Hari menjelang petang. Gema takbir sudah
berkumandang. Besok lebaran haji. Hujan belum juga reda. Sejak selepas Zuhur, Abdie
tak bisa apa-apa. Hanya berganti koran dan majalah saja di tangannya. Abdie
tampak gelisah.
Tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya,
meski sebenarnya banyak rencana yang sudah disusun. Panjar orgen belum dibayar,
begitupun dengan panjar kursi, tenda, pelaminan dan katering. Jika tak dibayar
sesore ini, alamat pesanan itu akan dibatalkan sepihak pemilik kursi, tenda,
pelaminan dan katering.
Undangan sudah disebar. Tak mungkin diundur.
Kalaupun bisa, tentu orang akan tertawa. Pernikahan Abdie diundur gara-gara tak
dapat kursi, tenda, pelaminan dan katering. Kalau ini terjadi, maka akan
tertawalah dunia.
Kemanalah muka akan disurukkan, padahal ini tak
seberapa jika dibandingkan pergolakan batin dan materil yang sudah dilaluinya.
Perjuangan terberat itu, sebenarnya sudah dilalui. Kalau hanya gara-gara ini,
tak tahulah!
Pergolakan terberat yang sudah dilalui Abdie
justru meyakinkan orangtua dan mamaknya. Keluarganya masih memegang teguh adat
istiadat yang sudah turun temurun dari nenek moyangnya. Tak akan tergoyahkan oleh badai
sekalipun.
Ketika manapiak bandua[1],
orangtua dan mamak meminta agar anak kemenakannya dijapuik[2]
senilai 150 ameh[3]. Selaku orang Padang
yang terikat dengan adat, keluarga perempuanlah yang meminang laki-laki. Pinangan
keluarga perempuan baru bisa diterima kalau sudah mengabulkan permintaan panjapuik.
Panjapuiknyo beragam. Ada yang meminta uang senilai benda tertentu, atau ada yang
langsung meminta benda tersebut. Nilainya tidak tetap. Umumnya, besar kecilnya
nilai panjapuik tergantung pekerjaan lelaki yang dipinang. Makin jelas
dan pasti pekerjaannya, makin tinggi nilai jemputannya.
Dari banyak profesi yang ada, nilai jemputan untuk
perwira militer paling tinggi, diikuti dokter. Untuk jemputan dokter seperti
Abdie, uang jemputan senilai 150 ameh tidaklah terlalu tinggi. Pernah sopir
oyak[4]
saja dijemput keluarga perempuan senilai 10 ameh.
Hanya saja, bagi keluarga Diah, yang juga orang
Padang, nilainya terasa tinggi. Keduanya hanya guru yang hidup pas-pasan dari
bulan ke bulan menghidupi Diah dan dua adiknya.
“Bukan materinya, tetapi ini bagian dari harga diri
kita di kampung dimuka adat. Makin tinggi nilai panjapuiknya, makin tinggi
nilai kita dipandang orang kampung,” terang Rukiyah, mande[5]Abdie. “Kalau waang tak mau, silakan protes ke mamak waang. Jangan
pada saya,” jawab ibunya berang, ketika Abdie protes mengenai uang panjapuik itu.
Abdie punya alasan yang masuk akal. Ia sudah lama
pacaran dengan Diah. Lagi pula, Diah juga bekerja. Di sebuah perusahaan swasta.
Untuk pernikahannya, tentu saja Diah dan keluarganya mempersiapkan biaya yang
tak sedikit. Tak hanya untuk dapur, tetapi juga untuk kamar. Jika ditambah
beban uang jemputan, berapalah biaya yang harus dipersiapkannya. Tak
terbayangkan oleh Abdie.
Tapi aturan adat yang dipakai orangtua dan
mamaknya tak bisa ditawar-tawar. Apapun alasan masuk akal yang ditawarkan
Abdie, tetap saja tak bisa diterima. Mau protes langsung pada mamaknya, Abdie
belum berani.
Terlalu dini baginya menantang kemauan mamaknya, Datuak
Rangkayo Mulie, pemuka adat terpandang di kampungnya. Keputusan mamaknya
merupakan keputusan tertinggi di dalam kaum dan kampungnya. Tak seorangpun yang
bisa mengubah keputusan Datuak Rangkayo Mulie.
Dalam kegelisahan setelah keluarga Diah manapiak bandua,
lama Abdie mencari akal untuk menuntaskan impiannya mempersunting gadis
pujaannya itu. Bagi Abdie, Diah merupakan sosok gadis dambaan.
Kini harapan mempersunting gadis itu, sebenarnya
sudah di depan mata, tetapi syarat yang diajukan orangtua dan mamaknya sangat
tinggi. Sulit untuk dipenuhi pada masa sulit ini.
Abdie terus memeras otak. Status sosial yang
disandangnya, seakan membuatnya berjarak dengan kehidupan sesungguhnya. Status
yang seharusnya dihargai sebagai profesi, justru dapat ditakar dengan rupiah.
Jarak itu pula yang membuatnya terlambat menikah. Pernah beberapa kali ada yang
datang kepada keluarganya, namun jemputan yang dipatok keluarganya justru di
atas nilai sekarang.
Abdie tak ingin kesempatan kali ini sia-sia. Ia
yakin keluarga Diah akan kesulitan memenuhi permintaan keluarganya. Kalau itu
terjadi, bisa saja pernikahan hanya ada dalam angan.
Abdie terus memeras otak untuk dapat membantu
keluarga Diah. Sebagai sarjana kedokteran yang belum memiliki izin praktek, tak
banyak simpanan yang dimilikinya. Dalam kebingungan, antara ada dan tiada jalan
keluar, senyum Abdie mengambang ketika pikirannya tertuju ke gudang obat-obatan
di rumah sakit.
***
Ada perasaan tak enak pada Abdie, ketika mande dan
Datuak Rangkayo Mulie menghitung kembali uang yang diantarkan ayah dan ibu
Diah, tak lama setelah calon mertuanya itu pergi.
“Waang[6]lihatlah uang ini. Siapa bilang
mereka tak punya uang. Ini pun belum seberapa jika dibandingkan dengan
mendapatkan minantu[7]
dokter,” kata mande sembari merapikan uang-uangnya.
Abdie tak menjawab, tapi hatinya geram. Dirinya
telah diperjualbelikan adat. Ditentangnya adat, sama artinya ia menentang
aturan tanah leluhur, menentang mande dan mamak. Di tanah leluhurnya, kalau
menentang adat, bisa dibuang sepanjang adat. Kalau itu terjadi, ia harus
meninggalkan kampungnya untuk selamanya. Tak mungkin untuk pulang, walau
sejenak.
Abdie tak bisa membayangkan kalau uang itu tetap berada
di tangannya. Sepekan lalu uang itu diserahkannya kepada keluarga Diah untuk
diberikan kepada keluarganya. Kalaulah uang itu menjadi miliknya, akan banyak
rencana yang dilakukannya. Terutama untuk membangun ruang praktek jika izin
praktek sudah dikantonginya. Uang itu akan lebih berarti dipergunakannya
ketimbang sampai ke tangan mamak dan mande.
Ia tahu siapa mamaknya.. Meski sudah berbini tiga,
tetap saja punya karisma yang mampu menaklukan hati cewek. Tak gadis, tak
janda. Istri orangpun sering terpikat padanya. Padahal Datuak Rangkayo Mulie
tak memiliki ilmu kebatinan sama sekali, juga tak ada pamanih10.
Kesehariannya, Datuak Rangkayo Mulie terkenal
sebagai orang yang santun terhadap siapa saja. Tutur sapanya lemah lembut. Tapi
Ia tegas dalam bersikap dan selalu adil dalam membuat keputusan. Ibadahnya
kuat.
Terhadap aturan adat, Datuak Rangkayo Mulie tak
bisa ditawar-tawar. Pernah suatu kali Datuak Rangkayo Mulie meletakkan jabatan
adatnya lantaran ada yang mengusik ketegasannya menerapkan aturan adat. Sejak
diletakkan, aturan adat di kampungnya menjadi lemah. Tak ada yang bisa
mengawalnya. Tingkah laku orang makin tak terkendali. Ahkirnya, masyarakat
setempat memintanya lagi untuk memimpin mereka.
Datuak Rangkayo Mulie bersedia menerima kembali
kepercayaan itu dengan syarat, semua harus kembali ke aturan adat. Jika tidak,
hanya satu dari dua pilihan, yang tak patuh harus keluar dari kampung itu untuk
selamanya atau dirinya yang keluar. Masyarakat memutuskan untuk memilih yang
pertama. Kalau tak patuh dengan aturan adat,harus keluar dari kampung itu untuk selamanya.
Abdie juga tahu siapa mandenya. Di mata Abdie,
mandenya terlalu pemurah. Jika sudah beruang, ada saja yang akan dibantunya.
Tak hanya lingkungan keluarga dekat, orang-orang yang tak ada hubungan keluarga
dengannya pun dibantu.
Apalagi kalau ada yang minta bantuan untuk makan
atau sekolah, mande akan taroroh dibuatnya. Apa saja yang ada padanya
akan diberikan. Pernah suatu kali, ketika Abdie meminta uang semester, secara
bersamaan datang tetangga mengadu. Katanya meminjam uang. Dua anaknya sudah
diusir dari sekolah karena masing-masing sudah enam bulan uang sekolahnya belum
dibayar. Jatah uang semester Abdie pun diberikan kepada tetangga tersebut.
Perasaan Abdie semakin tak enak, kian gundah
ketika mande membagi-bagikan uang panjapuik itu. Dirinya dapat lima persen. Kata
mande, untuk memulai hidup baru. Mande lima puluh persen. Datuak Rangkayo Mulie
dua puluh persen. Sisanya dibagi seluruh keluarga yang hadir ketika mambukakkado[8].
***
Keceriaan di rumah Rukiyah, menjelang petang, terhenti
sejenak. Semua mata tertuju ke halaman depan rumah. Sebuah mobil patroli polisi
berhenti. Tiga orang keluar dari dalam mobil. Dua di antaranya mengenakan
seragam polisi lengkap. Rukiyah menyongsong keluar, diikuti Diah, yang datang
bersama Abdie sejak pagi. Abdie juga mengikuti, tapi langkahnya tersendat-sendat.
“Benarkah ini rumah buk Rukiyah, orang tuanya
Abdie, bu?” tanya salah seorang berpakaian seragam lengkap.
Rukiyah membenarkan. “Saya sendiri Rukiyah. Ini
Abdie. Silakan masuk dulu,” ajaknya.
“Terima kasih, bu. Kami hanya ingin memberikan
surat ini kepada Abdie dan sekaligus bermaksud membawa ke kantor,” jelas yang
berpakaian preman sembari memberikan surat itu kepada Abdie. Abdie menerimanya,
lalu disuruh baca oleh yang memberikan surat itu.
“Surat apa? Adaapa dengannya?” tanya Rukiyah heran. Diah malah sudah cemas, takut dan
menangis.
“Surat penangkapan, bu. Ada laporan dari rumah
sakit, Abdie mencuri obat-obatan,” jawab petugas berseragam.
Bagaikan disambar petir, Rukiyah tersentak. Ia tak
percaya. Tapi Abdie sudah melangkah menuju mobil patroli sembari dituntun dua
petugas. Diah meraung. Menahan langkah suaminya. Rukiyah pun mengejar. Mencoba
menahan langkah petugas yang membawa anaknya.
“Benarkah waang mencuri?” tanya Rukiyah
kepada Abdie.
Yang ditanya hanya diam sembari tetap melangkah.
Rukiyah mengulangi pertanyaan. Abdie menjawab dengan anggukan. Rukiyah
tersentak.
Tangis Diah makin keras sembari tetap mencoba
menahan langkah suaminya. Polisi berusaha untuk terus memberikan jalan kepada
Abdie menaiki mobil patroli yang sedari tadi mesinnya masih hidup. Tetangga pun
mulai berdatangan.
“Waang pergunakan untuk apa uangnya?”
Rukiyah melanjutkan pertanyaan. Dadanya turun naik tak karuan.
“Membantu keluarga Diah, penambah uang jemputan,”
Abdie menjawab enteng.*
·Hujan
di awal tahun,2-3
Januari 2007
[1] Pendekatan awal kedua belah
pihak untuk membicarakan rencana pernikahan anak dan keponakan.
[2]
Dijapuik = Dijemput. Dalam tradisi Minangkabau, terutama adat Pariaman dan
Padang, lelaki akan dijapuik keluarga perempuan dengan nilai tertentu. Barang
untuk penjemput itu disebut panjapuik (penjemput). Panjapuiknyo (Penjemputnya).
Tradisi dijapuik ini awalnya merupakan tradisi
Pariaman. Sebahagian besar wilayah Kota Padang sekarang dulunya masuk wilayah
Pariaman, sehingga tradisi di daerah yang dulunya bagian dari wilayah Pariaman
masih memakai tradisi dijapuik.
Sesungguhnya, berkaitan dengan perkawinan ada tiga
kategori uang (Bahasa Minangnya, pitih). Pertama, Pitih Hilang = Uang Hilang.
Pada pitih hilang, keluarga perempuan memberikan sejumlah uang kepada keluarga
laki-laki, sebanyak yang diminta keluarga laki-laki. Kedua, Pitih Dapua = Uang
Dapur. Keluarga perempuan membantu biaya dapur keluarga laki-laki untuk
pelaksanaan pernikahan. Pitih Panjapuik = Uang jemputan. Keluarga laki-laki
meminta sejumlah uang atau barang berharga kepada keluarga perempuan. Diakhir
prosesi pernikahan, uang atau barang berharga itu diberikan kepada kedua
pengantin untuk modal awal memulai kehidupan rumah tangga. elakangan,
keberadaan uang hilang ditentang kalangan muda karena dianggap memberatkan
beban keluarga perempuan.
Tradisi di Padang, sejak dulu hanya mengenal istilah
pitih panjapuik. Hanya saja, keberadaannya sama dengan uang hilang pada tradisi
di Pariaman.
[3]Emas. Takarannya
emas 24 karat. Nilai satu ameh sebesar 2,5 gram emas 24 karat.
[8]Membuka kado.Tradisi di Minangkabau, setelah pesta
pernikahan, maka semua kado yang dibawa tamu akan dibuka secara terbuka pada
lingkungan keluarga besar yang menikah. Biasanya, mereka yang hadir pada acara mambukak
kado itu akan dapat bagian dari kado yang diperoleh.
No comments:
Post a Comment