Nantikan novel; Paradise, Aku Takut Jatuh Cinta
Karya: Firdaus Abie
Novel ini berkisah tentang perjuangan seorang anak SMA yang berjuang untuk bisa menyelesaikan sekolahnya. Impiannya tidak muluk-muluk, bisa menyelesaikan pendidikan di bangku SMA!
09 June 2016
20 May 2016
Nikmatnya Orgen Tunggal
Oleh: Firdaus
Irama musik terus berdentam. Menyentak hingga
terasa di dada. Goyangan sang artis bergerak tak karuan, berlahan mulai
menggerakkan birahi. Nafas mulai terengah-engah mengikuti geraknya, sementara
vokal yang dikeluarkannya kian tak jelas.
Di hadapan
penyanyi, duduk dan bergoyang ratusan orang. Anak-anak hingga orang tua
bercampurbaur menjadi satu. Semua larut dalam goyangan hingga larut malam.
Bergojet dengan gerak tak seirama. Sesuka hati saja.
Anak-anak bau kencur menyatu bersama orang tua “bau
tanah”, mamak dan keponakan bergoyang berpegangan tangan. Mamak rumah dan
sumando ikut pula. Ipar besan turut serta. Tak ada batas dan ruang di antara
mereka.
Musorprovlub jadi Jalan Tengah
Syahrial
Bakhtiar, Ketua Umum KONI Sumbar meletakkan jabatannya, 8 April 2016, kemudian
menunjuk Syaiful, Waketum I sebagai pelaksana tugas (Plt), Senin (16/5) lalu,
jabatan yang diletakkan itu diambil kembali.
Dasar
ia meletakkan jabatan, tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Sumatra Barat nomor
099/111/GSB 2016 tanggal 30 Maret 2016 tentang rangkap jabatan dalam
kepengurusan KONI Sumatra Barat.
Setelah meletakkan jabatan
dan pelaksana tugas digengganm Syaiful, urusan menjadi pelik. KONI Pusat
sebagai pemegang otoritas olahraga Nasional tak mengakui kehadiran Syaiful. Belakangan
beredar surat, isinya Gubernur Sumbar Irwan Prayitno me-SK-kan Syaiful menjadi
pelaksana tugas KONI Sumbar. Juga beredar surat yang ditandatangani Syaiful
dalam kapasitas sebagai Ketua Umum KONI Sumbar,
KONI Pusat mengirimkan surat
bernomor NO.813/ORG/IV/16 tertanggal 26
April 2016, perihal tanggapan Surat Mendagri tentang kepengurusan KONI yang
ditujukan kepada ketua KONI se-Indonesia untuk dapat melaksanakan poin 2e yakni
KONI melakukan penataan organisasi sesuai Surat Mendagri setelah PON Jawa
Barat.
28 March 2016
Bakalibuik hanya Saat Banjir Saja…
* Hari Ini, Sepekan Setelah Banjir Bandang di Kota
Padang
Sore datang menjelang. Jalan masuk ke komplek
tampak kotor. Berlumpur. Jalanan beraspal sudah berwarna kuning. Seorang ibu
muda terlihat bergerak sigap membagikan bungkusan dari kantong kresek biru di
tangannya.
“Makan siang dulu…,” katanya, padahal ketika itu,
waktu sudah menunjukkan lewat pukul tiga siang. Sudah menjelang sore.
Ia tak bermaksud bercanda, menawarkan makan siang
disaat sore menjelang. Ia tahu, warga di lingkungan tempat tinggalnya, saat
itu, belum makan. Sarapan pagi pun entah ada entah tidak.
Sekitar 18 jam
sebelumnya, Senin (21/3) sekitar pukul 21.00 WIB, hujan membasuh wajah kota
Padang. Air diguyurkan dari langit, sangat lebat. Sekejap saja, air mulai
tergenang dimana-mana. Sejumlah ruas jalan digenangi air. Puluhan komplek
perumahan dan kawasan padat penduduk dikepung air.
Air di jalan komplek tempat saya menetap sejak
dua hari sebelum gempa dan tsunami di Aceh, diperkirakan mencapai dua meter
lebih. Komplek perumahan itu bernama Komplek Lubuk Intan, di Kelurahan
Lubuakbuayo, Kecamatan Kototangah, Padang.
Ketika mereka hendak kembali ke rumah, sebagian
besar sudah terjebak karena kedalaman air sudah tinggi dan arus air sudah
sangat deras. Dua orang warga sempat terseret arus beberapa meter, namun
selamat karena mereka dapat menggapai pagar rumah.
Puncak air terdalam terjadi menjelang pukul tiga,
selasa dinihari. Saat itu, tak satu pun rumah di komplek tersebut yang tidak
dimasuki air. Belasan kendaraan yang dievakuasi dan di parkir warga di gerbang
komplek, tepatnya di belakang stasiun kereta api Lubuakbuayo, juga tak luput
dari terjangan air.
Air masuk ke dalam mobil dan merendam badan mobil
serta mesinnya. Puluhan sepeda motor hilang tenggelam dalam banjir, termasuk
mobil dan sepeda motor yang selama ini jadi penyambung kaki untuk
beraktivitas. Kata orang bengkel, harus bongkar mesin. Hop..! (saya pun penepuk
kening..)
Di dalam rumah warga, kedalaman air bervariasi.
Terendah sepaha, lainnya di atas paha. Ada yang terpaksa harus mengungsi karena
air sudah mencapai dada di dalam rumahnya. Ketika air surut, diukurnya air yang
masuk. Garis bekas air yang membekas di dinding rumahnya menunjukkan kedalaman
air “menenggelamkan” keluarga penghuni rumah tersebut.
Warga komplek menilai, banjir yang datang sangat
buruk. Ukurannya, semua rumah di komplek sudah terendam. Saya mendukung
kesimpulan warga. Selama ini, pernah hujan lebat selama dua hari dua malam,
namun genangan air hanya di jalan komplek saja.
Kalau pun pernah ada banjir, namun tak pernah
masuk rumah saya. Hanya sampai teras. Pembanding lainnya, rel di stasiun
kerata api Lubuakbuayo. Konon rel itu tak pernah disentuh banjir, namun
kejadian malam itu, air sudah menenggelamkannya.
Banjir yang melanda komplekku, ternyata tak
seberapa jika dibandingkan kejadian di kawasan lain. Seorang senior saya
mengabarkan, di kediamannya air hanya sejengkal. Maksudnya, sejengkal lagi
mencapai plafon rumahnya. Oh..!
Kecamatan Kototangah, Padang, merupakan daerah
terparah diserang banjir. Banjir dimana-mana, termasuk di seputaran Balaikota
Padang. Apa mau dikata lagi, pusat pemerintahan (dipidangkan dari wilayah
Padang Barat ke Kototangah, berdasarkan Peraturan Pemerintah No 26 tahun 2011
tentang Pemindahan Pusat Pemerintahan Kota Padang dari wilayah Kecamatan Padang
Barat ke wilayah Kecamatan Kototangah) itu benar yang sudah direndam banjir.
Setelah air surut, persoalan belum selesai. Warga
bermasalah dengan air bersih. PDAM menghadapi persoalan. Data dari Kabag Umum
PDAM Padang Alfitra SE, empat lokasi
Instalasi Pengolahan Air (IPA), di Latuang, Lubukminturun, berkapasitas
produksi 290 liter per detik mati total. Penyebabnya pipa air baku dari tanah
taban putus dihantam longsor, intake Latuang tertimbun material bebatuan besar.
Latuang memasok air untuk Kototangah, sebagian Padang Utara,
sebagian Nanggalo, sebagian Kuranji.
Kemudian
IPA Guo Kuranji dengan kapasitas 70 liter per detik, intake rusak
berat. IPA ini mendistribusikan air kawasan Balimbiang Kuranji. IPA
Jawa Gadut, kapasitas 40 liter per detik juga intake rusak berat, padahal IPA
ini mengalir untuk Limau Manih Pauah dan sekitarnya. IPA
Lubuakparaku sempat terhenti akibat air baku berlumpur.
Keempat IPA itu melayani 35 ribu pelanggan. Air bersih hanya bisa
didistribusikan dengan empat unit mobil tangki. Beroperasi siang malam.
Ratusan
relawan terjun mendistribusikan bantuan. Makanan ringan, nasi, pakaian, air
bersih dan berbagai kebutuhan lain, dibagikan kepada masyarakat yang memerlukan.
Kedatangan bantuan tersebut, tidak serta merta menyelesaikan persoalan.
Ketidaksabaran
menghadapi situasi sulit, berbeda dari keseharian hidup mereka, membuat
sebagian besar korban banyak cepat terpancing. Adrenalin mudah terpancing.
Sikap egois langsung terlihat. Sejumlah relawan mengaku, kehadiran mereka
mendistribusikan bantuan tak jarang disambut umpatan, makian dan kekesalan
korban banjir. Keinginan mereka, bantuan segera datang sesuai keinginan, namun
proses di lapangan tak semudah yang mereka inginkan.
Hari
ini, sepekan sudah banjir besar di Padang, berlalu. Setelah itu, sepekan, dua
pekan, sebulan, dua bulan ke depan, peristiwa banjir ini akan “hilang” dalam
memori. Pemerintah yang tak bisa berbuat banyak selama penangganan korban
banjir, juga akan melupakan. Aktivitas kembali berjalan sesuai putaran rodanya.
Situasi akan bakalibuik
(sibuk yang luar biasa) kembali kalau hal serupa datang lagi. Berbagai teori
untuk antisipasi banjir muncul lagi.
Masalah
yang terjadi, menurut cara berpikir induktif, yakni menarik kesimpulan umum
dari berbagai kejadian dan data yang ada di sekitarnya, didasarkan pada
pengamatan, persoalan banjir disebabkan banyak faktor.
Faktor
itu, di antaranya; saluran (drainase) di kiri kanan jalan sudah tertutup
trotoar, dan jalan masuk ke rumah atau ruko, sehingga air tergenang di
sepanjang jalan. Pembangunan komplek perumahan yang diduga di kawasan yang
sebelumnya tempat tumpahan air, disebabkan harga tanah yang murah dan (mungkin)
didukung pula oleh proses izin yang mudah plus tanpa pengawasan.
Dibutuhkan
dukungan nyata pemerintah kota, provinsi atau pun pusat kepada PDAM, sehingga
perusahaan daerah pemasok air bersih bagi rakyat tersebut tak mengalami
persoalan nyaris serupa setiap hujan mau pun banjir. (firdaus)
CATATAN:
Tulisan
ini dimuat di Harian Umum Rakyat Sumbar dan Padang Ekspres, edisi Senin 28
Maret 2016
20 March 2016
Apalah yang Terjadi?
Oleh:
Firdaus
Semakin
gencar Satpol PP melakukan razia, penggerebekan, semakin banyak juga yang
tertangkap. Setiap hari razia, selalu saja membawa “hasil tangkapan” ke markas
komando.
Mereka
yang ditangkap berasal dari berbagai lapisan. Mulai dari pasangan yang sedang
berpacaran, pasangan yang baru mencoba “gitu-gituan” hingga yang sudah pernah
“begituan”. Usianya beragam, mulai dari
anak sekolahan hingga yang sudah berumur.
“Apalah
yang terjadi?” tanya seorang kawan kepada saya. Bingung saya dibuatnya.
Katanya,
kalau mereka tak tahu, rasanya tak mungkin. Setiap hari, razia dilakukan.
Selalu saja ada hasil tangkapan. Diberitakan di koran, tv, radio dan online. Kalau
mereka tak tahu, apakah mereka tak membaca koran, tidak melihat tv, tidak
mendengar radio atau tidak baca online.
Rasanya,
salah satu di antara saluran komunikasi massa itu, mustahil tak pernah
didapatinya agak sekali sehari, atau sekali dua hari, atau minimal sekali
sepekan. Atau, saluran komunikasi itu hanya dimanfaatkan untuk menonton
sinetron, gosip artis saja? Entahlah.
Atau
mungkin ada celah yang membuat orang tidak jera terhadap kinerja polisi penegak
Perda tersebut. Misalnya, selama ini, setelah ditangkap, mereka hanya didata,
diberi wejangan, membuat surat perjanjian, dipanggil keluarganya, kemudian
dipulangkan.
Jika
hanya begitu-begitu saja, maka hasilnya dikemudian hari juga akan begitu-begitu
juga. Hitunglah, sekali razia pasti berbiaya. Beli BBM untuk kendaraan
operasional, uang makan malam, sarapan pagi, tetapi hasil nyata dari razia
tersebut justru tidak nyata. Minyak
habih, samba tak lamak.
17 March 2016
Mampukah Melewati Lima Musim Berturut?
Oleh: Firdaus Abie
Dimasa lalu, medio 1960-an hingga awal 1980-an,
Sumbar umumnya, Padang khususnya, sangat disegani di kancah sepakbola Nasional.
Kini?
Dalam lintasan sejarah, tim-tim besar dalam dan
luar negeri, pernah merasakan “panas dingin” menghadapi putra-putra terbaik
ranah Minang. Klub terbesar di Sumbar ketika itu, PSP Padang merupakan ikon
keperkasaan tersebut.
Tim yang lahir tahun 1928 ---berawal dari lapangan
Dipo (kini kawasan Taman Budaya Padang), menghadapi lawan-lawannya dengan perjuangan
pantang menyerah. Tim kuat masa itu, Salzburg Austria ditahan imbang 2-2,
menang menghadapi Mozambik Afrika 5-2,
menang saat menjamu Colombus AAfrika
3-1, takluk dari Timnas Bulgaria
1-6, kalah dari FC Lokomotiv Moskwa,
0-7. Kekalahan PSP merupakan kekalahan terkecil tim-tim yang dihadapi
klub tersebut selama kunjungan ke Indonesia.
Eforia semaraknya sepakbola di Sumbar kian terasa
ketika bergulir Harun Zein Cup. Konsistensi Harun Zein Cup sangat panjang.
Kejuaraan ini dimulai saat Harun Zein menjadi gubernur Sumbar, kemudian
diteruskan dimasa kepemimpinan Azwar Anas.
Harun Zein Cup mempertemukan anak-anak nagari
se-Sumbar. Tim-tim yang berlaga kala itu, tampil atas nama nagari. Tak
mengherankan kalau kemudian harga diri nagari dipertaruhkan di sepakbola. Kototangah,
Cangkeh (kala itu masuk Padangpariaman, kini berada masuk wilayah administrasi
kota Padang), Balakang Tangsi (Padang), Ampek Angkek Canduang (Agam),
Tanjuangmutiara (Agam), merupakan lima dari sejumlah nagari yang memiliki anak-anak
nagari hebat di sepakbola kala itu. Anak-anak Kototangah justru pernah membawa
gelar juara secara berturut, 1975 dan
1976, menjelang Harun Zein mengakhiri jabatannya.
Dari Harun Zein Cup tersebut muncul nama-nama hebat
di kancah sepakbola, Irawadi Uska (alm), Idrus Ali, Arif Pribadi, Syofinal,
Gusril, Faisal Fahmi, Darman Manggus. Nama-nama itu menginspirasi anak-anak
muda berikutnya.
26 January 2016
Setelah Final?
Oleh: Firdaus
Demam Piala Jenderal Sudirman
melanda Sumbar. Pemantiknya sudah jelas. Semen Padang, Nil Maizar dan Jafri
Sastra. Kalau pun mereka bertarung di laga berkelas turnamen, namun eforia
pecinta sepakbola di Sumbar seakan tak peduli dengan “kasta” turnamen tersebut.
Harus diakui, kelas juara Piala
Jenderal Sudirman tentu tidak sebanding dengan gelar juara Piala Liga,
1992, yang kemudian mengantarkan Semen
Padang ke Piala Winners Asia. Lolos ke putaran kedua setelah mengalahkan wakil
Vietnam, Banghabadhu. Mengalahkan Yokohama Marinos, Jepang, di Padang, 2-1, lalu dihajar tim negeri Sakura tersebut
11 go tanpa balas.
Subscribe to:
Posts (Atom)
-
Oleh: Firdaus Entah kenapa, pada momentum peringatan Hari Ibu, kali ini, saya teringat pada cerpen karya A.A Navis (alm). Cerpen ...
-
Suatu ketika, saat podcast dengan Pak Ir Insannul Kamil , M.Eng, Ph.D , WR III Unand. Kata beliau, Jangan Mengaku Mahasiswa jika tak B...
-
Dapat Banyak Buku serta Undangan Sharing Komunikasi dan Motivasi Selasa (23/6/2026) saat di Bandung, saya bertubi-tubi mendapat rezeki. Mula...
