04 January 2011
Garuda di Dada Agar tetap Dijaga
Apa rasa yang dirasakan sebelum dan setelah reformasi di negeri ini? Yang berbeda adalah wujud konkrit untuk tetap satu. Satu rasa, satu tujuan. Sangat berbeda.
Saban waktu, semangat satu rasa, satu tujuan, senantiasa didapatkan sebelum negeri ini dihempas gelombang reformasi. Rasa itu sangat merekat di jiwa. Ketika reformasi datang, suasananya pun berubah begitu cepat.
Sejak anak-anak muda negeri ini mendengungkan reformasi, ternyata tanpa disadari, ternyat trend negatif terhadap semangat kebersamaan dan hubungan menjaga rasa yang sebelumnya menjadi unggulan masyarakat.
Tungau di Seberang Lautan
Seorang lelaki, kira-kira 30-an tahun, membolak-balik koran. Tak lama, koran itu ditutup, lalu dibuka lagi, ditutup lagi. Begitu berulang. Dibolak-baliknya berulang, kemudian ditutupnya pula berulang. Tak ada tanda-tanda ia akan membacanya.
Dari sudut yang lain, seseorang memperhatikannya. Ia hendak menyapa, namun diurungkannya, sebab antara dirinya dengan lelaki 30-an tahun ia dibatasi lima penumpang lain. Terlalu riskan menyapanya dalam rentang jarak tersebut.
“Anda tampak gelisah. Ada sesuatu yang membuatmu resah?” lelaki yang memperhatikan dari kejauhan tadi, buka suara sembari mengangsur posisi duduknya, begitu sejumlah penumpang lain di sisi kiri lelaki 30-an tahun tersebut sudah turun satu persatu.
Tak ada jawaban. Lelaki yang memegang koran, seakan tak mendengar pertanyaan orang disebelahnya. Lantaran pertanyaannya tak terjawab, tanya yang sama diulang. Juga tak ada jawaban. Belum sempat tanya ketiga diajukan, lelaki yang memegang koran, meminta angkutan kota yang ditumpanginya berhenti.
“Kiri, Diak!” pintanya, lalu turun dan membayar ongkos.
Lelaki yang tadi menyapanya juga turun, dan kemudian membayar ongkos pula. Ia pun kemudian mengikuti langkah lelaki yang menggenggam koran. Lelaki yang menggenggam koran kemudian singgah disebuah café, yang tak jauh dari tempatnya turun angkutan kota. Kemudian memilih sebuah tempat duduk agak di sudut ruangan café.
Lelaki yang menyapanya tadi juga mengikuti langkah serupa, lalu mengambil posisi persis di meja yang sama dengan lelaki yang disapanya di angkutan kota, “maaf, saya numpang di sini,” pintanya menyapa sembari menarik kursi, dan kemudian duduk. Posisinya kini persis di depan lelaki yang memegang koran. Yang disapa tak menjawab, juga tidak menolak.
“Anda Karapai-kan?” tanyanya menyerobot.
Lelaki yang memegang koran terkejut, “Anda mengenal saya?” tanyanya basa-basi, seakan tak percaya.
“Lebih dari sekadar kenal,” sambungnya sembari membeberkan satu persatu perihal identitas lelaki di depannya. Karapai semakin terkejut.
Koran yang semula dibolak-baliknya, kini justru diletakkan di meja. Ditatapnya lelaki di depannya. Dicobanya untuk mencari tahu siapa gerangan. Lama ia terdiam, tapi tak juga ditemukan jawabannya.
“Saya yakin, Anda pasti kenal saya. Inilah hakikat orang yang lupa dasar,” kalimat lelaki itu menghujam di dada Karapai.
Lelaki itu melanjutkan, ini kali ketiga ia bicara langsung pada Karapai dalam lima empat tahun terakhir, ternyata Karapai masih lupa. Ketika dua kali pertemuan sebelumnya, lelaki itu sudah membeberkan identitasnya. Keduanya, sebenarnya teman kecil. Sama-sama pernah bermain di sawah, berlarian dari pematang ke pematang, pernah bermain perang-perangan, bermain samba lakon, serta sejumlah permainan semasa kecil.
Selepas SD, Karapai pindah. Ia ikut orang tuanya. Sejak itu mereka tak pernah jumpa, sampai kemudian mereka bertemu secara tak sengaja di pesta pernikahan, lalu di bus kota, dan kemudian di angkutan kota yang kemudian pindah ke café, saat ini.
“Maaf, saya memang tak kenal Anda,” aku Karapai, “Anda siapa? Lanjutnya.
Lelaki itu tersentak. Matanya terbelalak. Ia terlihat agak emosi. Dadanya turun naik, “Oke. Anda boleh tak kenal saya, tapi sampai kapan pun Anda masih berutang kepada orang tua saya, berapa banyak kaca rumah saya yang pecah olehmu…” ungkapnya.
Karapai terkejut, lalu terlihat sudut bibirnya mengambang, tiba-tiba ia teringat, ketika masih kanak-kanak, ia sering bermain bola dengan teman-teman sebayanya, namun dirinya termasuk tak bisa main walau punya tendangan yang keras, sehingga tendangannya sering melenceng dan mendarat di kaca rumah di sebelah lapangan, “hehehe… saya bukan orang yang lupa dasar, sekarang saya tahu. Maafkan saya, Dai!” balas Karapai sembari menjabat erat tangan lelaki di depannya yang tak lain adalah Badai.
Keduanya kemudian melepaskan kerinduan. Kerinduan yang sangat mendalam dari dua orang teman kecil yang sudah lama tak jumpa. Keduanya pun bercerita banyak, membentang kembali kisah masa lalu, mengingat satu persatu teman-teman mereka. Kehidupan telah memisahkan mereka semua, sebab masing-masing harus berjuang untuk kehidupan keluarganya.
Kehangatan pertemuan itu, kemudian menjadi serius ketika Badai mencari tahu kenapa saat di angkutan kota tadi, Karapai gelisah.
“Kenapa terlihat seperti orang gelisah?” tanya Badai.
Keceriaan pertemuan dua teman lama itu, mendadak berubah. Sejenak keduanya terdiam. Karapai menatap kosong, “saya kecewa, ada teman yang lupa saya dan kemudian mengaku tak kenal, padahal sebelumnya sama satu sekolahan,” ungkapnya, “kehidupan saya tak sesukses dia, sehingga mungkin dia berpikir saya akan menyusahkannya,”
Badai terkejut. Ops! Ia menatap pasti, Karapai telah melihat tunggau di seberang lautan.*
(Dimuat Harian Pagi Padang Ekspres, Minggu 16 Desember 2010)
Cincin Kelopak Mawar
Badri tersenyum bangga. Kali ini ia yakin, usahanya tak akan sia-sia lagi. Dendam yang membakar ubun-ubunnya akan terbalaskan dengan cinta yang dirasakannya. Dalam dendam ada cinta.
Di kamar berdindingkan palupuah1, Badri baru saja mengenakan pakaian, setelah seluruhnya dilepas ketika mandi rempah dan bunga tujuh rupa dari tujuah tapian2. Prosesi selanjutnya, sembari mengingat gadis yang telah mempenjara hatinya, dibukanya bungkusan yang diberikan Mak Pado, dukun terkenal di nagari subarang3. Tempat orang mengadu untuk urusan cinta dan guna-guna.
Mak Pado sebenarnya bukan penduduk asli nagari subarang, tak ada yang tahu asal usulnya. Ia sudah ada di nagari itu sejak dibawa kakeknya. Gubuknya jauh di tengah hutan. Jarang ada yang datang ke gubuknya. Kalau pun ada, umumnya untuk urusan guna-guna. Itu pun biasanya dilakukan malam hari, secara sembunyi-sembunyi. Agar orang tak tahu.
Bagi masyarakat di nagari itu, sekali pun jauh dari keramaian, jauh dari kehidupan gemerlap, namun datang ke dukun adalah aib jika diketahui tetangga, apalagi diketahui orang senagari.
Cincin Kelopak Mawar Mengulang Kesalahan Masa Lalu
Minggu, 10/10/2010 10:30 WIB di www.padangmedia.com/?mod=berita&id=64006
padangmedia.com - PADANG- Pentas dibuka dengan seorang ibu yang tengah duduk sambil menyulam. Ia berada di tengah panggung dengan lima penari laki-laki mengelilinginya. Sambil disinari cahaya merah dengan iringan saluang.
Tak lama kemudian muncullah si anak, Badri namanya. Ia berlari kegirangan mendekati Ibunya. Sambil mengatakan bahwa ia jatuh cinta pada seorang kembang desa bernama, Rabiatun. “Kau tidak boleh berbuat lebih jauh dengan wanita yang belum kau nikahi. Karena bisa mendapat sangsi adat dari kampung. Jangan seperti ayahnya dulu, terusir dari kampong,” pesan ibu untuk anaknya
Cincin Kelopak Mawar, Simbol Kemunafikan
Peristiwa tak Terduga dalam Cincin Kelopak Mawar
KERJA kreatif dalam menulis cerpen mengharuskan penulisnya intens bergelut dengan segala unsur yang membangun kesatuan dalam cerpen-cerpen yang sedang digarapnya. Cerpen dianggap berhasil ketika tokoh, peristiwa, latar, narasi dan keberhasilan interaksi antara cerpen dengan pembacanya.
Bagaimana dengan cerpen-cerpen yang dikumpulkan dalam sebuah buku atau antologi? Sebagian besar penulis memang memikirkan persoalan hubungan tema di dalam cerpen-cerpen yang akan dikumpulkan. Ada juga yang memikirkan bahwa cerpen-cerpen yang akan dibukukan tersebut sudah patut dikumpulkan karena sudah lama tersimpan dan lebih pada persoalan agar naskah tersebut tidak tercecer. Atau lain hal yang menyangkut kedirian sang cerpenis, atau agar si cerpenis dianggap tetap eksis menulis cerpen.Teater Nan Tumpah dalam “Cincin Kelopak Mawar”
Sederhana atau Misikin Ide?
Oleh Ganda Cipta*
Apa hebatnya cerpen Cincin Kelopak Mawar (CKM) karya Firdaus? Pertanyaan itu muncul sesaat setelah saya mendapat kabar dari seorang teman, bahwa cerpen yang memenangi A.A Navis Award tahun 2007 ini, untuk kedua kalinya (setahu saya) dalam tahun ini akan diadaptasi ke dalam seni pertunjukkan.
Sebelum Teater Nan Tumpah mengadaptasi dan mempertunjukkannya dengan judul yang sama ke dalam sebuah pertunjukan teater, pada 9 Oktober 2010 di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, terlebih dahulu Impessa Dance Company telah mengangkatnya dalam karya tari dengan koreografer Jhoni Andra, di tempat yang sama pada 8 Maret 2010.
-
Oleh: Firdaus Entah kenapa, pada momentum peringatan Hari Ibu, kali ini, saya teringat pada cerpen karya A.A Navis (alm). Cerpen ...
-
By: Firdaus Abie Anak : Mengapa ada yang bergelimang harta Banyak pula yang menderita Ayahku dipanggil pulang Aku dihantui langkah bimbang ...