Oleh: Firdaus
Jalan Taluak Berpisang. Sekali pun bukan hal baru, namun judul berita itu cukup menggelitik. Beritanya menarik karena masyarakat menanam pisang di jalan. Jalannya pun bukan jalan kampung, tetapi jalan raya, jalan utama; ruas By Pass – Simpang Taluak, Nagari Taluak, Kecamatan Banuhampu, Agam.
Bentuk sindiran lain, ada orang memancing ikan di jalan raya yang tergenang air, bersamaan dengan adanya lubang yang cukup dalam di jalan tersebut. Kalau pun yang bersangkutan tahu, ia tak akan pernah mendapatkan ikan di sana, namun aksi yang dilakukannya tak lain adalah sebagai bentuk kekecewaan kepada pemerintah.
03 April 2012
20 March 2012
PULANG
Cerpen: Firdaus Abie
Tidak! Aku tidak menangis. Sedari kecil, aku sudah dilarang menangis. Tak baik lelaki menangis, apalagi sampai dilihat orang. Kalau ketahuan Abak atau Mande, keduanya pasti berang[2].
Abak dan Mande? Ya, tiba-tiba aku teringat pada keduanya. Mungkinkah aku dapat bertemu mereka kembali, lalu bersimpuh menjemput maaf?
Biasanya, malam seperti ini adalah malam-malam membahagiakan. Aku, Abak, Mande, Uni Ira dan Ardi, melewati malam takbiran bersama. Kami menembus malam dengan canda di rumah. Masih lekat dalam ingatan ku, Abak biasanya tak banyak omong. Lebih banyak memperhatikan kami sembari menonton berita di tv. Jika ada canda kami yang keliru, baru suara beliau menghentikan kami sejenak. Nasehatnya membawa kami menembus malam. Penuh wibawa.
Besok
lebaran. Gema takbir hilang dipulun[1] hujan. Cuaca dingin di
kota kecil atas bukit, terasa panas mengalir di sudut kota. Menghadirkan resah,
dibungkus gelisah. Aku menangis?
Tidak! Aku tidak menangis. Sedari kecil, aku sudah dilarang menangis. Tak baik lelaki menangis, apalagi sampai dilihat orang. Kalau ketahuan Abak atau Mande, keduanya pasti berang[2].
Abak dan Mande? Ya, tiba-tiba aku teringat pada keduanya. Mungkinkah aku dapat bertemu mereka kembali, lalu bersimpuh menjemput maaf?
Biasanya, malam seperti ini adalah malam-malam membahagiakan. Aku, Abak, Mande, Uni Ira dan Ardi, melewati malam takbiran bersama. Kami menembus malam dengan canda di rumah. Masih lekat dalam ingatan ku, Abak biasanya tak banyak omong. Lebih banyak memperhatikan kami sembari menonton berita di tv. Jika ada canda kami yang keliru, baru suara beliau menghentikan kami sejenak. Nasehatnya membawa kami menembus malam. Penuh wibawa.
18 March 2012
Leptop Pak Dewan
Makin dicimeehnyo konco palangkin nan surang tu, samakin
dikirai-e kipeh sate. Baun bawang goreang nan dipanggang di baro
mengirai-ngirai bulu iduangnyo. Arun bana baunnyo.
Terobosan dari Simpangampek
Catatan: Firdaus
Apalah
artinya sebuah nama…
Benarkah tidak
penting hakikat sebuah nama? Barangkali Willliam
Shakespeare, ilmuwan asal Prancis, menganggap bahwa identitas tidak penting.
Sesuaikah “paham” yang dianutnya itu dengan kita?
Semasa hidup,
nabi Muhammad SAW pernah meminta umatnya untuk memberikan nama anak-anaknya
dengan nama yang baik. Nama adalah bagian dari doa, dan sekaligus menjadi
identitas diri.
Di ranah
Minang, identitas sangat mutlak. Tak bisa ditawar-tawar. Identitas adalah
cerminan citra diri seseorang atau suatu bangsa. Bagi seorang anak di Ranah
Minang, lekat dengan identitas dirinya tersebut. Ketek banamo, gadang bagala.
Bandara Laban
Oleh: Firdaus*
Kehadiran Gubernur Sumbar Irwan Prayitno ke Simpangampek, Kabupaten Pasaman Barat, untuk melihat keberadaan ke Bandara Laban, Di Kecamatan Luhak Nan Duo, pertengahan bulan lalu, sepertinya memberikan “darah segar” bagi daerah ini untuk terus membangun, dan secepatnya menyelesaikan pembangunan Bandara Laban serta Pelabuhan Taluaktapang, di Aiabangih.
Rasa itu tidak berlebihan, apalagi di hadapan tokoh
masyarakat, ninik mamak dan bundo kanduang, gubernur juga menyatakan kesediaan
untuk turut membantu biaya pembangunan bandara. Sejauh ini, sejak awal, sejak
perencanaan hingga sekarang yang sudah memasuki tahap persiapan ujicoba
penerbangan dan pendaratan, sama sekali Pemkab Pasaman Barat belum pernah
mengajukan proposal untuk pembiayaan.
Keyakinan
Oleh: Firdaus
Kejadian di dua tempat berbeda,
sepekan ini, sangat menyentak. Peristiwa itu sekaligus mengingatkan saya pada masa lalu. Masa ketika
masih kanak-kanak. Antara percaya dan tidak percaya bercampur aduk menjadi
satu, namun yang terjadi sepekan ini adalah kejadian nyata.
Dimasa itu, ketika ada
perselisihan dalam saat bermain, terutama ketika ada yang merasa dicurangi ---mungkin
karena memajukan gundunya, menyembunyikan kelereng yang sedang dimainkan, memparo karet atau gambar-gambar dan
kemudian disembunyikan---, maka yang merasa dicurangi akan “menuntut” yang
dituduh untuk membuktikan bahwa ia tidak curang.
“Mau sumpah di bawah Al Qur’an?”
gertak yang merasa dicurangi.
Bersakit-sakit dahulu.. Bersenang-senang Sendirian..
Oleh: Firdaus
Berakit-rakit dahulu..
Berenang-renang ke tepian..
Bersakit-sakit dahulu..
Bersenang-senang sendirian..
Maaf!
Kali ini saya
memplesetkan pantun yang sudah begitu populer di kalangan masyarakat. Rasanya
tak ada yang tak pernah menyampaikan, atau minimal mendengar pantun aslinya.
Lalu, kenapa saya plesetkan?
Maaf!
Sekali lagi, maaf!
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Oleh: Firdaus Entah kenapa, pada momentum peringatan Hari Ibu, kali ini, saya teringat pada cerpen karya A.A Navis (alm). Cerpen ...
-
Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...
-
Dapat Banyak Buku serta Undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi Selasa (23/6/2026) saat di Bandung, saya bertubi-tubi mendapat rezeki. Mula...