanan ke arah KRI Kerapu, perjalanan menerjang ombak kian terasa berat. Angin dari arah barat menuju timur belum juga berkurang. Speedboat yang kami tumpangi bergerak berlawanan arah. Haluan speedboat mulai dipermainkan gelombang. Posisinya semakin berat.
Perasaan cemas mulai muncul. Saya takut. Rasa takut yang tak kalah hebat dibandingkan saat sebelum terdampar. Saya melepaskan pandangan sekeliling. Suasana kembali hening. Masing-masing tafakur dalam kesendirian. Ada kecemasan dari raut wajah mereka. Di ujung sana, sorot lampu biru muda terus mengarah dan mengikuti kami.
“Jangan paksakan, bang!” pinta Datuk Febby, staf ahli  Menteri Desa PDTT.
“Sudah dekat, pak,” kata bang Akbar.
“Saya rasa, belum separoh perjalanan,” balas Datuk Febby.
“Tapi lampunya sudah tampak semakin dekat,”
“Bulan juga tampak dekat, bang,” potong Datuk Febby, sembari tetap meminta bang Akbar jangan memaksakan diri menerjang gelombang, “arahkan haluan ke kiri saja, lalu kita menyisir dekat pulau,” pinta Datuk Febby.
Semua kemudian sepakat dengan Datuk Febby. Bang Akbar kemudian mengarahkan speedboat menuju pesisir pantai di sepanjang Pulau Bunyu. Gelombang masih gulung-bergulung lebih tinggi dari sebelumnya. Angin masih bertiup kencang. Bulan hilang timbul ditutupi awan.
Speedboat semakin menepi. Kian dekat dengan bibir pantai. Perasaan cemas masih menyelimuti semua penumpang. Saya juga semakin gelisah tak karuan. Suasana terasa tidak karuan. Akankah secercah harapan yang sudah menghampiri kami akan hilang dalam hitungan menit ke depan? Oh, saya semakin ketakutan.
Dalam suasana tak menentu, tiba-tiba semua pandangan berpaling ke belakang. Ada bunyi dering telepon. Adji juga menatap ke depan, “ada telepon dari Kerapu,” katanya.
“Cepat angkat!” serentak kami menimpali.
“Kami menuju Kerapu, namun gelombang sangat besar. Haluan speedboat kami sempat terbenam sekali lagi,” kata Adji menjelaskan. Lalu, dari Adji hanya terdengar kalimat-kalimat pendek. Iya. Iya. Oke, pak. Baik, pak. Oke, pak.
Kontak komunikasi itu pun kemudian diputus. Adji meminta agar speedboat tetap berada di posisi terakhir sekarang. Jangan bergerak terlalu jauh lagi. Tim evakuasi segera datang. Ia meminta bang Akbar untuk lebih menepikan speedboat ke pantai.
Adji kemudian menjelaskan. Saat komunikasi terputus sebelumnya, evakuasi akan dilakukan menggunakan sekoci, namun mereka melihat pergerakan speedboat ke arah mereka. Mereka meminta kami tetap diam di pantai.
Lampu biru yang ditembakkan berkedap-kedip menjadi pertanda agar kami tetap menunggu, namun speedboat kami tetap bergerak ke arah mereka, lalu bergerak justru menjauh. Mereka mengkuatirkan kondisi kami. Seketika signal selular diperoleh,  mereka langsung menghubungi Adji.
Kami pun menunggu. Speedboat masih terpaut di laut, namun sudah berada dekat pantai. Posisinya sudah di laut yang sangat dangkal. Bang Akbar memperkirakan, paling dalam hanya sepinggang.
Dari sisi kanan speedboat kami terpaut, ada cahaya biru muda mulai bergerak. Awalnya berlahan, lalu bergerak sangat cepat. Lampu yang semula terlihat bagaikan titik cahaya, kini sudah semakin besar. Semakin mendekat, semakin besar. Kian terang. Terang benderang. Kami semakin riang.
“Jangan-jangan Azura yang menjemput kita,” kata Adrian Tuswandi, wartawan www.tribunsumbar.com.
Tak lama berselang, dugaan Adrian mengejutkan semua penumpang. Ada speedboat yang mendekati posisi kami. Berlahan dan pasti, bentuknya kian pasti. Benar saja, Azura berhenti persis di sisi kanan Berkat Doa Ibu.
“Lho....?” semua binggung, kaget bercampur heran.
“Ayo pindah semua. Apalagi yang ditunggu!” kata Pak Nelayan mendongokkan kepalanya dari depan Azura.
Belum sempat kami menetralisir keheranan dan keraguan, tiba-tiba dua lelaki muda sudah menaikki speedboat kami. Keduanya berseragam loreng, “ayo, pindah satu persatu,” pintanya. Kami masih bingung.
Dalam bingung itu, keduanya kembali mengulangi agar semua pindah. Ia juga mengingatkan, biarkan saja tas dan barang di Berkat Doa Ibu, dulu. Badan saja yang bawa ke Azura, biar proses evakuasi lebih mudah. Setelah semua pindah, kedua prajurit tersebut memindahkan barang bawaan penumpang dari Berkat Doa Ibu ke Azura. Semuanya beres!
“Abang ikut kami?” tanya salah seorang diantaranya.
Bang Akbar menolak. Ia mengatakan, biarlah menunggu di pantai saja. Ia akan menunggu sampai pagi. Katanya, jika pagi datang, pasti situasinya sudah aman. Pak Nelayan pun kemudian mendukung bang Akbar.
“Tak masalah kalau abang kami tinggalkan di sini?” tanya tentara itu lagi.
“Oke. Tak masalah. Insya allah aman,” katanya.
Pak Nelayan kemudian tersenyum sumringah. Ia tampak ceria. Saya tak tahu pasti apa makna yang ia bawa. Apakah ceria dan bahagia karena bisa “memaksa” kami naik speedboatnya atau ia senang karena bisa membantu mengevakuasi kami.
Ia melarikan speedboatnya dalam kecepatan tinggi. Secara kasat mata, speedboatnya lebih baik daripada yang kami tumpangi sebelumnya. Haluan speedboat Azura jauh lebih tinggi. Berbody lebih tinggi. Ukurannya lebih besar. Saya memperkirakan dari hitungan tempat duduk yang tersedia, Azura bisa membawa 20 – 25 penumpang. Berkat Doa Ibu, mungkin paling banyak 15 orang. Mesin yang menempel di bagian belakang Azura berlebih dibandingkan yang dikemudikan bang Akbar.
Azura bergerak lebih lincah. Kecepatannya lebih tinggi. Hempas air laut dibelah tubuh speedboat memercik ke dalam, membasahi sebagian penumpang yang duduk dibagian belakang, namun kondisinya tidak mengkuatirkan kami.
Sepanjang perjalanan, kedua tentara yang menjemput, memberikan semangat kepada kami. Keduanya mencoba menghibur untuk mencairkan suasana. Ia mengaku, merasakan apa yang sedang kami rasakan.
“Lupakan semua yang sudah berlalu. Mari kita bersyukur kepada Allah,” ajaknya dan kemudian mengajak kami berdialog. Rasa letih, lelah dan mengantuk membuat kami seakan tak mampu mengikuti ajakan mereka.
Tak sampai lima belas menit menerjang gelombang, membelah lautan, Azura merapat ke “tubuh” sebuah kapal. Ada tulisan di badan kapal, KRI Kerapu 812.
“Alhamdulillah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Allahu Akbar..!” ada pekikan syukur dan takbir menggema.
Dua tentara yang tadi menjemput kami, memberikan arahan yang sama saat kami dievakuasi dari Berkat Doa Ibu. Saya merupakan penumpang dua terakhir yang naik ke KRI Kerapu 812. Memanjat tangga dari tali, tempat pijakannya dari kayu.
Di puncak tangga, dua tangan dari dua orang berbeda menjulur ke arah saya. Tanpa pikir panjang, kedua tangan itu saya gapai. Keduanya pun serentak menarik saya. Kedua kaki dan tubuh saya berdiri kokoh di buritan kapal, tempat prajurit KRI Kerapu 812 menyambut, saya langsung menyalami keduanya, sembari mengucapkan terima kasih. Mereka pun membalas, lalu memeluk dan menepuk-nepuk bahau saya.
“Alhamdulillah, selamat bang,” kata mereka.
“Terima kasih, terima kasih, bang!” sahut saya, lalu kemudian menyalami semua orang yang berada di sana.*

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...