22 March 2011

Cocok karena Dicocokkan

Oleh: Firdaus

Jika engkau tidak mempelajari syair, maka bahasamu akan kasar. Jika kamu tidak mempelajari kesusilaan, maka tabiatmu akan menjadi liar..... (confisius)

Ketika matahari bercincin ---lebih popular disebut dengan Halo Matahari--- di langit Kota Padang, Kamis (21/10) lalu, saya sedang berada di Bukittinggi. Dari sejumlah situs online yang sempat saya baca, banyak warga kota yang resah. Tak sedikit yang panik. Ketika membuka beranda facebook, ternyata teman-teman facebook saya yang berada di Padang sebahagian besar menulis statusnya seputar fenomena alam tersebut, dilengkapi dengan foto yang di-upload dari hp.
Pada status tersebut, juga tergambar kecemasan dan ketakutannya. Apalagi yang akan terjadi? Adakah ini tanda-tanda gempa besar yang akan diberengi dengan tsunami akan melanda Kota Padang?
Kecemasan itu bukan tidak beralasan. Sepekan sebelumnya, media terbitan Padang dan sejumlah media asal Jakarta, juga mengabarkan perihal ancaman gempa besar. Diperkirakan angkanya mencapai 8,9 sampai 9 SR akan melanda Kota Padang.
Gempa 30 September 2009 saja, yang hanya 7,6 SR kemudian ada yang merilis 8,1 SR, sudah terasa sangat dahsyat dan telah mengubah “skenario hidup” banyak orang. Masih dalam berita itu, selain gempa dahsyat tersebut, juga akan dibarengi dengan tsunami. Lengkaplah sudah ketakutan warga kota.
Pada hari itu juga, kabarnya tak sedikit warga yang meninggalkan kota. Berangkat menuju daerah yang dianggap lebih aman. Ketakutan dan kepanikan warga kota sangat terasa. Mereka menghubung-hubungkan dengan berita sepekan sebelumnya. Lalu memberikan asumsi sendiri dengan mencocok-cocokkan apa yang dibaca dan dilihatnya.

Benarkah Halo Matahari bagian dari tanda-tanda akan terjadi musibah tersebut? Ternyata tidak. Gejala alam tersebut adalah hal yang biasa. Halo Matahari terjadi karena awan cirrus membawa kristal-kristal es. Awan cirrus adalah awan tinggi dengan cirri-ciri tipis, berserat seperti bulu burung. Pada awan ini terdapat kristal-kristal es. Lantaran awan cirrus membawa kristal es dan bergerak cepat, lalu dibiaskan oleh cahaya matahari dengan sudut yang tepat, sehingga membentuk warna-warni pelangi mengelilingi matahari tersebut.
Tenyata, ketakutan tersebut tak beralasan. Ketakutan muncul (mungkin) karena ketidaktahuan saja, sehingga usai membaca berita sepekan sebelumnya, lalu ada fenomena alam tersebut, kemudian dihubung-hubungkan sehingga dianggap cocok karena memang sengaja dicocok-cocokkan sendiri.
Biasanya, segala sesuatu yang dicocok-cocokkan, akan menghasilkan jawaban dan pembenaran sendiri, menurut ukuran kita masing-masing. Setidaknya hal itu pernah saya rasakan sendiri.
Ketika masih duduk di bangku SMA, ketika membaca koran atau majalah yang ada ramalan bintangnya, saya tak pernah melewatkannya. Saya ingin tahu apa dan bagaimana “nasib” saya sebelumnya dan yang akan datang. Setelah membacanya, lalu saya hubung-hubungkan, eh… ternyata cocok. Salut juga saya pada orang yang menulis ramalan bintang tersebut.
Ketika Harian Pagi Padang Ekspres menerbitkan edisi Minggu, sepuluh tahun silam, atau tepatnya setelah koran ini berusia setahun, saya bersama tim kerja (Jonnedy Setiawan atau Jhon Nedy Kambang, kini di Trans TV. Hendri Parjiga, kini Asisten Korlip Padang Ekspres. Ode Barta Ananda (alm). Hendra Effison, kini Wapemred Posmetro Padang) ketika itu, merumuskan format edisi koran minggu.
Salah satu format yang diputuskan, memberikan opsi untuk remaja. Lalu hadirlah halaman Ekspresi. Isinya beragam. Ada karya sastra, artikel serta pernak-pernik yang berkaitan dengan anak muda. Kemudian juga diputuskan harus ada ramalan bintang. Alasannya, ramalan bintang masih sangat diminati banyak orang.
Usulan ramalan bintang diterima tanpa bantahan, hanya saja kemudian muncul masalah, siapa yang akan menulis? Di antara kami tak ada yang memiliki kapasitas untuk itu. Lalu semuanya mencari “literatur” perihal konsep tersebut. Beberapa waktu kemudian akhirnya kami memutuskan, kita coba saja dulu. Nanti akan cocok jika ada yang mencocok-cocokkannya.
Ternyata kehadiran ramalan bintang edisi perdana mendapat respon dari kawan-kawan kantor. Banyak yang mengaku cocok dengan kondisi kawan-kawan tersebut. Tentu saja respon itu membuat kami bersemangat, lalu pada minggu-minggu berikutnya kami tetap menurunkan ramalan bintang. Eh… kawan-kawan kantor yang membaca tetap mengaku cocok dengan kondisinya. Saya dan tim kerja edisi minggu hanya menjawab dengan senyum.
Ketika mereka menanyakan siapa yang menulis, kami tidak pernah buka kartu, siapa di balik nama penulis tersebut, sebab takut kepercayaan mereka luntur.
Sekali pun penulisnya bernama Ajo Sunguik, namun sesungguhnya ramalan bintang itu justru ditulis secara bergiliran. Format umumnya saja yang disepakati, sementara isinya tergantung suasana hati penulisnya.
Ternyata banyak yang mengaku kalau ramalan bintang tersebut cocok. “Cocok karena dicocok-cocokkan,” ungkap saya dan tim kerja edisi minggu bersemangat.
Tak salah kalau kemudian Confisius berpesan, jika engkau tidak mempelajari syair, maka bahasamu akan kasar. Jika kamu tidak mempelajari kesusuliaan, maka tabiatmu akan menjadi liar. Maknanya lebih kurang; jika kita mengetahui tentang sesuatu, maka kita tidak akan terjebak pada hal yang tidak pasti.*


Catatan: Tulisan ini dimuat Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu 24 Oktober 2010.

No comments:

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...