31 October 2019
Winner Smanli
Winner Smanli adalah nama tabloid SMAN 5 Padang. Demi menyalurkan semangat dan kemampuan menulis siswa dan gurunya, tabloid tersebut melekat dalam bentuk suplemen di Harian Umum Rakyat Sumbar, setiap edisi Sabtu.
Sang Kepsek Bunda Yenni memiliki impian, karya siswa dan guru sekolahnya tak hanya dibaca warga sekolah mereka saja, tetapi juga dibaca warga sekolah dan publik lebih luas.
Langkah ini, menurut Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Adib Alfikri merupakan sebuah terobosan. Katanya, menulis merupakan salah satu bentuk menunjukkan kita pernah ada.
Generasi Peradaban
Generasi Peradaban. Generasi muda harus mampu menyikapi kemajuan teknologi, jika tidak akan menjadi korban peradaban.
"Salah satunya, pengaruh gadget," kata ustad Zulfamiadi, kepada siswa MAN 1 Bukittinggi, saat Rakyat Sumbar Mengaji, Jumat (25/10).
"Salah satunya, pengaruh gadget," kata ustad Zulfamiadi, kepada siswa MAN 1 Bukittinggi, saat Rakyat Sumbar Mengaji, Jumat (25/10).
11 October 2019
Langit Cerah
Ada
yang istimewa saat program Rakyat Sumbar Mengaji, di SMAN 5 Padang,
Jumat 4 Oktober 2019, pagi kemarin. Ketika program dimulai, suasana
hangatnya pagi sangat terasa. Langit cerah.
Disaat membaca Alquran dilakukan seluruh siswa, guru dan tim Harian Umum Rakyat Sumbar, di lapangan terbuka sekolah tersebut, tiba-tiba suasana panas terasa berkurang. Segumpal awan menutupi sinar matahari. Gumpulan yang terlihat tidak terlalu banyak tersebut seakan terus menutupi teriknya matahari sampai seluruh proses mengaji bersama berakhir.
"Semoga kita selalu dilindungi dan diberikan rahmat oleh Allah," kata Kepala SMAN 5 Padang Bunda Yenni dan ustad Ardi Nasril.
Disaat membaca Alquran dilakukan seluruh siswa, guru dan tim Harian Umum Rakyat Sumbar, di lapangan terbuka sekolah tersebut, tiba-tiba suasana panas terasa berkurang. Segumpal awan menutupi sinar matahari. Gumpulan yang terlihat tidak terlalu banyak tersebut seakan terus menutupi teriknya matahari sampai seluruh proses mengaji bersama berakhir.
"Semoga kita selalu dilindungi dan diberikan rahmat oleh Allah," kata Kepala SMAN 5 Padang Bunda Yenni dan ustad Ardi Nasril.
24 September 2019
“Targetnya harus Tinggi..”
Zhilan Zhalila Berbagi di SMAN
Unggul Dharmasraya
Kualitas udara di Dharmasraya, Sabtu (21/9), buruk. Sekolah
diliburkan. Siswa SMA Negeri Unggul Dharmasraya (Smanud) yang menetap di
asrama, tetap beraktivitas. Mereka berlatih menulis bersama rekan sebayanya,
Zhilan Zhalila, penulis kumpulan cerpen Tasbih Untuk Papa, yang sehari-hari
siswa SMAN 3 Padang.
Proses berbaginya sangat sederhana. Semua siswa melantai. Ketika sesi
praktek menulis cerpen, ada yang menulis sambil tengkurap, “menulislah secara santai, cerpen ini harus tuntas dan bisa menembus
media,” kata beberapa siswa bersemangat.
Semangat itu membuat Mulyadi, M.Pd, Pengawas di Dinas Pendidikan
Provinsi Sumbar, dan Kepala SMA Negeri Unggul Dharmasraya Saliyono M.Pd
bersemangat pula mendampingi peserta, “ya, targetnya harus tinggi!” katanya
sembari mendatangi peserta satu persatu bersama Zhilan Zhalila yang juga
penulis binaan Bengkel Literasi Rakyat Sumbar.
“Paksa media untuk memuat karya kalian,” kata Mulyadi, pemegang gelar
Juara I Best Practice tingkat Nasional, 2019.
Kata paksa yang dilontarkan sang pengawas berprestasi nasional
tersebut berkonotasi positif. Ia memotivasi siswa menghasilkan karya yang baik,
bagus dan layak muat. Apalagi, katanya membeberkan, pelatihan diformat
sedemikian rupa dalam bentuk berbagi.
“Pematerinya, teman sebaya dan praktisi,” kata Nenri Gusni, Ketua
Panitia Gema Literasi Smanud yang juga Wakil Kepala Sekolah di SMA Negeri
Unggul Dharmasraya.
Pelatihan menulis untuk siswa menghadirkan Zhilan Zhalila dan Firdaus
Abie, General Manager Harian Umum Rakyat Sumbar yang juga penulis cerpen dan
penulis sejumlah buku. Keduanya menularkan kiat-kiat praktis menulis.
Siswa dibekali pemahaman bahwa menulis tidak sesulit yang dibayangkan.
Menulis tidak harus punya bakat terlebih dahulu. Tidak harus terpaku pada
banyak aturan dan batasan. Tulis saja apa yang hendak ditulis.
“Jangan takut gagal, apalagi sampai membayangkan tulisannya buruk.
Jika diawal sudah disertai ketakutan, dikuatirkan tidak akan pernah ada karya
yang dihasilkan,” kata Zhilan.
Sesi berbagi dilanjutkan dengan praktek menulis. Semua peserta diminta
untuk menulis cerpen. Selesai menulis, sejumlah naskah dibacakan oleh
penulisnya, lalu dimintai pendapat peserta. Proses tersebut berlangsung
menarik. Banyak yang memberik,an kritik dan saran terhadap naskah tersebut, di
sisi lain penulisnya mempertahankan materinya dari “serangan” peserta lain.
Kepala SMA Negeri Unggul Dharmasraya Saliyono M.Pd mengungkapkan,
pelatihan tersebut bagian dari upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis
kepada siswanya. Saatnya siswa dibekali kemampuan khusus untuk memantapkan
langkah mereka ke depan.
“Kelak akan hadir penulis-penulis hebat dari sekolah kami,” katanya
optimis.
Usai membuka Gema Literasi SMA Negeri Unggul Dharmasraya, mengangkat
tema Cerdas Berliterasi Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0, Mulyadi, M.Pd
melanjutkan pembekalan kepada guru dalam bentuk IHT Pembelajaran Abad 21
Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Menurut Mulyadi, tuntutan guru abad 21 semakin besar. Revolusi
Industri 4.0 menuntut kesiapan dari segala sisi. Perubahan pada peserta didik
harus diikuti dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik. *
Menulis dalam Kabut
Udara di Kotobaru, Dharmasraya, Sabtu 21 Februari 2019, buruk. Sekolah diliburkan, tapi di SMA Negeri Unggul Dharmasraya (Smanud), aktivitas di dalam kelas terus berlangsung. Sebanyak 60 siswa menikmati suasana menulis. Teman sebayanya, Zhilan Zhalila, siswi SMA Negeri 3 Padang, penulis kumcer Tasbih Untuk Papa, hadir di tengah-tengah mereka dalam program Gema Literasi Smanud yang mengangkat tema Cerdas Berliterasi Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang dibuka Mulyadi, Pengawas di Dinas Pendidikan Sumbar.
Foto pertama, Zhilan Zhalila menyerahkan bukunya kepada Kepala Smanud Saliyono, dan foto kedua ketika ia di hadapan teman sebayanya. Foto ketiga, bersama pak Mulyadhie Wijaya Ry
IHT Pembelajaran Abad 21
Saat IHT Pembelajaran Abad 21 Dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0, di SMAN Unggul Dharmasraya, saya diberi kesempatan untuk berbagi di hadapan Pengawas Dinas Pendidikan Sumbar Mulyadi M.Pd dan Kepala SMAN Unggul Dharmasraya Saliyono S.Pd, kepada majelis guru di SMAN Unggul Dharmasraya tentang pentingnya kemampuan menulis dimiliki oleh guru, Sabtu 21 September 2019.
"Nafsu ya Melihat Siswanya?"
Saat berbagi ilmu menulis kepada siswa SMA Negeri Unggul Dharmasraya, Sabtu (21/9) lalu, saya dipertemukan dengan Mulyadhie Wijaya Ry, salah seorang Pengawas di Dinas Pendidikan Sumbar.
Beliau berkisah tentang kerisauannya terhadap sikap dan komitmen guru dalam mendidik siswa dan semakin renggangnya hubungan guru kepada murid.
"Malahan ada guru yang mengaku enggan bersalaman dengan siswa. Lho, kok seperti itu? Nasfu ya melihat siswanya?" tanya beliau kepada guru tersebut.
Pertanyaan itu, katanya, ternyata langsung menyadarkan sang guru, "mereka anak saya, kenapa saya nafsu, pak?"
"Ya, begitu seharusnya" kata pemegang gelar Juara I Penulisan Best Practice tingkat Nasional, 2019.
Terima kasih pak Saliyono, Kepala SMAN Unggul Dharmasraya, dan buk Nenri Gusni, Waka Kesiswaan SMA Negeri Unggul Dharmasraya yang menginisiasi Gema Literasi di SMAN Unggul Dharmasraya, sekaligus mempertemukan saya dengan sosok hebat, Pengawas Beprestasi Nasional (Peringkat I Nasional) tahun 2019.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Oleh: Firdaus Entah kenapa, pada momentum peringatan Hari Ibu, kali ini, saya teringat pada cerpen karya A.A Navis (alm). Cerpen ...
-
Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...
-
Warga Dua Komplek Atasi Kebutuhan Air: Ada kisah di balik musibah. Kisahnya terukir tanpa sengaja. Ketika kerisauan hadir karena kebutuh...







