18 February 2011

Duh.., Manisnya Kamu di Lampu Mati


Cerpen: Firdaus Abie

”Sialan.........!”
”Lho, dari tadi menggerutu aja?”
”Bagaimana tidak. Sejak pukul empat sore hujan belum juga reda!”
”Aku tahu, tapi kalau hujannya tidak reda, batalkan saja acaranya!”
”Batalkan? Tak mungkin, deh..! ”
”Bagaimana tak mungkin, tak usah saja datang!”
”Maksudnya? ”
”Ya.., apelnya ditunda saja!”
”Aku bukan pergi apel. Tapi memenuhi undangan adik kelas yang berulang tahun”
”Yang ke berapa?”
”Sweet Seventeen! ”
”O........o... ” balas Jack, sambil membuat bulatan di bibirnya yang lumayan dower.
”Oh ya Jack! Bagaimana dengan yang pernah saya sampaikan tempo hari? ”
”Yang mana?”
”Pinjaman kepangmu buat malam ini”
”Beres deh, kalau perlu silahkan saja bawa gerobakku, kamu bisa mengambilnya di garasi”
”Biarlah, saya bawa kepang saja”
”Tapi kamu harus tahu dengan kebiasaan saya besok”
”Beres Boss.!”
Aku dan Jack bagaikan saudara yang tak bisa dipisahkan, sekali pun sebenarnya aku lebih sering menyusahkannya. Ia anak orang berpunya, namun tidak pernah berhitung dengan ku.
”Pakai ini deh Rud..! ” seru Jack melambaikan jaket biru yang selalu dipakainya bila membawa kepang di malam hari.

”Tidak usah! Sebentar lagi gerimis ini juga berhenti, ” balasku, langsung tancap gas melarikan kepangnya menuju rumah Ratih yang telah jadi pacarku semenjak delapan bulan terakhir.
Sebetulnya aku sama sekali tidak mau pacaran dengan gadis genit yang pencemburu itu. Namun apa boleh buat, Ratih mau saja aku terima jadi pacar, hanya sekedar untuk menopang kelanjutan sekolah, yang terkadang kiriman dari kampung sering datang terlambat.
”Dengan gerobak Ratih saja kita berangkat ya!” ajak Ratih, begitu aku sampai di rumahnya, "lihat tuh! Hujan malah bertambah deras” katanya lagi melihat cuaca yang tidak bersahabat.
Mulanya aku menolak ajakan itu. Kata gerobak untuk sebuah Mercy, betul-betul pukulan dan hinaan buatku yang cuma membawa kepang mengajaknya, itu pun barang pinjaman.
Tapi hujan tak kunjung juga berhenti membasahi bumi, terpaksa ajakan itu aku terima, walaupun dengan rasa dongkol.

***

Begitu sampai di rumah Elza, dara manis adik kelasku yang merayakan Ulang Tahun, aku melihat barisan kepang yang tersusun rapi di halaman. Ada juga tiga buah gerobak yang berbeda jauh dengan gerobak tongkrongan Ratih.
Hu.... betapa sombongnya Ratih, bukan tak ada gerobak yang sekelas dengan gerobak yang dipunyai teman-teman di rumahnya, tapi itulah Ratih ia belum puas kalau ia tidak disebut cewek nomer satu dalam segala hal. Tapi peduli apa dengan semuanya itu, tanpa pikir panjang lagi aku segera melompat dan berlari ke teras depan rumah yang halamannya telah dibasahi genangan air hujan.
Sengaja aku dan Ratih memilih duduk agak ke depan, hanya berbatas dengan satu baris kursi dihadapan meja tempat bertumpuknya beraneka ragam bingkisan dari para undangan. Ratih sengaja memberikan kadonya ke tangan yang berulang tahun, sama sekali aku tak tahu apa maksud semuanya itu. Padahal yang lainnya hanya meletakkan di tempat yang telah disediakan. Apa itu bukan sekedar nafsu untuk menonjolkan diri, hal yang amat sangat aku benci!
Keadaan pesta bagaikan pasar, yang mampu menampilkan berbagai jenis produk busana. Mulai dari yang sederhana sampai yang mewah, dari yang berukuran mini, sehingga menonjolkan kemulusan kaki serta paha pemiliknya. Sudah barang tentu semuanya jadi hiburan mata para lelaki yang melihatnya, termasuk aku.
Penampilan Elza yang serba sederhana, gaun berwarna pink sangat serasi sekali dengan kulitnya yang kuning langsat. Pilihan warna dan kesederhanaan itu justeru mencuatkan kepribadiannya yang lembut penuh pesona, menambah keanggunannya ditengah warna-warni meriah yang lazim dipakai orang-orang ditengah-tengah pesta seperti itu.
Ketika acara melantai tiba, Ratih berkali-kali mengajakku turun, namun aku menolak. Aku terpukau menyaksikan Elza, bagai bidadari ditengah-tengah orang biasa, justru karena kesederhanaan penampilannya. Tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang aneh pada diriku, jantungku berdebar tak menentu. Aku tak tahu apa yang tengah terjadi. Belum pernah aku merasakannya dalam hidup, yang telah lebih dari delapan belas tahun ini.
Disaat semua orang tengah asyik melantai dan tatkala aku asyik dengan lamunanku tentang bidadari yang berada di depanku, tiba-tiba saja lampu yang tadinya menerangi suasana jadi mati.
Suara terkejut memang jelas terdengar dari yang hadir. Ketika aku melongok keluar lewat kaca, mencari cahaya, kulihat siluet seorang perempuan, ”Elza......duh manisnya kamu!” gumamku dalam hati, penuh kekaguman melihat diri dara manis itu yang semakin anggun dalam keadaan begini.
”Tak salah bila di sekolah kamu jadi incaran teman lelaki” bisikku lagi dalam hati, karena takut terdengar orang lain.
Ada sesuatu menjalar di tubuh dan diriku, aku mencoba untuk bertahan, tapi tak kuasa. Ada suatu hasrat yang menggelora di diriku, hati kecilku mengajak untuk segera menyampaikannya disaat begini, saat Ulang Tahun dan lampu mati. Lagi pula selama acara berlangsung, tak seorangpun teman lelaki yang agak istimewa mendampingnya.
Perlahan aku mencoba mendekatinya dengan tujuan menyampaikan "bisikan rahasia" yang ada dalam hatiku, aku hanya berharap agar tidak diketahui orang yang hadir.
Tapi niat itu terpaksa tertunda lantaran lampu hidup kembali, sehingga mau tak mau aku harus sabar menanti saat yang tepat. ”Pokoknya malam ini juga!” itu targetku dalam diri.


****

”Ayolah Rud, kita pulang..!” ajak Ratih, namun ajakan yang sudah lebih dari sembilan kali itu aku tolak dengan berbagai alasan, terkadang aku tak memberikan reaksi terhadap ajakannya, yang ada dalam benakku hanya Elza !
Tanpa terasa sampai larut malam aku tertinggal sendirian. Ratih telah pulang dengan perasaan kecewa sendirian.
”Rasakan olehmu cewek brengsek, cewek murahan, cewek angkuh. Sejak dulu aku memang tidak suka dengan kesombonganmu, kamu hanya menang dalam hal kekayaan, yang lainnya sama sekali tidak kamu miliki,”
Lalu ku coba membanding-bandingkan Ratih dan Elza. Sangat berbeda. Keduanya bagaikan sosok yang bertolak belakang. Kucoba pula untuk menghayalkan, ku jemput Elza agar Ia selalu berada di sampingku. Begitu pun untuk malam ini, dalam dingin di bawah hujan dan angin.
”Belum pulang, kak? tanya sebuah suara. Suara Elza. Kali ini aku tidak berkhayal.
”Masih hujan!” jawabku, sebagai alasan. Kalau saja aku mau, aku bisa pulang dengan Ratih.
Aku terdiam, Elza juga, Suasana terasa makin mencekam, apalagi ditengah keadaan yang dingin dalam curahan hujan, sesekali terdengar juga lolongan anjing. Sebenarnya inilah saat yang tepat untuk menyampaikan bisikan cinta yang jauh dari relung-relung hatiku, tapi mulut ini seakan terkunci dengan kuat sekali. Aku tak dapat berkata apa-apa.
”Tidur disini saja, kak” ajaknya, memecah keheningan malam, ”Bisa sama kak Yudi aja,” sambungnya lagi.
”Terima kasih, sebentar lagi hujan juga reda,” tolakku.
Tak lama, dugaanku benar. Aku segera pamit, mohon diri pulang. Dengan setengah berlari aku meninggalkan rumah itu. Tapi sekitar tiga ratus meter dari rumah aku tergoda lagi dengan targetku. Tanpa pikir panjang lagi aku kembali balik kanan. Sesampai di rumahnya, pintu sudah tertutup. Lampu ruangan tengahpun sudah mati. Aku yakin semuanya sudah berangkat ke alam tidur.
Kugapai pena dan kertas yang selalu menemani saku ku. Tanpa menghiraukan rintik hujan, aku segera menulis dengan hati-hati sekali.

Selamat Ulang Tahun Elza bidadariku.......
Aku kumbang, tapi bukan penghidup madu,
Aku datang padamu, kembang yang mekar,
Serasa di Ulang Tahun mu ini ada yang tertinggal,
Aku ingin melengkapinya, semoga di tahun yang akan datang kekurangan itu dapat ku isi!
Aku ingin mendampingmu mengisi hari-hari dalam suka dan cita.
Aku ingin mendayung biduk cinta dan berlayar bersamamu. Ku tunggu jawabanmu !

Yang menunggu jawabanmu
Tamu Terakhir Tengah Malam


Setelah itu aku langsung meletakkan surat kilat khusus itu di atas meja, menghimpitnya dengan vas bunga kecil yang terletak di sana.
Lolongan anjing di tengah malam membuat ketakutan semakin memuncak dalam diriku. Kemana aku mesti minta pertolongan untuk sampai di rumah dengan selamat tanpa dihantui rasa takut?
Musatahil itu bisa aku lakukan, oh... betapa menakutkan sekali berjalan sendirian di bawah gerimis di tengah malam begini. Kenapa semua itu terjadi pada diriku?Apa yang mesti kukatakan sama Jack, kalau besok pagi ia bertanya tentang kepangnya? Barang itu masih di rumah Ratih!
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh bunyi klakson mobil dari belakang sangat keras. Dari jauh sebetulnya aku telah melihat cahaya lampu dari belakang, tapi yang tak kuduga, bunyi itu dibunyikan sengaja mendekatiku.
Secepatnya aku memungut batu di pinggir jalan, akan kuhajar bangsat yang berada di belakang setir gerobak itu! Ketika batu itu akan kuayunkan, dari dalam mobil terdengar suara ketawa ngakak, disertai teriakan, ”jangan Rudi! Ini aku, Jack! Gila, ngapian kamu pulang jalan kaki, apa kepangnya ngadat?” *

 (Padang, Juli 1991)


CATATAN: Cerpen ini ditulis ketika saya duduk di kelas III SMAN 4 Lubukbegalung, Padang. Dimuat di Mingguan KMS Singgalang, Agustus 1991

2 comments:

Dodi Syahputra said...

mantap. diketik ulang pasti. remaja banget....

Vivia said...

Siiip ini! (y)

Ruang Buku Karya Dosen Unand

   Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir  Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...