18 March 2012

Bersakit-sakit dahulu.. Bersenang-senang Sendirian..

Oleh: Firdaus


Berakit-rakit dahulu..
Berenang-renang ke tepian..
Bersakit-sakit dahulu..
Bersenang-senang sendirian..

Maaf!
Kali ini saya memplesetkan pantun yang sudah begitu populer di kalangan masyarakat. Rasanya tak ada yang tak pernah menyampaikan, atau minimal mendengar pantun aslinya. Lalu, kenapa saya plesetkan?
Maaf!
Sekali lagi, maaf!

Sepekan lalu  saya jumpa teman lama. Sebenarnya saya menganggap ia senior, sebab dari usia dan pengalaman, ia jauh di atas saya dalam banyak hal. Saya yang bukan siapa-siapa, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengannya.
Hanya saja, ia tak mau diposisikan sebagai senior. Ia teman main sejak kecil, sehingga sehari-hari ia menganggap saya sebagai teman, dan “memaksa” saya untuk tetap menganggap dirinya sebagai seorang teman. Bukan sebagai senior, seperti yang saya rasakan.
Pertemuan sepekan lalu sangat berarti bagi saya. Ketika sedang asyik bercerita tentang banyak hal, tiba-tiba handponenya berdering. Ia angkat hp-nya, lalu mengucapkan salam dan kemudian bicara panjang lebar.
Sekitar lima menit bicara, tiba-tiba ia berdiri. Kemudian melangkah menjauh dari tempat semula kami duduk. Lama ia bicara di hp-nya. Tekanan suaranya turun naik. Hanya saja, saya tak bisa menyimak lebih detail apa yang dibicarakannya.
“Begitulah jika sejak awal tak jelas aturan mainnya,” katanya begitu duduk kembali di tempat duduknya semula.
Saya tak paham apa maksudnya.
Kemudian ia bicara panjang lebar. Katanya, barusan ia ditelpon sahabatnya. Sahabatnya tersebut merasa dikerjai. Ia tak bisa berbuat banyak. Mau menarik diri sudah kepalang tanggung. Tetap bertahan, harus kuat-kuat untuk menahan diri.
Cerita dari sang teman, sahabatnya tersebut memulai usaha  patungan dengan kawan-kawannya, tujuh tahun silam. Mulanya, teman saya tersebut melarang sahabatnya. Ia justru menganjurkan agar  buka usaha sendiri, sebab ia memiliki kekuatan modal untuk buka usaha. Kemudian bayar orang secara profesional, atau tanggani sendiri.
Ia tak mau. Katanya, usaha patungan ini dimaksudkan agar kebersamaan yang sudah terjalin selama ini tetap berjalan, bisa berusaha bersama-sama. Kelebihan yang dimiliki masing-masing bisa saling memperkuat.
Kemudian usaha itu dijalankan secara bersama. Perjuangan membangun usaha sangat berat. Satu sama lain  tunggang-langgang. Perjuangan berat itu  membuahkan hasil.  Memasuki tahun ke empat, prospek usaha terus membaik. Tahun-tahun berikutnya terus membaik.
Hanya saja, prospek membaik itu bertolak belakang dengan suasana kerja. Sejak usaha membaik, suasana kerja di lingkungan sahabat teman saya itu cenderung memburuk. Rasa kebersamaan menipis, kecurigaan mulai terjadi antara satu sama lain. Hitung-hitung “pembagian” sudah mulai terasa.
“Inilah kecemasan dan sekaligus alasan utama saya melarangnya. Ketika hendak memulai dulu,” katanya.
Teman lama saya itu pun kemudian membeberkan. Katanya, biasanya dalam sebuah kebersamaan hanya terjalin baik disaat satu sama lain memiliki kepentingan seirama; keluar dari kesulitan.
Pada saat-saat sulit, satu sama lain saling bergandengan tangan, bahu-membahu dan bergerak seirama untuk keluar dari kesulitan. Ketika sudah lepas dari kesulitan, biasanya irama gendang sudah sumbang.
Analoginya, cobalah perhatikan sekelompok orang menyeberangi sungai yang berair deras. Satu sama lain berpegangan tangan untuk menguatkan satu sama lain. Ketika sudah sampai di seberang, maka satu sama lain akan mengurus diri sendiri-sendiri.
Jika dihubungkan dengan sebuah usaha yang dijalankan bersama, maka kecenderungan tak lagi untuk mempertahankan atau meningkatkan usaha, tetapi saling berebut kekuasaan. Pola panjat pinang pun dimainkan, menginjak kawan untuk bisa sampai ke atas dan kemudian mengambil barang-barang yang tersedia. Juga saling mencurigai satu sama lain. Tak lagi saling menghargai. Itulah; Berakit-rakit dahulu/ Berenang-renang ke tepian/ Bersakit-sakit dahulu/ Bersenang-senang sendirian..
Kemudian kawan lama saya itu pun mengutip pesan bijak Confusius, seorang filsuf asal China. Katanya; Dunia tidak dapat ditaklukkan dengan pedang, tetapi hanya dengan kebijakan, keadilan, dan sikap saling percaya yang menyebabkan manusia secara jujur serta tulus patuh dan bekerjasama dengan penguasa dan dengan sesama manusia demi kebaikan semua.*


Catatan: Tulisan ini dimuat pada kolom KOPI MINGGU Padang Ekspres, edisi Minggu, 28 Oktober 2011


No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...