Oleh: Firdaus Abie
Jamaknya tolok ukur sebuah multievent olahraga, diukur dari perolehan medali kontingen yang berlaga. Di arena Pekan Olahraga Nasional (PON), kontingen Sumbar pernah terpuruk di posisi yang buruk. Pernah dua kali pulang tanpa sekeping emas pun. Terjadi tahun 1969 dan 2000. Keduanya di Surabaya, Jawa Timur.
Satu-satunya medali yang dibawa pulang, tahun 1969, medali perunggu. Berasal dari panahan beregu atas nama Mursyidah Arifin, Odi Supardana, Olga Nurbaiti Ali, Nuzra. Berada di posisi ke-22. Empat perak pada PON 2000 dipersembahkan angkat berat, takraw, gulat dan layar. Selain itu, ada tujuh perunggu. Saat itu, Sumbar berada di peringkat 26.
Usai PON di Surabaya, tahun 2000, Sumbar buncah. Kecewa, caci maki dan beragam pernyataan mencuat ke permukaan. Kendati ketika itu belum ada media sosial seperti sekarang, namun umpatan-umpatan tersebut meluncur dari mulut ke mulut. Setiap hari.
Buntutnya, evaluasi besar-besaran dilakukan. Langkah besar pertama, Musyawarah Olahraga Daerah Luar Biasa (Musyordalub) KONI Sumbar, tak terhindarkan. Dilakukan pemilihan ulang pengurus. Salah satu indikatornya, agar persiapan ke PON di Sumatera Selatan, tahun 2004, bisa lebih dimaksimalkan.