25 May 2020

Amak


Cerpen: Firdaus Abie


 Haruskah aku datang sekarang, membawa resah dan bara tak terhingga? Jika aku datang, seonggok budi sudah ku tanam padanya.  Tapi, demi Amak, biarlah. Aku tak kuat mendapatkan Amak merintih. Memar di lengan Amak, perih di batinku. Goresan di pipi Amak, luka di ragaku. Demi Amak, tak apalah. Sekali ini aku menghutang budi padanya.
Siti membatin.
Gemuruh jantung Siti tak kunjung berhenti. Batinnya perih. Memar di kedua lengan Amak membuat hatinya tersayat-sayat. Orang tua yang sejak kecil merawat dan membesarkannya seorang diri, mengalami penyiksaan.

24 May 2020

Dua Telapak Tangan di Antara Dada dan Dagu


 

Salat Id di Tengah Pandemi Covid-19


Gema takbir dari pengeras suara masjid terdengar sayup-sayup sampai. Alunannya terdengar teduh. Di gerbang masuk komplek, portal besi diturunkan. Dua security mengawasi setiap orang, hanya warga komplek perumahan saja yang dibukakan portal.  Warga luar, tak diizinkan masuk, kendati untuk menunaikan Salat Id.

Jika datang dari samping kiri atau belakang masjid, jamaah harus memutar ke samping kanan. Dari tiga pintu masjid, hanya satu yang dibuka. Sebelum masuk,  setiap jamaah dicek suhunya dengan Thermogun.

“Bagi jamaah yang  suhu tubuhnya tiga puluh delapan derajat, kami tak izinkan untuk berjamaah di masjid,” kata Joko Riyadi, salah seorang pengurus Masjid Al-Maghfirah, Komplek Perumahan Lubuk Intan, Kel Lubukbuaya, Kec Kototangah, Padang, yang bertugas untuk mengecek suhu jamaah, Minggu (24/5).

Setelah dicek suhu, bagi yang  di bawah 38 derajat celsius diizinkan untuk mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer, lalu masuk ke masjid. Pada proses ini, tak ada jamaah yang suhunya di atas 38 derajat.

“Tetaplah jaga jarak. Saat situasi ini, dibolehkan untuk berjarak,” kata Firdaus SH, M.H.I, ketua RT setempat yang sekaligus menjadi imam, “renggangkan agak satu keramik!” pintaya.

Berlahan, satu persatu jamaah masuk ke masjid. Satu saf yang biasanya bisa ditempati 35 sampai 40 jamaah, saat Salat Id hanya diisi sekitar 20 orang. Ada tiga saf jamaah pria, empat saf jamaah perempuan.

Proses Salat Id berjamaah kali ini berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pengurus sama sekali tak mengumumkan. Langkah tersebut dilakukan untuk menyikapi anjuran pemerintah dan ulama. Jika diumumkan, dikuatiarkan jamaah dari luar komplek akan ikut salat berjamaah, seperti halnya tahun-tahun yang telah berlalu.

Saat Salat Idul Fitri atau Salat Idul Adha, biasanya jamaah membludak, walau belum sekali pun meluber hingga keluar  bangunan utama sejak masjid dibangun tahun 2005. Pembangunannya  ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Walikota Padang Fauzi Bahar,  selepas puasa enam kala itu. Saat  tarawih pertama tahun berikutnya, masjid sudah bisa difungsikan untuk tempat pelaksanaan aktivitas ibadah.

Di sepuluh puasa pertama,  Walikota Padang Fauzi Bahar berkesempatan melaksanakan tarawih di masjid tersebut. Beliau memberikan apresiasi karena pengurus dan jamaah masjid berhasil mewujudkan impian dan sekaligus menuntaskan  “tantangan” sang walikota ketika itu.

Disaat  meletakkan batu pertama, sang walikota mengatakan, jika Ramadan tahun depan masjid sudah bisa digunakan,  beliau berjanji akan melaksanakan tarawih di sana. Tantangan tersebut dijawab jamaah dan pengurus. Fauzi Bahar pun datang.

Sebelas tahun berselang, Walikota Padang Mahyeldi Ansyarullah menepati pula janjinya untuk melaksanakan tarawih di Masjid Al-Maghfirah. Kehadiran beliau disambut rasa suka cita mendalam oleh warga komplek dan jamaah. Orang nomor satu di Pemko Padang juga  merealisasikan  program betonisasi jalan lingkungan Komplek Lubuk Intan.

Gema takbir terus berkumandang, namun tak sekeras biasanya. Bunyinya tak dilepas secara utuh, hanya sebahagian kecil saja. Pengurus lebih memaksimalkan suara di dalam masjid saja. Ketika imam memberikan panduan pelaksanaan Salat Id, para jamaah menyimak secara seksama.

Tepat pukul 07.15 WIB, salat berjamaah dimulai. Lantunan ayat yang dibacakan imam, langsung menyentuh relung hati paling dalam. Ada getar yang benar-benar menyentuh kalbu, seakan menjemput beragam rasa yang hilang. Kebebasan dan kecerian yang ada selama ini, telah  direnggut wabah Korona.

Imam Firdaus SHI, MHI membacakan dua ayat pendek setelah takbir dan Al-Fatihah. Setelah itu dilanjutkan Ceramah Id oleh Ustad Anto, garin masjid tersebut. Ada tiga hal yang dipesankan Ustad Anto. Pertama, hiduplah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan mati. Kedua, cintailah apa yang kamu sukai karena sesungguhnya kamu akan berpisah dengannya. Tiga, berbuatlah sesukamu karena sesungguhnya kamu akan diberi balasan.

Proses salat dan ceramah tak lebih dari 30 menit. Ketika rangkaian Salat Id selesai, satu sama lain tidak bersalaman secara fisik, tapi sama-sama memberikan kode dengan kedua telapak tangan dipertemukan di antara dada dan dagu Bersalaman dengan cara berbeda dan berharap dapat saling memaafkan dalam kontek sesungguhnya. Ada rasa berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya tentang wabah Korona, tetapi juga tentang ketua. Diawal Ramadan tahun ini,  Sang Ketua Pembangunan Masjid Al-Maghfirah mengundurkan diri sebelum waktunya.

05 April 2020

“Indak Talok Den Kanai Ati”


Harian Umum Rakyat Sumbar Hadirkan Cerbung Berbahasa Minang:




Disaat wabah Virus Corona merajalela, sebuah terobosan dilakukan Harian Umum Rakyat Sumbar. Direncanakan, Senin (13/4) mendatang, sebuah rubrik baru dihadirkan untuk memanjakan pembaca. Cerita bersambung (Cerbung) berbahasa Minang. Judulnya, Indak Talok Den Kanai Ati.

“Harapan kami, semoga cerita bersambung ini bisa menjadi bacaan alternatif bagi pembaca dan pelanggan,” kata Jhon Kenedy, Redaktur Pelaksana Harian Umum Rakyat Sumbar, saat rapat redaksi secara online dengan tim kerjanya, kemarin.

Cerita bersambung ini, sebenarnya  berupa novel. Semula akan diterbitkan dalam bentuk buku. Proses penerbitannya sedang digarap, namun dalam diskusi tim redaksi, akhirnya sang penulis, Firdaus Abie, menyerahkan novel tersebut dimuat terlebih dahulu dalam bentuk cerita bersambung.

30 March 2020

Keluarga Baru


Oleh: Firdaus Abie


Bus 74 melaju dalam kecepatan sedang. Ustad Muhammad Azzam berkisah tentang unta, hewan yang sangat luar biasa.  Hewan  penyabar dan tenang. Hidup di padang pasir, alam yang sangat keras. Mampu berjalan sejauh 50 mil (sekitar 80 km) sehari. Bisa bertahan tanpa makan dan minum selama lima hari.  Jika diukur jarak selama lima hari tersebut, sama dengan  jarak antara Mekah dan Madinah. Mampu minum hingga 200 liter air. Sanggup membawa beban 500 kg tanpa makan dan minum selama tiga hari.
Aku menyimak penjelasan sambil menikmati pemandangan di  luar bus. Melihat kiri kanan jalan. Ada hamparan padang pasir, beberapa ekor unta ada di sana. Jamaah lain, satu kloter denganku, melakukan aktivitas tak jauh berbeda. Ada juga yang terus bersalawat dan berzikir.


Kunikmati perjalanan dari Makkah ke Jeddah, selanjutnya kembali ke Jakarta. Ada rasa agak berbeda di tubuhku. Ada keringat dingin di dalam mobil ber-AC. Kondisi itu aku “lawan” dengan obat pribadi yang dibawa dari Padang, diberikan dokter sehari sebelum berangkat. Ketika itu,  sebelum berangat ke Jakarta, bergabung dengan Jamaah Umrah Kloter 14 Paragon Technology and Innovation, aku sempat diserang dalam. Aku merasakan tubuh menggigil. Terasa dingin. Isteriku dan dokter yang meraba tubuhku merasakan panas tinggi.
Ketika hendak berangkat, isteriku terlihat agak cemas. Ia sering mengingatkanku untuk sering minum. Hari kedua aku di Madinah, kondisi yang sama aku rasakan kembali. Selesai salat Jumat, aku meringkuk di balik selimut tebal di hotel. Aku tak kuat ke Masjid Nabawi saat Asyar dan Magrib. Ketika Isya, aku paksakan diri ke masjid. Besoknya, dinihari aku diberi kekuatan oleh Allah untuk kembali ke Masjid Nabawi dan berkesempatan pula beribadah di Raudah hingga menjelang Subuh.
Setelah minum obat, aku niatkan istirahat sembari tak lupa baca doa tidur. Tak lupa membaca salawat dan zikir. Ketika itu pula pikiranku melayang ke hari-hari yang telah berlalu. Terlintas semangat dan optimistis Jamaah Umrah Kloter 14 Paragon Technology and Innovation, yang serasa sudah menjadi keluarga baruku.
Tiga malam di Madinah, aku menginap di Hotel Al-Haram. Delapan orang jamaah pria ditempat disatu faviliun. Terdiri dari dua kamar. Aku di kamar pertama bersama Risnanda (Jambi) dan Aziz (Cirebon). Di kamar satu lagi, Yunus (Jakarta), Eggy Rizal (Tasikmalaya), Syahril Ramadhan (Bandung), Dody Nuriana Sudrajat (Bandung) dan Juhri (Ambon).  Mereka lebih muda dari aku. 
Aku salut pada mereka. Ketujuh keluarga baruku itu memiliki  karakter kuat untuk ibadah. Aziz, teman satu kamar. Saat penerbangan dari Bandara Soekarno – Hatta Tanggerang ke Madinah, aku duduk di sebelahnya. Ia dalam kondisi deman. Sesampai di Madinah, ia lawan demamnya untuk selalu ke masjid. Ketika aku demam, ia teringat dia. Aku harus bisa juga sekuat dia. Risnanda juga kuat ibadahnya. Disaat aku terbangun di tengah malam untuk tahajud dan ibadah ke Masjid Nabawi, ia sudah tidak ada lagi di kamar.
Di Makkah, kami menginap di Swisssotel Al Maqam. Aku sekamar dengan Eggy Rizal (Tasikmalaya), Syahril Ramadhan (Bandung), Dody Nuriana Sudrajat (Bandung). Kami justru cenderung “berpacu” duluan ke Masjidil Haram. Sering juga barengan, namun sesampai di Masjidil Haram, cenderung kami terpencar. Masing-masing asyik dengan ibadah masing-masing.
Sesampai di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, kondisiku tidak lebih baik. Antrian pemeriksaan paspor dan dua kali x-tray menuju ruang tunggu, terasa sangat lama. Ada beragam rasa kurasakan selama proses antrian.
Sesampai di ruangan tunggu, kusandarkan tubuh di kursi. Badanku masih terasa menggigil. Air wudhu’ salat Magrib disertai jamak Isya, terasa sangat dingin. Sekali lagi, kutelan obat yang aku bawa dari Padang. Tak lama berselang, ada kantuk yang terasa berat. Kucoba untuk melawannya. Aku tak ingin tertidur di Bandara.
Aku teringat, seorang teman, ketika menjadi wartawan Padang Ekspres, saat pulang dari Malaysia menuju Padang, ia tertidur di Bandara setelah chek-in. Masih untung ia bisa diterbangkan secara gratis keesokan harinya. Saya tak ingin peristiwa itu terjadi.
Aku akhirnya langsung tertidur setelah duduk di pesawat. Aku tertidur diiringi salawat dari layar monitor persis di depan tempat duduk, menggunakan headset milik penerbangan. Aku terbangun ketika pramugari menyodorkan makanan. Setelah makan, tidur lagi. 
Sampai di Bandara Soeta, Tanggerang, sudah pagi. Petugas biro yang mendampingi perjalanan umrah, NRA, menuntun hingga pemeriksaan paspor, “yang transit, kumpul dulu di sini. Bagi yang turun di Jakarta, ambil bagasi di jalur satu,” kata petugas yang sudah menunggu.
Seketika, suasana jadi berbeda. Kami saling bertatapan.  Satu sama lain saling bersalaman. Sangat erat genggamannya. Sesama lelaki saling berangkulan. Sesama perempuan juga saling bersalaman, “jangan lupa untuk saling berkirim kabar, ya?” kata mereka, senada.
“Kalau ada kawan-kawan ke Ambon, jangan lupa kabari saya,” pinta Juhri.
“Saya tunggu di Bandung,” kata Syahril Ramadhan.
“Jika ke Semarang, jangan lupa. Ada keluarga di sana. Saya tunggu,” kata Susi Kartika.
Semuanya menyampaikan pesan seirama. Rasa haru pun kemudian menyeruak suasana. Jamaah yang turun di Bandara Soeta, langsung menuju tempat pengambilan bagasi. Mereka melangkah sembari terus melihat ke belakang, melambaikan tangan, memberi salam kepada jamaah yang transit. Sebaliknya, mereka yang transit tak henti-hentinya juga melambaikan tangan.
Setelah semua berkumpul, jamaah yang transit dipandu ke ruang tunggu sementara. Jadwal penerbangan berbeda. Aku termasuk yang transit, selanjutnya menuju Padang. Ada yang ke Jambi, Babel, Lampung, Semarang, Surabaya, Pontianak, Palangkaraya, Tarakan, dan kota-kota lainnya. Terjauh ke Ambon.
Jamaah yang transit, akhirnya pun terpencar satu persatu, sesuai jadwal penerbangan ke kota masing-masing. Terakhir saya masih bersama Risnanda dan Juhri. Satu jam berselang, Risnanda yang umrah bersama isterinya, bergeser ke ruang tunggu keberangkatan. Tinggal saya bersama Juhri. Kami pun melaksanakan zuhur berjamaah. Sekitar 45 menit menjelang boarding, aku minta izin kepada Juhri.
“Kalau sudah sampai di Padang, kabari ya?” katanya.
“Insya allah,” jawabku.
Penantian Juhri masih sangat panjang. Jadwal boardingnya pukul 21.30 WIB. Perhitungannya, ia baru akan sampai di rumah menjelang Subuh, besok, “semoga selalu diberi kesehatan dan kekuatan, pak Juhri,” kataku.
Ia tersenyum.
Sebelum aku sampai di ruang tunggu keberangkatan, ada pesan masuk ke selularku. Aku hentikan langkah, lalu membuka hp. Isinya, ternyata ada beberapa keluarga baruku yang sudah sampai di rumah, terutama mereka yang tinggal di Jakarta.
“Alhamdulillah, saya sudah sampai di rumah dalam kondisi selamat dan sehat,” kata Yunus.
Ada juga beberapa yang lain, mengabarkan hal yang sama. Kawan-kawan yang tinggal di Jabodetabek sudah menginformasikan posisinya. Kawan yang tinggal di Bandung, Cirebon, Tasikmalaya, juga memposting posisinya.
Mereka yang terbang ke Semarang, Surabaya, Pontianak, Tarakan dan lain-lain, juga mengabarkan. Mereka sudah mendarat.  Satu persatu kabar diterima. Aku pun kemudian berkabar di grup Kloter 14 Umrah 2019, sudah sampai di rumah, ketika sore datang menjelang.
Kini, 2,5 bulan setelah perjalanan umrah tersebut, suasana kekeluargaan masih terasa. Grup WA masih aktif. Komunikasi masih jalan. Masih ada canda. Masih sering berkirim postingan terkait ibadah dan bagaimana memperbaiki ibadah.
Ketika Masjidil Haram ditutup, lalu kabar itu diposting di grup, serasa ada yang menyekat. Ada rasa bercampur aduk. Seketika itu juga, pikiran melayang ke Tanah Suci. Terbayang tempat-tempat menunaikan ibadah yang pernah didatangi. Ada kerinduan untuk bisa kembali ke sana. Sebuah impian besar; semoga suatu saat, kami bisa bersama lagi ke Tanah Suci.
Disaat ada kabar Wardah memberikan sumbangan  sebesar Rp 40 miliar untuk penanganan Covid-19,  ada kekaguman kepada buk Nur (sapaan akrab Nurhayati Subakat), pendiri dan pemilik  PT Paragon Technology and Innovation. Wardah merupakan salah satu produk perusahaan tersebut. Rasa kagum tersebut tak berlebihan. Sumbangan yang diberikan tergolong fantastis. Kepedulian yang sangat luar biasa.
Aku pernah bertemu beliau, sebelum berangkat umrah. Ketika itu, aku bersama Yunus dan Juhri, diundang  berkunjung ke pabrik, juga bertemu buk Nur. Beliau sangat rendah hati dan peduli karyawan. Beliau memberangkatkan umrah sekitar 500 karyawan setiap tahun. Karyawan nonmuslim, dibiayai untuk wisata religi. Syaratnya tak banyak; minimal sudah bekerja selama tujuh tahun. Selain dibiayai, semuanya juga diberi bekal dalam bentuk Riyal. Program ini sudah berlangsung selama tiga tahun berturut.
Semoga buk Nur dan keluarga selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Semoga usaha yang beliau kelola terus tumbuh dan berkembang. Semoga keluarga baru kami; Kloter 14 Umrah 2019 beserta semua orang yang turut memudahkan langkah kami ke Tanah Suci, diberi kesehatan, keselamatan, dan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. *

*Padang, 30 Maret 2020

13 March 2020

Teruslah Bergerak, Teruslah Berkarya!




Hadir di tengah-tengah mereka, di depan siswa, di dalam kelas, terasa adem. Menikmati suasana kelas tak hanya mengantarkan kenangan ke masa lalu. Ketika saya menjadi seperti mereka.
Kini, hadir di tengah-tengah mereka, berbagi ilmu menulis, sangat menyenangkan. Apalagi ketika mereka memanfaatkan pertemuan terbatas tersebut dengan aktif berdiskusi, lalu menuliskan pikiran mereka dalam tulisan, setelah itu ditindaklanjuti dengan evaluasi bersama. Seru dan sangat menyenangkan.
Kehadiran kelas Bengkel Literasi Rakyat Sumbar di SMAN 1 Padang, terkait undangan Ekskul Menulis di sekolah tersebut. Pengelolaan menulis secara internal, di sekolah tersebut, sangat terasa. Secara berkelanjutan, mengadakan sayembara menulis setiap tahun. Tahun ini, saya didaulat menjadi juri. Ada banyak tulisan yang masuk.
Saya memberikan catatan ringan terhadap semua naskah pemenang. Panitia dan peserta, khususnya pemilik naskah tersebut, menerima catatan tersebut.
"Saya abai saat melakukan koreksiannya, pak," kata salah seorang pemenang.
Kendati ada koreksian terhadap naskahnya, namun karyanya masuk tiga besar. Koreksian untuk naskahnya tidak banyak dan naskahnya tersebut masih lebih baik dibandingkan naskah lainnya.
Teruslah bergerak. Teruslah berkarya!

01 March 2020

Maju Bersama, Untuak Basamo!


Oleh: Firdaus Abie



Tiga belas (13). Banyak orang yang takut dengan angka ini. Mulanya di China dan Amerika, memiliki keyakinan, angka 13 dianggap sebagai angka sial. Hotel dan gedung bertingkat tidak menggunakan urutan tingkat 13.  Setelah angka 12, langsung ke angka 14.
Menurut Numerologi, angka 13 didefinisikan sebagai angka sial dari semua angka yang sering muncul. Mistik sebagai nomor sial itu, terus menjalar ke belahan dunia lainnya. Banyak orang yang memaknai begitu, sehingga tak hanya gedung dan hotel, ada banyak rumah yang tidak mau menggunakan nomor 13 sebagai angka alamat rumahnya. Ketakutan pada angka 13 dinamai  Triskaidekaphobia.
“Kesialan-kesialan” itu dihubung-hubungkan dengan metoda “Cocoklogi”,  misalnya Apolo 13 gagal mendarat di bulan karena  tangki oksigennya meledak  13 April 1970. Microsoft versi 12  berupa Microsoft Office 2007.   Microsoft Office versi 13 tak pernah dirilis, lalu Microsoft Office 2010  merupakan versi ke 14. Jika direntang, sangat panjang daftar “ketakutan” orang pada angka 13.
Asumsi  angka 13 sebagai angka sial,  tak berlaku bagi Padang TV, sebuah tv lokal di Padang. Ulang tahunnya hari ini, merupakan ulang tahun ke 13. Sebuah perjalanan waktu yang lumayan panjang. Suka duka sudah dilalui. Proses panjang sebuah kreativitas sudah dijalani.
Derasnya pertumbuhan dan kemajuan pertelevisian Nasional, ternyata Padang TV masih bisa eksis. Dikelola puluhan anak muda yang selalu optimis disetiap derap langkahnya, selalu kreatif menghadirkan tayangan-tayangan berkualitas. Kini, Padang TV satu-satunya tv lokal Sumbar berkonten umum yang masih bertahan.  TV lokal lain yang pernah ada, satu persatu “gugur” dalam perjuangan untuk menghidupinya.
Diawal kehadiran Padang TV, saat itu saya menempati posisi Wakil Pemimpin Redaksi di Padang Ekspres. Pucuk pimpinan  Padang Ekspres Group;  Sutan Zaili Asril (alm) dan Marah Suryanto, mempercayai saya menjadi Koordinator Persiapan Padang TV. Ada 13 orang yang diberi amanah, 11 orang karyawan Padang Ekspres. Tiga orang dari Posmetro Padang.  Kami menamakan tim tersebut dengan Tim 13.
Dari Padang Ekspres, selain saya, ada Two Efly, Abdullah Khusairi (kini dosen di UIN), Yoppy Newey, Dodi Ardiansyah, Heri Sugiarto, Syam Chaniago (kini sudah pensiun), Erisman, Firman Wan Ipin, Defri Mulyadi, Fathan Zulfan.  Lalu ada dua orang dari Posmetro Padang; Deva Nurindahsari, Budi Syahrial (kini anggota DPRD Padang).
Jika dikenang masa persiapan tersebut, terkadang saya senyum-senyum sendiri. Semua personil, tidak satu pun yang pernah berkecimpung di dunia televisi. Saya, Two Efly, Abdullah Khusairi Heri Sugiarto, Erisman, Defri Mulyadi dan Budi Syahrial, berlatar belakang jurnalis di media cetak. Deva Nurindahsari dan Firman Wan Ipin, berasal dari marketting. Fathan Zulfan, Dodi Ardiansyah, berlatar belakang IT dan teknik komputer. Syam Chaniago, fotografer dan ilustrator.  Yoppy Newey, desain grafis.  Mungkin hanya Deva Nurindahsari yang agak mendekati. Ia penyiar radio.
“Tak ada yang tak mungkin!” tekad kami kala itu.
Sekali pun optimis, namun saat perjalanan ke Riau TV, Pekanbaru, untuk menimba ilmu, ada pertanyaan yang kami apungkan, “ada apa dengan kita? Apakah ini kesempatan atau pembuangan?”
Pertanyaan itu bukan tanpa alasan. Kami “ditakdirkan” untuk mendirikan tv, tapi tak seorang pun yang punya pengalaman di dunia pertelevisian. Diberi kesempatan latihan  di Riau TV hanya sepekan. Selama sepekan itu pula, sejumlah personil menderita sakit dan harus bertahan di hotel.
Pulang dari pelatihan, belum terlihat tanda-tanda kehadiran tv di Padang Ekspres Group. Bagai mendapat jatah tiket satu kali perjalanan. Two Effly memberikan analogi,  pasukan  dikirim berperang ke sebuah pulau. Sesampai ditujuan, kapal dibakar dulu agar tidak kembali sebelum tugas selesai.
Kembali ke posisi semula, posisi saat berangkat latihan ke Pekanbaru, tak bisa lagi. Sudah ada yang menggantikan. Daripada kepalang tanggung, persiapan dilakukan. Rapat-rapat strategis dilakukan, misalnya membuat logo, mempersiapkan program acara, mempersiapkan bumper, mempersiapkan presenter dan lain-lain. Termasuk menetapkan tagline; Maju Bersama.
Pekan ketiga usai pelatihan, pemancar mulai datang. Peralatan dan kebutuhan lain dilengkapi. Titik koordinat pemancar dicari. Dapat di kawasan Komplek Perumahan Unand, Ulugadut. Pos ronda tak terpakai pun dipinjam. Proses peminjaman dilakukan melalui rapat di masjid di komplek tersebut.  Disaat hampir semua warga setuju, ternyata ada yang menolak, tapi kemudian dapat ditenangkan oleh Prof Fachri Achmad, tokoh masyarakat setempat. Akhirnya, warga mengizinkan  dengan suara bulat.
Tayang perdana, Kamis 1 Maret 2007, dalam bentuk ujicoba. Dipilih pukul 00.00 WIB. Tujuannya, jika siaran bocor dan mengganggu siaran tv lain, tidak banyak yang komplain. Ketika siaran ujicoba tayang, semua kru menghubungi keluarga masing-masing untuk mengabarkan kondisi penerimaan siaran.
Ujicoba lanjutan dilakukan Kamis sore. Materinya suasana kebakaran Istano Basa Pagaruyuang – Tanahdatar. Kebakaran terjadi Selasa, 27 Februari 2007, sekitar pukul sembilan malam. Siaran ujicoba sukses. Besoknya diulangi tayangan yang sama, namun ditambah materi lagu-lagu Minang. Hari-hari berikutnya, jam siaran ditingkatkan, materi siaran diperbanyak dan selalu dievaluasi.
Berbekal pengalaman kru yang sebagian besar adalah wartawan, maka program pun diarahkan berkaitan dengan karya jurnalistik. Detak Sumbar, dan Detak Sore menjadi program andalan dalam bentuk berita, dilengkapi dengan berita setiap jam; Detak Terkini. Galanggang, program olahraga sekali sepekan. Kaliliang Kampuang, program berita yang dikemas lebih santai. Cerita Sore, mengangkat kisah perjuangan hidup orang-orang yang tak mau menyerah dengan keadaan. Banyak lagi program lain, termasuk program pengajian dan kesenian tradisional.
Tak ketinggalan program off air. Padang TV juga membuat program di lapangan yang sangat spektakuler; Masak Sakampuang. Program ini menjadi sangat populer karena dikemas sangat apik. Tradisi masyarakat sejak lama di Padang, disaat lelaki bergotong-royong membersihkan dan memperbaiki kampung, kaum perempuannya memasak untuk makan bersama. Malam sebelum acara, diadakan malam hiburan.
Masak Sakampuang digelar di seluruh kecamatan di Padang. Dimulai di Kec Kuranji. Berakhir di Kec Padang Barat. Episode 11, atau episode terakhir di Padang, menghadirkan suasana haru. Tak hanya menyelesaikan rangkaian jadwal yang padat. Revi Yuliana, produser yang memegang program tersebut, meninggalkan Padang TV. Ia memutuskan harus melanjutkan pendidikan. Masak Sakampuang kemudian dinobatkan sebagai program paling kreatif di tv se-Riau Pos Group.
Ketika Padang TV sudah berjalan di relnya, satu persatu personil Tim 13 ditarik kembali ke Padang Ekspres. Mereka digantikan personil Padang Ekspres lainnya, beserta rekrutmen baru Padang TV. Kini, hanya Defri Mulyadi dan Fathan Zulfan, personil Tim 13 yang masih berkiprah di Padang TV.
Telah 13 tahun Padang TV berkiprah mengudara dari langit Kota Padang. Menembus berbagai pelosok dan belahan dunia lainnya melalui live streaming. Mengantarkan program-program bernuansa lokal Minangkabau, khususnya berkaitan dengan agama, budaya, adat istiadat dan pendidikan untuk generasi muda.
Sebuah kemajuan luar biasa telah dicapai,  materi Local Content tak ditinggalkan. Setidaknya, tergambar dari tagline pada momentum 13 Tahun, menjadi acuannya; Untuak Basamo.
Selamat Ulang Tahun.
Maju Bersama Untuak Basamo!*