CINCIN KELOPAK MAWAR
19 May 2026
Berusaha Selalu Sehat
14 May 2026
Kumcer Berbahasa Minang “Mangaji Indak Khatam”
Cermin Sosial, Ruang Kontemplasi, dan
Dokumentasi Kultural
Oleh: Dirwan Ahmad Darwis,
Ph.D.

Saya ingin mengulas kumpulan
cerpen yang ditulis berbahasa Minang, Mangaji Indak Khatam, karya
Firdaus Abie. Tujuannya tidak sekadar merangkum isi buku, tetapi berusaha
menyingkap lapisan-lapisan makna yang terkandung di dalamnya, baik dari sisi
estetik, sosial, maupun budaya.
Setelah membaca seluruh cerpen,
saya berkesimpulan bahwa karya ini memiliki kekuatan yang tidak selalu tampak
di permukaan. Materi awal dibuka dengan cerita-cerita ini terasa ringan, akrab,
dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, khususnya dalam kehidupan orang
Minangkabau.
Di balik kesederhanaan itulah
keistimewaannya: penulis berhasil mengolah peristiwa-peristiwa biasa menjadi
refleksi sosial yang tajam, tanpa kehilangan daya pikat naratifnya karena
ceritanya lebih dekat dengan kehidupan
orang Minangkabau asli.
05 April 2026
Berbagi Cerita Bersama Zhilan Zhalila (Bag 4)
Capaianya Melebihi Ekspektasi Sekolah!
Suasana di SDN 10 Sangkir, Lubuk Basung, Kab
Agam, terlihat beda dari biasanya. Murid sekolah tersebut sudah duduk berbaris
di halaman sekolah, majelis guru dan pegawai menunggu dengan penuh kegembiraan.
“Saya datang bersama kak Zhilan Zhalila, berbagi
dengan anak-anak semua,” kata Bunda Literasi Kab Agam Hj Merry Beny Warlis, di
SDN 10 Sangkir, Sabtu (4/4) pagi.
Kedatangan Hj Merry Beny Warlis ke sekolah tidak
diduga oleh Kepsek Yeni Yulfianti S.Pd serta majelis guru dan pegawai. Semula
hanya terjadwal kedatangan Zhilan Zhalila, penulis cerita anak dan pegiat
literasi, namun kehadiran Zhilan Zhalila diketahui Hj Merry Benny Warlis.
Sang Bunda Literasi yang terus berjuangan
menyalakan literasi di Agam, mengundang Zhilan Zhalila sarapan pagi di rumah
dinas Bupati Agam, sekaligus mengajak Kepala SDN 10 Sangkir. Setelah
silaturrahmi sejenak, Hj Merry Beny Warlis menyampaikan ingin langsung hadir ke
sekolah. Kehadirannya tentu saja mengejutkan Kepsek dan guru serta pegawai
lain.
14 February 2026
Zhilan Zhalila Berbagi Cerita (Bag 2)
Berbagi di Sekolah Terdampak Bencana
Zhilan Zhalila dan Firdaus Abie, dua orang pegiat literasi asal Kota Padang – Sumbar, diduetkan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Agam, berbagi di sekolah terdampak bencana. Keduanya menghadirkan suasana baru bagi pelajar SD 06 Kubu, Sungai Batang, Kec Tanjung Raya.
Disaat kegiatan
berlangsung sangat meriah dan penuh semangat, mereka terkejut ketika acara
diakhiri, ketika hujan mulai turun disaat petang menjelang.
Ancaman Terkurung
Banjir
04 December 2025
Sumur Tua Pelipur Lara Pascabencana
Warga
Dua Komplek Atasi Kebutuhan Air:
Ada kisah di balik musibah. Kisahnya terukir tanpa sengaja. Ketika kerisauan hadir karena kebutuhan air bersih tak terpenuhi, sebuah sumur tua dimanfaatkan warga dua komplek perumahan untuk kebutuhan harian. Sumur tua menjadi pelipur-lara pascabencana.
Nun di sebuah kawasan komplek perumahan, tak jauh dari Lubuk Minturun yang menghadirkan lara, masyarakat antri sepanjang hari untuk mendapatkan air bersih. Murni inisiatif dan swadaya masyarakat. Tak ada jejak tangan pemerintah di sana.
20 May 2023
Ruang Buku Karya Dosen Unand
Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir Insannul Kamil,
M.Eng, Ph.D, WR
III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku
Mahasiswa jika tak Bisa Menulis.
Pernyataan ini menarik bagi saya. Mahasiswa
saja, tidak boleh mengaku mahasiswa jika tidak bisa menulis.
Lalu saya sampaikan pada beliau, jika standar jadi mahasiswa saja sudah tinggi, bagaimana dengan dosennya.
Beliau menjawab; Saya yakin, Pak Firdaus bisa menemukan jawabannya . Bukankah Pak Firdaus minimal dua atau tiga kali seminggu ke kampus Unand?
Saya ke kampus, menjalani aktivitas
mengantar atau jemput anak saya, Ia kuliah jurusan Sastra Indonesia. Saya
jemput antar ini karena Ia tak punya kendaraan sendiri. Sering naik Trans
Padang dari Lubuk Buaya ke Simpang Ketapiang via By Pass, lalu menyambung dari
Simpang Ketapiang ke kampus. Kadang dari Lubuk Buaya dengan Kereta Api ke
Simpang Haru, baru dari Simpang Haru ke Kampus. Begitu sebaliknya.
Jika Ia latihan teater, baru saya
jemput.
Pernyataan Pak Nanuk tersebut, terjawab, setelah pak Dr
Ing Ir Uyung Gatot Syafrawi Dinata, M.T menyampaikan;
akan ada loaunching Ruang Buku karya
Dosen Unand. Ada 3.542 buku karya dosen Unand.
Pada kesempatan ini, izinkan saya menyampaikan
beberapa hal:
1. Saya memberikan apresiasi terhadap kehadiran RuangBuku Karya Dosen Unand ini. Kehadiran Ruang
Buku Karya Dosen Unand ini akan memberikan dorongan yang sangat dahsyat
kepada publik, khususnya mahasiswa di Unand, bahwa ternyata di sela-sela
kesibukan dosen yang sangat luar biasa,
ternyata masih bisa berkarya dan meninggalkan legacy kecerdasan.
Karya dalam bentuk tulisan, apalagi sudah
menjadi buku, merupakan pusaka yang tak akan pernah habis dan tidak akan kering.
Malahan akan bisa terus ditimba manfaatnya setiap saat.
Sebuah buku, menurut saya dapat dilihat dari
dua sisi:
Pertama;
Usia
intelektual sebuah buku jauh lebih panjang dari pada usia penulisnya.
Novel Siti Nurbaya, Kasih tak Sampai,
diterbitkan Balai Pustaka, tahun 1922. Hingga kini masih menjadi bahan kajian,
khususnya di dunia pendidikan. Penulisnya, Marah Rusli, meninggal pada 17 Januari 1968 di Bandung,
dalam usia 79 tahun.
Atau, buku yang lebih tua. Buku yang ditulis Plato,
The Republik. Ditulis sekitar 380 tahun SM, (perkiraan, usia Plato saat itu, 40
tahun) teks ini dianggap sebagai salah satu karya paling berpengaruh yang
pernah ditulis. The Republik mengamati keadilan dalam manusia dan politik, membahas peran filsuf dalam masyarakat. Banyak
konsep intelektual yang terkandung dalam buku yang masih dibahas sampai hari
ini.
Kedua;
Berpengaruh
bagi kehidupan dan dapat mengubah dunia.
Salah satu yang paling nyata di Belitung. Sejak
novel dan film Laskar Pelangi, karya Andrea Hirata, minset masyarakat setempat telah berubah. Kehidupan masyarakat yang
sebelumnya dari tambang, berubah kepada sesuatu yang
lebih besar dan menjanjikan daripada tambang, yaitu Pariwisata.
Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara (ketika
itu) I Gde Pitana menyebutkan, sebelum ada
film Laskar
Pelangi, Belitung tidak ada di Peta
Pariwisata Indonesia, sekarang justru menjadi salah satu dari Destinasi
Prioritas Indonesia. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Belitung meningkat hingga
seribu persen lebih.
2. Setelah adanya RuangBuku Karya Dosen Unand ini, apa lagi?
Harapan terbesar dan harus direalisasikan adalah, ruangan ini
benar-benar dikunjungi, dan buku-bukunya
dibaca orang. Dibaca sesama dosen. Dibaca mahasiswa dan masyarakat luas.
Menjadi referensi bagi ilmu pengetahuan.
Jika ruangan sudah bagus, sejuk dan repsentatif, buku-bukunya
banyak dan lengkap, namun tidak dikunjungi orang, bukunya tidak dibaca orang, sedih
juga rasanya. Maka ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi pengelolanya.
Dibutuhkan perhatian dan komitmen bersama, agar Ruang Buku Karya Dosen Unand benar-benar
dikunjungi dan bukunya dibaca, lebih khusus dibaca mahasiswa. Bagaimana
caranya? Saya yakin, pengelola pasti sudah mempersiapkan langkahnya.
Setidaknya, mahasiswa “dipaksa” (dalam arti positif) untuk datang ke Ruang Buku Karya Dosen Unand, melalui
tugas-tugas tertentu.
3. Jika hari ini kita launching Ruang
Buku Karya Dosen Unand di sini, semoga besok atau lusa, akan hadir Ruang Buku Karya Dosen Unand di berbagai titik strategis di kampus tercinta
ini. Bisa saja, misalnya, di kantin, di masjid, di tempat-tempat kegiatan
mahasiswa lainnya. Kita antarkan buku-buku ke sana, sehingga titik fokusnya
tidak hanya di sini saja. Kalau hanya di sini, maka mereka dengan sengaja untuk
hadir dan membacanya di sini, rasanya hal tersebut akan sulit terjadi pada
situasi sekarang. Atau, minimal, Ruang
Buku Karya Dosen Unand ada disetiap fakultas, dan buku-bukunya karya dosen
di fakultas tersebut.
Saya teringat inspirasi beberapa sekolah yang sangat peduli
dalam pengembangan literasi, yang pernah saya kunjungi. Misalnya, di SMA Negeri 5 Padang dan SMAN 4 Bukittinggi.
Sekolah ini tak hanya mengandalkan perpustakaan, tetapi sengaja meletakkan
buku-buku pada titik yang sering dikunjungi siswa dan orang tua.
Ada rak dan buku di pos penjagaan sekolah. Orang tua atau
keluarga yang menjemput anak-anaknya, bisa memanfaatkan waktu menunggu tersebut
dengan membaca. Walau tidak sampai selesai, memungkinkan mereka untuk
melanjutkan pada hari-hari berikutnya.
Ada buku di ruang tunggu kepala sekolah dan guru. Ada buku di
masjid sekolah. Ada juga beberapa sudut lainnya di sekolah tersebut.
Di SMPN 1 Padang, selain perpustakaan sekolah, juga ada pojok
baca lainnya. Mereka menamai dengan Pojok Baca Bung Hatta, karena tokoh
bangsa tersebut pernah bersekolah di sana.
Ada juga inspirasi dari SMPN 10 Padang, SMPN 3 Ampek Angek -
Agam dan SMAN 6 Padang. Sekolah ini tak hanya mengandalkan perpustakaan dalam
bentuk fisik buku. Juga memiliki perpustakaan digital. Buku bisa dibaca melalui
android, mengikuti perkembangan zaman. Tapi tak bisa diunduh atau disimpan.
Masa edarnya ditentukan. Ketika masa edarnya lewat, maka buku tersebut tak bisa
dibaca lagi, kecuali dipinjam ulang.
4. Setelah adanya RuangBuku Karya Dosen Unand ini, semoga juga kelak ada juga Ruang
Buku Karya Mahasiswa Unand, sehingga memberikan dorongan luar biasa kepada
mahasiswa untuk unjuk karya intelektualnya. Apalagi jika Unand memfasilitasi
proses pracetak dan penerbitan buku untuk mahasiswa tersebut. Hal ini sekaligus
menjawab pernyataan Pak Nanuk bahwa, Jangan Mengaku Mahasiswa Jika Tak Bisa
Menulis.
5. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk
menyerahkan buku karya saya, dua buah novel, salah satu ditulis dalam bahasa
Minang (Indak Talok Den Kanai Ati). Satu buku tentang Jurnalistik (Logika
Bahasa Berita). Dua buku karya pelajar dan mahasiswa yang kami bina di Bengkel Literasi Rakyat Sumbar.
Diantaranya ada mahasiswa Unand di sana.
Selain itu, saat ini saya sedang memproses
sebuah buku kumpulan Cerpen, yang saya tulis dalam bahasa Minang. Mudah-mudahan
selesai proses cetaknya, Juli atau Agustus 2023. Insya Allah nanti akan
serahkan juga untuk menambah koleksi buku di Perpustakaan Unand. Selain itu,
juga ada draf buku tentang perjalanan jurnalistik dan draf buku tentang
komunikasi. Saya berharap doa dari bapak dan ibu semuanya, agar draf tersebut
bisa dicetak secepatnya dan bermanfaat bagi orang banyak, khususnya dunia
pendidikan.
Hanya itu yang dapat saya sampaikan. Jika ada
hal-hal yang tidak pada tempatnya, ada kata yang salah, atau penyampaian yang
tidak tepat, kepada bapak dan ibu semua saya minta maaf, kepada Allah saya
mintak ampun.
CATATAN:
Naskah ini disampaikan saat memberikan sambutan saat ketika Peresmian Ruang Buku Karya Dosen Unand, di Kampus Unand, Jumat 19 Mei 2023
05 May 2023
Firdaus Abie Motivasi Guru dan Pegawai Menggerakkan Literasi di SMPN 1 Padang
Firdaus Abie, jurnalis senior dan pegiat literasi, memberikan motivasi kepada guru dan pegawai di SMPN 1 Padang untuk memaksimalkan potensi internal dalam pengembangan diri, khususnya menggerakkan literasi di sekolah.
“Modal dasar di sekolah ini sangat besar dan memiliki nilai sejarah
yang sangat hebat. Tinggal kemasan dan sedikit sentuhan lagi,” kata Firdaus
Abie yang sehari-hari Direktur Posmetro Padang, salah satu koran harian terpercaya di Padang.
Sang jurnalis yang juga pendiri dan menjadi Pembina Bengkel Literasi
Rakyat Sumbar, sebuah wadah berhimpun bagi penulis muda (pelajar dan mahasiswa)
serta guru, berbagi di sekolah tersebut sejalan dengan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Literasi Lintas Mata Pelajaran (Mapel) di SMPN 1 Padang, Jumat (5/5) siang.
“Bimtek ini sangat penting bagi kami di sekolah. Harapannya, semua
komponen di sekolah bisa bergerak serentak dan memiliki satu pandangan yang
sama,” kata Kepala SMPN 1 Padang Dewi Anggraini M.Pd.
Dewi Anggraini menyebutkan,
materi yang disampaikan Firdaus Abie, tak hanya memberikan cakrawala baru dalam pengembangan literasi di sekolah,
tetapi juga memberikan ide-ide segar.
“Ide yang diberikan, rasanya tidak muluk-muluk, tetapi tetap berakar
kepada potensi yang ada di sekolah.
Selama ini nyaris tak terlihat oleh kita,” katanya sesaat setelah
Bimtek.
Materi bertema Icon Sekolah (SMPN 1 Padang) yang disampaikan Firdaus
Abie, berangkat dari SWOT-nya terhadap
sekolah yang pernah menjadi sekolahnya Bung Hatta, “keunggulan, kelebihan dan
peluang yang dimiliki jauh lebih besar dari kekurangan yang ada,” kata Firdaus
Abie.
“Nama besar Bung Hatta yang pernah sekolah di sini, menjadi modal yang
sangat besar. Sosok Bung Hatta memiliki nilai
jual dan jaminan mutu untuk sebuah sekolah,” kata Firdaus Abie yang juga seorang
sastrawan ini.
Ia kemudian memetik dua potensi besar di dalam diri Bung Hatta. Beliau
sosok yang jujur dan cerdas. Dua sudut itu saja dimaksimalkan, maka akan
menghasilkan generasi yang hebat dimasa datang.
Sikap jujur, kata Firdaus Abie, merupakan karakter. Seseorang yang
jujur, berangkat dari pemahaman agamanya yang baik. Kuat ibadahnya. Kecerdasan diperoleh dari kemauan untuk
belajar dan mengasah pikiran. Salah satunya melalui bacaan.
“Ketika Bung Hatta pulang dari pendidikan di Belanda, beliau membawa
berpeti-peti buku pulang. Buku-buku ditulis dengan bahasa Belanda dan bahasa
negara lainnya,” kata penulis novel berbahasa Minang, Indak Talok Den Kanai
Ati, ini.
Ia kemudian membeberkan, jika seseorang jujur dan cerdas, maka orang
tersebut diyakini akan memiliki prinsip hidup. Ia tidak akan menipu, tidak akan
korupsi dan tidak akan ragu dalam berpikir serta bertindak yang merugikan orang
lain.
Firdaus Abie menawarkan, ketiga hal tersebut (jujur, cerdas, punya
prinsip) dengan sebutan Tiga Langkah Hebat. Fokusnya pada penguatan nilai
keagamaan, penguatan nilai keminangkabauan, dan meningkatkan kecerdasan melalui bacaan
dengan konsep memberikan bacaan, “memaksakan” bacaan dan mengevaluasi bacaan
pelajar tersebut.
“Tetap harus ada
evaluasi sebagai tolok ukur untuk melihat capaian program yang dilakukan,” kata
ayah dua anak yang sudah menulis sekolah di bangku sekolah.
Di sisi lain, Firdaus
Abie mengingatkan, pelaksanaan kegiatan tersebut harus diawali dengan satu
prinsip yang sama. Semua kegiatan di SMPN 1 Padang harus
terintegrasi pada program tersebut dan semua komponen di sekolah (kepala
sekolah, guru dan pegawai) sama-sama bertanggungjawab kepada program tersebut.
“Jangan hanya menjadi
tanggungjawab guru bahasa atau guru yang ditunjuk,” katanya mengingatkan.
Program tersebut, kata
Firdaus Abie yang turut merintis Padang Ekspres, Padang TV, dan Harian Umum
Rakyat Sumbar, ditujukan agar semua Mapel terintegrasi ke sana. Semua masalah
di sekolah, juga harus diintegrasikan ke program tersebut. Apa pun bentuk
pencapaian, juga terintegrasi ke sana. Terhadap hal tersebut, Ia memberikan
beberapa contoh dan langkah konkritnya.
Langkah konkrit
tersebut diapresiasi guru dan pegawai. Mereka menilai, langkahnya tidak rumit.
Sangat simpel dan diyakini sangat mudah untuk diaplikasikan.
“Nanti ide ini akan
kita rumuskan detailnya sebelum dilaksanakan, sehingga ketika dimulai, semuanya
sudah mendekati sempurna,” kata Dewi Anggraini.
Kegiatan lain yang
ditawarkan, adanya buku balega di kelas,
memaksimalkan perpustakaan sekolah, perpustakaan kelas, infak buku,
menghadirkan ruangan atau sudut-sudut baca di sekolah, mendirikan sanggar
menulis, bimbingan menulis kepada siswa dan guru.
“Sekolah ini juga
beruntung karena memiliki Kepsek berlatar belakang guru bahasa Indonesia,” kata
Firdaus Abie sembari menyebutkan, Ia mengenal Dewi Anggraini saat masih Kepala
SMPN 10 Padang.
Ketika itu, Firdaus
Abie melanjutkan, beliau membenahi perpustakaan sehingga menjadi tempat favorit
yang dikunjungi pelajar di sekolah
tersebut. Termasuk menghadirkan perpustakaan digital, sehingga pelajar sekolah
tersebut bisa meminjam dan baca buku tanpa harus datang ke perpustakaan, cukup
melalui android yang dimiliki.
Terhadap hal tersebut,
ketika itu Dewi Anggraini menyebutkan, dirinya bersama guru dan pegawai
melakukan hal tersebut karena tuntutan zaman. Pelajar hari ini sudah
menggunakan android.
Setelah di SMPN 10
Padang, Dewi Anggraini dipercaya menjadi Kepala SMPN 9 Padang. Salah satu
fokusnya juga meningkatkan pengembangan literasi di sekolah, tapi beliau tak
lama di sekolah yang berada di Air Camar tersebut. Kurang setahun, lalu
dipercaya menjadi Kepala SMPN 1 Padang. *
Firdaus Abie Motivasi Guru dan Pegawai
Menggerakkan Literasi di SMPN 1 Padang
Firdaus Abie, jurnalis senior
dan pegiat literasi, memberikan motivasi kepada guru dan pegawai di SMPN 1
Padang untuk memaksimalkan potensi internal dalam pengembangan diri, khususnya
menggerakkan literasi di sekolah.
“Modal dasar di sekolah ini sangat besar dan memiliki nilai sejarah
yang sangat hebat. Tinggal kemasan dan sedikit sentuhan lagi,” kata Firdaus
Abie yang sehari-hari Direktur Posmetro Padang, salah satu koran harian terpercaya di Padang.
Sang jurnalis yang juga pendiri dan menjadi Pembina Bengkel Literasi
Rakyat Sumbar, sebuah wadah berhimpun bagi penulis muda (pelajar dan mahasiswa)
serta guru, berbagi di sekolah tersebut sejalan dengan Bimbingan Teknis (Bimtek)
Literasi Lintas Mata Pelajaran (Mapel) di SMPN 1 Padang, Jumat (5/5) siang.
“Bimtek ini sangat penting bagi kami di sekolah. Harapannya, semua
komponen di sekolah bisa bergerak serentak dan memiliki satu pandangan yang
sama,” kata Kepala SMPN 1 Padang Dewi Anggraini M.Pd.
Dewi Anggraini menyebutkan,
materi yang disampaikan Firdaus Abie, tak hanya memberikan cakrawala baru dalam pengembangan literasi di sekolah,
tetapi juga memberikan ide-ide segar.
“Ide yang diberikan, rasanya tidak muluk-muluk, tetapi tetap berakar
kepada potensi yang ada di sekolah.
Selama ini nyaris tak terlihat oleh kita,” katanya sesaat setelah
Bimtek.
Materi bertema Icon Sekolah (SMPN 1 Padang) yang disampaikan Firdaus
Abie, berangkat dari SWOT-nya terhadap
sekolah yang pernah menjadi sekolahnya Bung Hatta, “keunggulan, kelebihan dan
peluang yang dimiliki jauh lebih besar dari kekurangan yang ada,” kata Firdaus
Abie.
“Nama besar Bung Hatta yang pernah sekolah di sini, menjadi modal yang
sangat besar. Sosok Bung Hatta memiliki nilai
jual dan jaminan mutu untuk sebuah sekolah,” kata Firdaus Abie yang juga seorang
sastrawan ini.
Ia kemudian memetik dua potensi besar di dalam diri Bung Hatta. Beliau
sosok yang jujur dan cerdas. Dua sudut itu saja dimaksimalkan, maka akan
menghasilkan generasi yang hebat dimasa datang.
Sikap jujur, kata Firdaus Abie, merupakan karakter. Seseorang yang
jujur, berangkat dari pemahaman agamanya yang baik. Kuat ibadahnya. Kecerdasan diperoleh dari kemauan untuk
belajar dan mengasah pikiran. Salah satunya melalui bacaan.
“Ketika Bung Hatta pulang dari pendidikan di Belanda, beliau membawa
berpeti-peti buku pulang. Buku-buku ditulis dengan bahasa Belanda dan bahasa
negara lainnya,” kata penulis novel berbahasa Minang, Indak Talok Den Kanai
Ati, ini.
Ia kemudian membeberkan, jika seseorang jujur dan cerdas, maka orang
tersebut diyakini akan memiliki prinsip hidup. Ia tidak akan menipu, tidak akan
korupsi dan tidak akan ragu dalam berpikir serta bertindak yang merugikan orang
lain.
Firdaus Abie menawarkan, ketiga hal tersebut (jujur, cerdas, punya
prinsip) dengan sebutan Tiga Langkah Hebat. Fokusnya pada penguatan nilai
keagamaan, penguatan nilai keminangkabauan, dan meningkatkan kecerdasan melalui bacaan
dengan konsep memberikan bacaan, “memaksakan” bacaan dan mengevaluasi bacaan
pelajar tersebut.
“Tetap harus ada
evaluasi sebagai tolok ukur untuk melihat capaian program yang dilakukan,” kata
ayah dua anak yang sudah menulis sekolah di bangku sekolah.
Di sisi lain, Firdaus
Abie mengingatkan, pelaksanaan kegiatan tersebut harus diawali dengan satu
prinsip yang sama. Semua kegiatan di SMPN 1 Padang harus
terintegrasi pada program tersebut dan semua komponen di sekolah (kepala
sekolah, guru dan pegawai) sama-sama bertanggungjawab kepada program tersebut.
“Jangan hanya menjadi
tanggungjawab guru bahasa atau guru yang ditunjuk,” katanya mengingatkan.
Program tersebut, kata
Firdaus Abie yang turut merintis Padang Ekspres, Padang TV, dan Harian Umum
Rakyat Sumbar, ditujukan agar semua Mapel terintegrasi ke sana. Semua masalah
di sekolah, juga harus diintegrasikan ke program tersebut. Apa pun bentuk
pencapaian, juga terintegrasi ke sana. Terhadap hal tersebut, Ia memberikan
beberapa contoh dan langkah konkritnya.
Langkah konkrit
tersebut diapresiasi guru dan pegawai. Mereka menilai, langkahnya tidak rumit.
Sangat simpel dan diyakini sangat mudah untuk diaplikasikan.
“Nanti ide ini akan
kita rumuskan detailnya sebelum dilaksanakan, sehingga ketika dimulai, semuanya
sudah mendekati sempurna,” kata Dewi Anggraini.
Kegiatan lain yang
ditawarkan, adanya buku balega di kelas,
memaksimalkan perpustakaan sekolah, perpustakaan kelas, infak buku,
menghadirkan ruangan atau sudut-sudut baca di sekolah, mendirikan sanggar
menulis, bimbingan menulis kepada siswa dan guru.
“Sekolah ini juga
beruntung karena memiliki Kepsek berlatar belakang guru bahasa Indonesia,” kata
Firdaus Abie sembari menyebutkan, Ia mengenal Dewi Anggraini saat masih Kepala
SMPN 10 Padang.
Ketika itu, Firdaus
Abie melanjutkan, beliau membenahi perpustakaan sehingga menjadi tempat favorit
yang dikunjungi pelajar di sekolah
tersebut. Termasuk menghadirkan perpustakaan digital, sehingga pelajar sekolah
tersebut bisa meminjam dan baca buku tanpa harus datang ke perpustakaan, cukup
melalui android yang dimiliki.
Terhadap hal tersebut,
ketika itu Dewi Anggraini menyebutkan, dirinya bersama guru dan pegawai
melakukan hal tersebut karena tuntutan zaman. Pelajar hari ini sudah
menggunakan android.
Setelah di SMPN 10
Padang, Dewi Anggraini dipercaya menjadi Kepala SMPN 9 Padang. Salah satu
fokusnya juga meningkatkan pengembangan literasi di sekolah, tapi beliau tak
lama di sekolah yang berada di Air Camar tersebut. Kurang setahun, lalu
dipercaya menjadi Kepala SMPN 1 Padang. *
-
Oleh: Firdaus Entah kenapa, pada momentum peringatan Hari Ibu, kali ini, saya teringat pada cerpen karya A.A Navis (alm). Cerpen ...
-
Inmemorian Azwar Siry SH, MM: Oleh: Firdaus Abie Seorang lelaki, bertubuh sedang, berkostum putih abu-abu, keluar dari pekarang...
-
Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...










