Oleh: Firdaus Abie
Saya
merasa, tergolong orang yang beruntung. Alhamdulillah.
Ketika
diterima menjadi wartawan di Harian Umum Semangat, Padang, surat lamaran saya
ditolak, tapi saya justru diterima. Cara menerimanya, bagi saya tergolong aneh.
Oleh: Firdaus Abie
Saya
merasa, tergolong orang yang beruntung. Alhamdulillah.
Ketika
diterima menjadi wartawan di Harian Umum Semangat, Padang, surat lamaran saya
ditolak, tapi saya justru diterima. Cara menerimanya, bagi saya tergolong aneh.
Selesai pelatihan, sejumlah anak mengajukan pertanyaan senada, “jangan hanya sekali pelatihan saja, Pak!” kata mereka.
“Mengapa?”
Oleh : Arbi Tanjung*
Pencang pencong gerak mulut membacanya.Geli sendiri dibuatnya
Judul : Indak Talok Den Kanai Ati
Penulis : Firdaus Abie
Penerbit : Rumah Kayu Pustaka (Padang)
Tahun Terbit : 2020
Halaman : xvi + 208
ISBN : 978-6006-0738-26-0
Karakter Paradise dalam novel berhasil menggiring pembaca untuk membayangkan tokoh-tokoh dalam sinema elektronik (sinetron) yang saban hari mendatangi ruang keluarga lewat layar kaca. Paradise, tokoh yang serba kekurangan secara materi. Namun, memiliki kepribadian yang patut dicontoh. Punya kemampuan khusus yang jarang dimiliki orang lain. Suka menulis, pemenang aneka lomba menulis, tulisan terbit di mading sekolah, dan media cetak. Mahir menulis surat cinta untuk orang lain.
Perawakannya tak menarik, kurus kerempeng. Berbaju seragam lapuk. Bercelana tum bok (ditempel-tempel). Masuk daftar kategori keluarga tak mampu, penyebutan lain untuk ‘miskin’ oleh pendata sensus. Demi ongkos kendaraan pergi sekolah, ia ikut bantu ayah bekerja di siang hari. Malam hari, berperan sebagai petugas ronda berbayar. Pendapatan dari pekerjaan itu hanya cukup untuk biaya ongkos pergi sekolah saja, sedangkan untuk pulang tetap harus berjalan kaki.
Perawakan dan nasib yang ditakdirkan padanya menjadi bahan cemoohan empuk oleh orang lain, terutama kawan di sekolah. Ia di bully, dikucilkan, tak dianggap ada. Tak dipedulikan. Lazimnya pengalaman anak remaja: ia juga jatuh cinta, sekaligus merasakan kecewa. Tiga kali jatuh cinta. Ketiganya ditolak. Dita menggantung jawaban tanpa penjelasan. Resti menolak dengan alasan umurnya lebih tua. Varistha lebih memilih tetap sebagai teman saja, sebab ia punya lelaki dambaan lain. Terakhir, ia memendam rasa tanpa berani mengungkapkannya pada Erika. Sampai ke ujung cerita.
Oleh: Firdaus Abie
Oleh: Firdaus Abie
Selasa (7/9) pagi, ketika membuka
selular, ternyata ada dua panggilan
tak terjawab. Salah satunya dari Aqua Dwipayana. Saya biasanya memanggil beliau
dengan sapaan Mas Aqua. Beliau biasa memanggil
saya dengan sapaan Uda Firdaus. Saya mengenalnya saat beliau masih bekerja di
Semen Cibinong, awal tahun 2000-an.
Oleh: Firdaus Abie
Kehadiran Aqua Dwipayana, motivator
dan pakar komunikasi, di Masjid Al-Hakim, di Jalan Samudera Pantai Padang, disambut antusias karyawan
yang mengelola masjid tersebut. Ada yang tahu asal usulnya.
“Pak Aqua orang Bungus ya? Suami
saya orang Sungai Barameh,” kata seorang karyawan di masjid tersebut, ketika
sang motivator memberikan kesempatan tanya jawab, saat sharing motivasi, Jumat
(17/9) pagi.
Akhirnya, suasana langsung cair.
Ibu muda tersebut kemudian membeberkan, ada banyak perubahan yang didapatkannya
sejak bekerja di masjid tersebut. Dulunya ia berjualan di pasar, kemudian
berhenti. Lalu, sejak setahun terakhir, bekerja di masjid tersebut.
Oleh: Firdaus Abie
Seusai mengikuti Dr Aqua Dwipayana,
motivator dan pakar komunikasi, memberikan motivasi kepada karyawan Masjid
AL-Hakim, di Jalan Samudera – Pantai Padang, saya diajak H Arnes Azwar, ke
ruangannya, di lantai bawah, Masjid Al-Hakim. Ketika itu juga ada sang motivator
dan Jimmy Noveldi, anak angkat beliau.
“Masih ada beberapa menit lagi,” kata H Arnes, membuka pembicaraan, sembari menyalakan AC di ruangan tersebut.