26 January 2016

Rindu Suasana Kerja


Oleh: Firdaus[1]


Saya tiga kali “keluar masuk” Padang Ekspres. Pertama kali masuk, saya  satu dari  20 orang perintis, generasi pertama Padang Ekspres. Awal bergabung, sebelum koran ini terbit, saya diplot menjadi redaktur olahraga, namun tepat saat lebaran ke dua, Rabu 20 Januari 1999, saya harus berangkat ke Pekanbaru, menjadi koordinator cetak jarak jauh, mengawal proses finishing.

Materi dari Padang baru setengah jadi, itu pun hanya untuk halaman daerah,  kemudian semuanya diselesaikan di Pekanbaru. Padang Ekspres ketika itu, dicetak di percetakan Riau Graindo, percetakannya Riau Pos. Cetak jarak jauh ini berlangsung selama enam bulan.
Minggu, 14 Januari 2007. Bersama 11 orang personil Padang Ekspres dan dua orang karyawan Posmetro Padang, kami berangkat ke Pekanbaru, menuju Riau TV. Proses magang yang sangat singkat, hanya sepekan, menguatkan semangat kami untuk membangun pondasi kehadiran Padang TV. Tanggal keberangkatan tersebut merupakan momentum pertama kali saya “keluar” dari Padang Ekspres, sebab sekembali dari Pekanbaru, sekali pun tindaklanjut Padang TV belum terlihat tanda-tandanya, namun saya sudah harus meninggalkan “kursi” Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) di Padang Ekspres, posisi yang sudah saya tempati sejak 2004.
Tanpa pernah saya duga, Oktober 2008, saya harus kembali ke “kapal induk”. Setelah “sekolah” di Padang TV menjadi Pemimpin Redaksi dan merangkap Manager Program. Saya diberi amanah menjadi Pemimpin Redaksi di Padang Ekspres. Amanah itu saya jalani selama tujuh bulan, tepatnya menghadapi momentum penting, Pemilu 2009. Setelah itu, terhitung 1 Juni 2009, saya harus kembali ke rumah kedua; Padang TV.  
Januari 2010, saya kembali ke “kapal induk” dan dipersiapkan untuk merintis media baru di lingkungan Padang Ekspres Group. Mei 2010, saya menyusul kawan-kawan yang sudah ditugaskan merintis penerbitan koran baru. Ketika itu, di Padang Ekspres ada suplemen Rakyat Sumbar Utara, terbit tiap hari, wilayah edarnya di Padangpanjang, Tanahdatar, Payakumbuh, Limapuluh Kota, Agam, Bukittinggi, Pasaman dan Pasaman Barat. Juni 2010, suplemen tersebut berganti menjadi koran tersendiri, dan Oktober 2011 berganti nama menjadi Harian Umum Rakyat Sumbar.
Sejak mendapat kepercayaan turut merintis,  membangun dan mengembangkan Harian Umum Rakyat Sumbar, hingga kini, selama itu pula saya nyaris tak banyak tahu bagaimana suasana redaksi Padang Ekspres lagi.
Jika melihat kualitas kerja, dari produk yang dihasilkan, terlihat jelas kemajuan yang luar biasa. Kemajuannya  dicapai dalam bentuk personal dan  tim kerja. Kemajuan dalam bentuk personal, setidaknya, sejumlah gelar juara foto, artikel yang diikuti wartawan Padang Ekspres merupakan salah satu wujud nyata jawaban peningkatan kualitas tersebut. Begitu pun dengan perwajahan dan liputan indept-news yang terus mewarnai setiap edisi koran ini. Banyak kemajuan yang sudah dicapai.
Di balik semua itu, ada satu hal yang tak mungkin bisa saya lupakan dari kekhasan di redaksi Padang Ekspres, yakni suasana kerjanya. Suasana kerja yang dibangun dan terbangun di masa lalu, hingga kemudian saya “meninggalkan” redaksi Padang Ekspres adalah semangat kebersamaannya. Setidaknya; ada empat kebiasaan yang sangat mendarah daging. Pertama; setiap ada yang baru kembali dari tugas liputan luar kota, maka ada semacam “kewajiban” untuk memberi oleh-oleh orang redaksi, termasuk pracetak. Minimal, kehadiran pertama yang bersangkutan kembali ke kantor, “harus” membawa makanan. Ketika makanan itu datang, biasanya ada saja yang menyahuti dengan istilah khusus; bukan isu. Entah dari mana asal usul kata itu, yang pasti, bila ada yang berteriak; bukan isu, maka seketika itu juga semua yang sedang bekerja akan berhenti dan berlarian mengejar bukan isu tersebut, walau sesungguhnya semuanya kebagian sekali pun tidak dikejar. Sensasinya justru ada disaat berebut tersebut.
Kedua, saat rapat sore. Rapat sore merupakan rapat evaluasi edisi yang terbit hari tersebut dan mematangkan rencana edisi besok. Semua peserta rapat diizinkan untuk mancikaraui materi atau perwajahan setiap halaman, namun tidak diperkenankan mempersoalkan halaman yang redakturnya belum datang atau tidak hadir. Alasannya, kalau pun dipersoalkan, redaktur tersebut juga tidak akan tahu persoalan di halamannya, kemudian dikuatirkan pesan sampai kepada redaktur bersangkutan bisa simpang-siur sehingga memungkinkan terjadinya miscommunication.
Ketiga; hakikat peran dan fungsi struktur di redaksi benar-benar berjalan baik. Sekali pun Pemimpin Redaksi merupakan orang pertama di redaksi, namun Koordinator Liputan adalah orang pertama dalam hal penugasan liputan. Semua wartawan, termasuk Pemred mau pun Wapemred, harus tunduk dan patuh pada penugasan yang diberikan Koordinator Liputan, yang notabene dua tingkat di bawah Pemred, atau satu tingkat di bawah Wapemred.
Hal ini tak hanya sekadar konsep, namun saya yang ketika itu menjadi Wapemred bersama Yulius Putra, pernah ditugaskan oleh Koordinator Liputan Two Effly (Kini Wakil GM Padang Ekspres) bersama Alfitra (saat itu Redaktur Pelaksana, kini Kabag Umum di PDAM Padang) untuk sebuah tugas liputan di Bukittinggi secara serentak.
Keempat; semua tim kerja redaksi seakan disiapkan  untuk  menguasai banyak hal. Dalam tugas kewartawanan, harus mampu menguasai beberapa bidang liputan. Begitu pula dalam mengelola halaman. Seorang redaktur tak hanya bisa memiliki kemampuan editing, tetapi juga dituntut bisa menguasai perwajahan dan menata (lay-out) halaman. Saya pernah memegang halaman Utama (Halaman 1) plus halaman Nasional (3 halaman), Halaman Olahraga (2 Halaman) dan halaman Selebritis (1 halaman) secara bersamaan setiap hari. Halaman Selebritis bisa diselesaikan sebelum Magrib, namun halaman Utama dan Nasional harus dikerjakan secara bersamaan dengan materi halaman Olahraga. Biasanya proses pengerjaan dilakukan selepas pukul 8 malam hingga dinihari. Tak hanya itu, saya pernah mendapat kepercayaan lebih dari  manajemen, Ketika itu, saya diberi kepercayaan menjadi Asisten Redaktur Pelaksana (Penanggungjawab edisi Minggu) dan sekaligus merangkap Asisten Koordinator Liputan. Redaktur Pelaksana saat itu, Jayusdi Effendi. Koordinator Liputan ketika itu, Wiztian Yoetri.
Memasuki enam tahun saya “meninggalkan” Padang Ekspres, salah satu rubrik yang saya rintis bersama Montosori, Nashrian Bahzein dan Yusrizal KW, hingga kini masih eksis menjumpai pembaca Padang Ekspres setiap Minggu. Awalnya, rubrik itu kami isi secara bergantian berempat orang saja, namun belakangan justru membuat tim redaksi Padang Ekspres semakin tertantang untuk menulis, menuangkan gagasan dan pikiran kepada publik, namun perihal suasana kerja, saya tak tahu pasti. Semoga masih seperti yang dulu.
Ah, tiba-tiba saya teringat; bukan isu..!*



[1] Pemimpin Redaksi Padang Ekspres, Oktober 2008 – Mei 2009
Tulisan ini didedikasikan untuk peringatan 17 Tahun Padang Ekspres; 25 Januari 1999 - 25 Januari 2016

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...