30 January 2020

Berpacu Menuju Raudah


Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (4)







Perjalanan Jakarta – Madinah menggunakan penerbangan Garuda Indonesia, GA 960, berlangsung tenang. Sesekali terasa ada guncangan. Aku dapat seat 41 C. Di sebelah kiriku Aziz. Di kirinya, Risnanda. Keduanya kukenal di dua tempat berbeda.

Aziz merupakan karyawan Paragon Technology and Innovation yang sehari-hari bertugas di Cirebon. Aku mengenalnya di Bandara Soeta – Tanggerang, disaat semua rombongan calon jamaah umroh berkumpul.

Ketika itu, ada banyak orang menggunakan seragam sewarna dengan kemaja batik yang aku gunakan. Seragam bermerek NRA (Nur Rima Al-Waali), biro perjalanan yang akan menggantarkan kami ke Tanah Suci. Kendati berseragam sama, namun aku menghitung, terlihat nyata ada lima kelompok. Aku harus di mana?

Aku perhatikan secara seksama.

“Kita ke sana,” ajak  Ira Anzaina Putri (Human Capital Executive Paragon Technology), yang biasa aku sapa Mbak Ira, sebelum sempat aku menentukan kepastian kelompok mana yang harus didatangi.

“Ya,” balasku. Junus dan Juhri mengiyakan.

Ada perbedaan penampilan kelompok yang hendak kami tuju dibandingkan empat yang lain. Kami menuju kelompok jamaah yang menggunakan scarf berwarna biru, bermerek Jamaah Umroh Paragon.  Scarf yang sama juga melingkar di leherku dan Junus serta Juhri.

Aku mengenal Risnanda di Wisma Haji dan Umroh milik NRA, Jl. Mampang Prapatan Raya No 74E Tegal Parang - Jakarta Selatan.  Ketika hendak salat Magrib, aku turun ke musala wisma. Ketika itu, ada Risnanda bersama isterinya dan Eggy Erizal bersama isteri. Kami berjamaah. Risnanda yang jadi imam.

Perjalanan kami selingi dengan bicara panjang lebar, khususnya seputar ibadah umroh. Ada kalanya kami juga asyik sendiri-sendiri dengan tayangan di depan kursi masing-masing. Aku menikmati sajian salawat penyejuk jiwa melalui fasilitas tayangan di pesawat. Menggunakan Headphone yang disediakan.

Sampai di Madinah, setelah mengambil koper kecil, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Al-Haram.

“Nanti keluar dari hotel, lurus saja. Kita akan jumpai pintu dua puluh enam, nah itu panduannya,” kata Ustad Hakim, pembimbing ibadah yang disediakan untuk kami. Ustad Hakim sudah enam tahun menetap dan kuliah di Makkah.

Biro perjalanan NRA menyediakan dua orang ustad untuk membimbing dan mendampingi Jamaah Umroh Paragon. Selain Ustad Hakim, juga ada Ustad Muhammad Azzam yang berangkat bersama jamaah, Jakarta – Madinah – Makkah – Jeddah – Jakarta. Ustad Hakim menjemput ke Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, mendamping selama di Tanah Suci hingga ke Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah.

Informasi Ustad Hakim semakin membuat semangat jamaah umroh Paragon bersemangat. Setelah turun dari bus, dalam perjalanan masuk ke lobi hotel, sebuah suara membelah keheningan malam.

“Jam dua nanti, kita ke masjid,” ajak suara itu Informasi Ustad Hakim semakin membuat semangat jamaah umroh Paragon bersemangat. Setelah turun dari bus, dalam perjalanan masuk ke lobi hotel, sebuah suara membelah keheningan malam.

“Jam dua nanti, kita ke masjid,” ajak suara itu. Entah siapa yang memulai, tak ada yang tahu, tetapi semua menjawab setuju. Ketika itu, pukul 00.15 waktu Madinah.

Benar saja. Kamis, 16 Januari 2020, pukul dua, semua sudah berada di lobi hotel. Setelah cukup, langkah pun dilangkahkan menuju Masjid Nabawi. Dingin. Menggigil. Angin berhembus sangat kencang. Suhu dinihari, 8 derajat celsius.

Aku bersama Paragonians (sebutan untuk karyawan Paragon dan keluarga besar Paragon) bergerak menuju  pintu 26 Masjid Nabawi.  Bismillahirahmanirrahim. Langkah pun dilangkahkan. Suhu dingin terasa menusuk tulang.

Di dalam masjid, jamaah lain sudah ramai, mengisi syaf-syaf demi syaf. Saya dan tujuh teman lainnya,  bergegas menuju syaf terdepan. Tujuannya, Raudah (Taman Sorga), yang terletak antara mimbar Rasulullah dengan kediamannya.

Dalam risalah disebutkan, Raudah merupakan salah satu tempat paling mustajab dalam doa. Dua jamaah mendapatkan kesempatan masuk ke Raudah. Lainnya berada syaf lain. Raudah merupakan salah satu tempat utama jamaah.  Diriwayatkan Abdullan bin Zaid al-Maziini RA, Nabi SAW bersabda, Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman surga. Kemulian ini membuat jemaah selalu mengincar tempat ini untuk melaksanakan  salat wajib dan sunah.

Raudah tidak terlalu besar. Ukurannya hanya 22 x 15 meter. Terbentang dari mimbar yang dulunya dipakai Nabi Muhammad hingga sebelah rumah beliau. Kini, Raudah menjadi bagian dari Masjid Nabawi yang memiliki 232 tiang. Awalnya, masjid ini memiliki enam tiang. Tiang-tiang Masjid Nabawi, pada mulanya tiang tersebut berasal dari pohon kurma.

Sesampai di bagian utama Masjid Nabawi, khususnya di pintu 2, 3 dan 4, aku melihat orang berlarian. Aku tertegun, lalu ikut berlari ke arah orang berlari tersebut. Aku yakin, petugas telah membuka sekat untuk masuk ke Raudah. Impian untuk bisa beribadah di Raudah membuncah dalam diri kami.

“Haji.., haji.., haji..,” teriak petugas sembari menunjuk-nunjuk.

Aku melihat kepadanya. Tunjuknya di antaranya ditujukan juga padaku, pada jamaah lainnya. Ia kemudian merentangkan tangan, pertanda tak boleh melewati batas yang diberikannya. Jamaah lain berdiri terpaku. Aku juga. Tak lama di antaranya, ia kemudian memberikan tanda agar semua duduk.

Aku melihat ke kiri, mencari titik batas rumah Rasulullah yang kini sudah dijadikan komplek pemakaman beliau. Seorang lelaki di sebelah kananku juga terlihat mengamati hal yang mirip denganku.

“Kita di luar Raudah,” katanya. Aku mengangguk.

Posisiku ketika itu, dua shaf di belakang shaf terakhir Raudah. Tak bisa masuk menembus Raudah, akhirnya aku kuatkan diri untuk tetap berada di syaf tersebut, lalu mencari celah untuk bisa masuk. Minimal, selepas salat Subuh. Eh, belum selesai salat Subuh, wilayah Raudah sudah ditutup kembali.

Hari pertama ke Masjid Nawabi tersebut, ternyata hanya dua di antara delapan jamaah pria rombonganku yang berhasil masuk ke Raudah dinihari tersebut. Ia berkesempatan beribadah di Raudah hingga lepas Subuh.

Selepas Subuh, aku akhirnya mengikuti alur jamaah yang berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW melalui pintu di depan syaf terdepan Masjid Nabawi. *

29 January 2020

Bukan Hanya untuk Kita

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (3)

 


"Isteri saya diumrohkan Paragon. Saya juga diberi kesempatan," kata Eggy Erizal, teman sekamarku  di Wisma Haji dan Umroh Jakarta.  
Kami berkenalan setelah sekamar. Aku berangkat dari Padang, sedangkan Erizal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Erizal bercerita, isterinya merupakan karyawan Paragon Technology and Innovation,  perusahaan kosmetik terbesar di Indonesia. Salah satu produknya yang terkenal merek Wardah. Ketika dikabari bahwa isterinya diberangkatkan umroh oleh perusahaan, dirinya terkejut. Ia tak pernah menduga memperoleh kesempatan tersebut.
“Alhamdulillah, akhirnya kami bisa berangkat bersama,” katanya.
Sang isteri, Erna, bekerja di Paragon untuk wilayah kerja Tasikmalaya. Ia sudah tujuh tahun menjadi karyawan perusahaan yang terus tumbuh tersebut. Ia menyampaikan rasa syukur yang tiada terkira ketika dikabarkan memperoleh kesempatan program khusus; Umroh Gratis Paragon. 
Ira Anzaina Putri, Human Capital Executive Paragon Technology and Innovation, yang sehari-hari saya sapa Mbak Ira, menyebutkan, umroh gratis  tersebut sebagai  apresiasi manajemen terhadap komitmen dan loyalitas karyawan pada perusahaan.
“Semua karyawan memiliki hak dan kesempatan yang sama,” katanya.
Tak ada batasan, selain masa kerja, “jika sudah bekerja tujuh tahun, maka perusahaan akan memberangkatkan mereka untuk umroh,” katanya.


Mbak Ira belum dapat. Katanya, ia harus menunggu empat tahun lagi, “saya baru tiga tahun bekerja di Paragon,” katanya.
Lain Mbak Ira, lain pula Pak Manan, lelaki yang menjemput aku, Junus (Wartawan Koran Jakarta) dan Juhri (SCTV Ambon) ke penginapan, ketika menanyakan perihal lelaki ramah yang menjemput kami tersebut.
Katanya, ia dulu karyawan Paragon. Sudah pensiun. Belakangan, ia ternyata masih diberi kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bedanya, status tidak seperti karyawan lagi. Kendati demikian, Pak Manan mengaku sangat senang karena kendati sudah pensiun, namun tenaganya masih digunakan di perusahan yang telah mengantarkannya ke Tanah Suci.
"Saya Alhamdulillah berangkat bersama Bu Nur, saat pertama program Umroh Gratis ini ada," kata Pak Manan.
Bu Nur yang dimaksud adalah Ibu Nurhayati Subakat, pendiri dan pemilik Paragon Technology and Innovation. Perusahaan yang didirikannya pada 1985,  awalnya hanya memiliki dua karyawan. Sekarang pegawainya sudah lebih dari 12 ribu orang.
Pak Manan bercerita, ia  bekerja sekitar 15 tahun di Paragon. Di tahun 2017, saat Angkatan I Umroh Gratis untuk karyawan tersebut, ia termasuk salah satu di antaranya. Ia tak pernah membayangkan memperoleh kesempatan yang luar biasa.
"Saya tak pernah membayangkan bisa umroh ke Tanah Suci," tambahnya.
 Program umroh gratis untuk  karyawan Paragon berlangsung sejak 2017. Tahun pertama, diberangkatkan 500 orang,  tahun kedua 600 orang, dan tahun ketiga 700 orang. Setiap tahun rata-rata dibagi dalam 16 kloter.
"Apa yang kita dapat, bukan hanya untuk kita. Ada hak orang lain yang harus diberikan," kata Nurhayati Subangkit, ketika aku, Junus  dan Juhri diundang khusus ke pabrik Paragon Technology and Innovation, sebelum ke Bandara Soekarno Hatta untuk selanjutnya terbang ke Madinah.
Perempuan asal Padang Panjang, Sumbar itu kemudian membeberkan fakta tentang perusahaan yang kini dikelolanya bersama anak-anaknya. Nurhayati menanamkan prinsip agar peduli kepada karyawan dan selalu ingat kepada orang lain. Prinsip tersebut kemudian menjadi salah satu kekuatan perusahaannya.
Pascakebakaran yang pernah menghancurkan usahanya tahun 1990, Nurhayati bangkit untuk mengembangkan usaha, sehingga kini terus berkembang pesat serta sudah masuk ke Malaysia serta Singapura.
Sekitar 90 persen dari karyawannya yang berjumlah lebih dari 12 ribu orang adalah generasi milenial. Paragon memiliki lahan untuk pabrik dan kantor seluas 20 Ha. Semua karyawan diberi ruang untuk berekspresi sesuai tuntutan dan kebutuhan pasar.
Nama Paragon Technology and Innovation didapatkan dari diskusi panjang dengan karyawan. Semula perusahaan ini bernama Pusaka Tradisi Ibu.
"Ada mitra dari luar negeri meminta kami untuk mempertimbangkan mengganti nama perusahaan," kata Nurhayati, mengenang sembari menyebutkan, Paragon berarti permata yang indah.
Ada lagi cerita menarik dari Mbak Ira dan Mbak Ria yang mendampingi kami keliling pabrik, ketika ada standing banner yang berisi enam nilai-nilai perusahaan.
"Ini justru Paragonians yang merumuskan," kata Mbak Ira.
Paragonians merupakan sebutan gaul untuk karyawan dan orang-orang yang mencintai Paragon Technology and Innovation.
Rumusan Nilai-nilai Perusahaan, tambahnya, merupakan cerminan keseharian di Paragon Technology and Innovation yang memiliki lebih dari 1.000 item produk.*


28 January 2020

Tak Ada yang Kebetulan

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (2)

Oleh: Firdaus Abie


Minggu (12/1-2020) siang, sebuah  pesan singkat aku kirim ke Ira Anzaina Putri. Aku biasanya menyapanya dengan sapaan Mbak Ira. Kami  kenal baru melalui WA, sejak sebulan terakhir.

"Mbak, kopernya belum datang," isi pesan yang ku kirim.

Pesan yang sama juga ku kirimkan ke Mbak Juli. Isinya sama,  mengabarkan koper yang katanya sudah dikirimkan sepekan lalu belum juga sampai, sementara kebutuhan lain sudah datang beberapa hari lalu.

Tak lama, kurang dua menit, pesan singkat tersebut langsung dibalas.

"Sebentar, Pak. Saya cek sebentar," balas Mbak Ira, Human Capital Executive Paragon Technology and Innovation.

Mbak Juli membalas pula, "Saya konfirmasi ke gudang sebentar ya, pak," katanya.

Sambil menunggu informasi lanjutan, tiba-tiba sebuah minibus berhenti di depan rumah.

"Paket...!" suara seorang lelaki yang keluar dari mobil. Aku menghampiri, lalu membuka pagar.

"Ada paket untuk Pak Firdaus," katanya.

"Ya, saya," aku menjawab sembari langsung menebak kiriman dari Paragon. Lelaki muda yang membuka bagian tengah Grand Max putih,  membenarkan.

Tak hanya aku  yang gembira menyambut kehadiran paket tersebut. Isteri dan kedua anakku  tampak senang. Bahagia sekali mereka.

"Alhamdulillah," kata Erlina Rivai, isteriku.

"Jadi juga Abi umroh," goda Zhilan dan Zidane, keduanya  menikmati hari libur di rumah.

Beberapa hari belakangan, isteriku  sangat antusias mempersiapkan kebutuhan umroh  sesuai buku panduan biro perjalanan NRA. Anak-anak serta kakak, adik, keponakan dan keluarga besarku  dan keluarga isteri sangat bahagia mendengar rencana aku akan umroh. Mereka bahagia sekaligus terkejut sebab rencana keberangkatanku terkesan mendadak.

Sehari sebelumnya, paket dalam berupa buku panduan umroh, pakaian ihram, kain batik biro perjalanan, NRA, sampai di rumah. Aku   dan isteri langsung menghubungi penjahit langganan kami. Maklum, Selasa (14/1-2020) aku harus ke Jakarta dan bergabung dengan semua calon jamaah umroh karyawan PT Paragon Technology and Innovation. Aku kuatir, kain batik tersebut tidak akan terkejarkan untuk dijahit menjadi baju.

"Komunikasikan ke Mbak Ira jika tak terkejarkan menjahit, ya Pak. Nanti dibantu Mbak Ira menyampaikan ke biro perjalanannya," tambah Mbak Juli.

Kali ini, aku  membalas pesan Mbak Juli dengan emoji orang tersenyum, tapi anjuran tersebut tak langsung kuturuti.

"Insya Allah saya perioritaskan, Bi," kata Ustadz Anto, penjahit langganan kami, yang juga seorang ustadz.

Saya hanya "memberi waktu" dua hari saja kepada beliau.

Alhamdulillah. Ustad Anto justru langsung mengantarkan ke rumah, selesai salat Subuh, sehari sebelum saya menuju Jakarta.

"Semoga selalu diberi kesehatan dan selamat dalam perjalanan bersama rombongan. Semoga mabrur dan makbul, Abi," katanya.

Menjelang Maghrib, di hari Minggu itu juga, Mbak Ira menyampaikan pula kabar.  Ia baru saja mentransfer  titipan Bu Nur (Nurhayati Subakat) pemilik dan pendiri Paragon Technology and Innovation, sebagai tambahan bekal untuk perjalanan umroh nanti. Bersamaan, ada bunyi khusus di selularku. SMS banking-ku berbunyi. Alhamdulillah.

Aku benar-benar memanjatkan syukur yang tiada terkira. Sudahlah diberi satu seat untuk ikut umroh bersama paket umroh gratis karyawan PT Paragon Technology and Innovation, dibekali pula dengan tambahan selama perjalanan umroh.

“Buk Nur mohon maaf, Pak. Tak banyak,” kata Mbak Ira.

Bagiku, yang diberikan beliau, justru sangat banyak.  Diajak umroh bersama karyawannya saja sudah sangat luar biasa, apalagi ada tambahan bekal.

Dihari Minggu itu, saya masih minum obat dari dokter. Malam sebelumnya, saya sempat berobat karena sejak Jumat siang hingga Sabtu malam, suhu tubuhku terasa sangat tinggi. Aku mendemam. Aku merasakan tubuhku menggigil, sementara isteri dan anak-anakku merasakan suhu tubuhku sangat panas. 

Aku terus memaksakan diri untuk mempersiapkan semuanya secara maksimal. Minggu malam, aku dan isteri masih mengecek semua kebutuhan. Masih ada yang kurang. Senin siang aku dan isteri belanja ke Pasar Raya Padang  mencari kebutuhan yang harus dibawa ke Tanah Suci.

Persiapan-persiapan lain pun aku lakukan, sembari mengingat hari-hari yang telah berlalu. Sama sekali tak pernah menduga, Allah  SWT memberikan jalan kepadaku untuk menunaikan ibadah umroh melalui umroh bersama rombongan Paragonians, sebutan untuk karyawan Paragon Technology and Innovation.

Aku  mendapatkan kesempatan emas ini melalui sosok Dr Aqua Dwipayana. Aku biasa menyapa beliau dengan sapaan   Mas Aqua,  motivator hebat yang dimiliki Indonesia saat ini. Ketika itu, diawali Desember 2019, beliau yang dalam perjalanan ke Sijunjung bersama Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Beliau mengajakku berangkat umroh bersama karyawan Paragon Technology and Innovation.

Katanya, Ibu Nurhayati Subakat memberikan kesempatan kepada lima wartawan untuk umroh bersama Paragonians. Sepenuhnya diserahkan ke Mas Aqua untuk memilih orangnya.

Mas Aqua kemudian menginventaris sahabat dan yuniornya di jurnalistik. Aku  salah satunya.

Belakangan aku  dapat kabar, butuh waktu panjang bagi Mas Aqua untuk memutuskan siapa lima wartawan yang diajaknya umroh bersama perusahaan yang salah satu produknya adalah Kosmetik Wardah. Sulitnya beliau memutuskan bukan tanpa alasan, selain sebagai seorang yang lama berkecimpung di dunia jurnalistik dan menjadi motivator, beliau punya banyak teman, sahabat jurnalis. Dari Sabang sampai Merauke.

Kelima wartawan tersebut,  Erwin Kustiman (Pikiran Rakyat Bandung),   Djoko Heru Setiyawan (Jawa Pos Radar Bali Denpasar). Mereka berangkat pada Kloter 13. Sedangkan aku,  Suyunus Rizki Ekananda (wartawan Koran Jakarta), Juhri Samanery (SCTV - Indosiar di Maluku), berangkat pada Kloter 14. Khusus nama terakhir, bukan pilihan Mas Aqua, tetapi beliau minta kepada Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo untuk  menunjuk orangnya.

Aku  bersyukur karena termasuk dalam lima wartawan yang diajak umroh. Aku yakin, kesempatan ini bukanlah kebetulan. Aku ingat apa yang pernah disampaikan Mas Aqua saat memberikan motivasi kepada personil BPBD se-Sumbar, pertengahan Desember 2020 lalu.

Kata beliau, tak ada yang kebetulan dalam hidup. Semua sudah digariskan Allah SWT. Semua atas kehendak-NYA. "Kita hanya menjalankan skenario yang sudah disiapkan Allah SWT untuk kita," kata perintis umroh gratis The Power of Silaturahmi, sesuai judul buku super best seller-nya.

Labbaika Allahuma Labbaika...! *

27 January 2020

Kabar Selepas Magrib


Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (1)







Selepas magrib, tiba-tiba selularku berdering. Seseorang menghubungiku. Di layar, namanya tertera nyata. Aku menulis namanya, Mas Aqua. Nama lengkapnya; Aqua Dwipayana, sang motivator hebat yang sudah aku kenal sejak lama.

 “Assalammu’alaikum, Uda Firdaus,” kata Mas Aqua, mendahului menyapaku.

“Waalaikumsalam, Mas. Ada sehat-sehat saja, Mas?” tanyaku.

“Alhamdulillah,” jawabnya, “malam ini saya dalam perjalanan bersama pak Doni  dari Batusangkar ke Sijunjung. Besok ada kegiatan di Sijunjung,” katanya.


Pak Doni dimaksud beliau adalah Letjen TNI Doni Monardo,  Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

 “Hati-hati di jalan mas. Salam untuk pak Doni ya, Mas,” kataku membalas.

Terdengar suara Mas Aqua menyapa seseorang. Terdengar ia menyampaikan salamku kepada orang yang aku tuju, sekaligus beliau menyebutkan identitasku.

“Salam balik dari pak Doni, Uda Firdaus,” katanya.


Begitulah. Aku memanggilnya Mas Aqua. Ada kata mas di depannya karena ia seniorku. Ia pernah menjadi wartawan Jawa Pos.  Aku bergabung dengan Jawa Pos melalui grupnya di Padang, tepatnya di Padang Ekspres, tahun 1999. Selepas dari Jawa Pos, Mas Aqua pindah ke  Semen Cibinong. Ketika beliau di perusahaan semen itu, kami berkenalan. Aku tahu, beliau berasal dari Bungus, Kota Padang. 

Perkenalan terjadi di awal tahun 2000-an. Ketika itu, dalam kapasitas orang Semen Cibinong, Mas Aqua berkunjung ke kantor Padang Ekspres, di Jl Proklamasi – Padang, tempat saya bekerja sehari-hari menjadi wartawan.

Pertemuan pertama tersebut berlanjut menjadi pertemuan kedua, ketiga dan seterusnya. Saya juga pernah melakukan kunjungan balasan ke Semen Cibinong. Sejak itu, pertemuan secara sengaja dan tidak sengaja terus berlangsung.

Pertemuan terakhir, suatu ketika sebelum Jumatan, beberapa bulan lalu. Ketika itu, beliau mengabarkan sedang berada di Padang dan akan berkunjung bersilaturrahmi ke beberapa tempat. Aku pun menyesuaikan. Akhirnya, kesepakatan  didapat. Kami bertemu di kediaman Prof. Dr. H. Werry Darta Taifur, SE, MA, mantan Rektor Unand yang kini menjadi Komisaris PT Semen Padang.

Pertemuan di kediaman Prof Werry berlangsung santai. Tak ada pembicaraan khusus selain silaturahmi. Ketika itu, juga ada isteri Prof Werry. Pertemuan tersebut berakhir ketika sayup-sayup terdengar orang mengaji dari pengeras suara di masjid dekat rumah sang profesor. Kami bubar untuk melaksanakan Salat Jumat.

“Uda Firdaus, sudah pernah umroh?” tanyanya.

“Belum mas,” jawabku.

“Rencananya kapan?” tanya beliau lagi.

Belum sempat aku menjawab, beliau melanjutkan, “kita barengan melaksanakan umroh, ya?” katanya mengajak, melanjutkan kontak telpon malam itu, “kita berangkat Desember ini,” lanjutnya.

“Wowww. Mendadak sekali, mas?” balasku.

“Mungkin ini sudah jalanNya untuk kita,” kata beliau dan langsung meminta agar aku mengirimkan sejumlah berkas untuk kebutuhan perjalanan.

Ada berkas yang kurang. Paspor khusus ke Tanah Suci, menggunakan nama tiga suku kata, belum aku miliki. Prosesnya tentu dilakukan di Kantor Imigrasi Kelas I Padang, di Jalan Khatib Sulaiman. Aku  dikejar waktu tenggang.

“Sahabatnya pak Aqua, ya?” tanya buk Puji, salah seorang staf di kantor tersebut yang sudah lama pula mengenal Aqua Dwipayana.

Puji  kemudian mempertemukanku dengan dengan pak Misiri, dan pak Abdillah, Kepala Imigrasi BIM. Ketika bertemu pak Abdillah, beliau mengatakan baru saja dihubungi pak Aqua, “beliau menyebutkan, ada sahabatnya yang akan menemui saya,” kata pak Abdillah sembari menyebutkan nama orang yang akan menghubunginya tersebut. Rupanya, nama saya. Hehehe....

Disela-sela kegiatan mereka, kami bicara akrab sekali. Terasa sangat dekat. Seakan sudah berkenalan lama. Pak Misiri menyebutkan, mereka pernah mendapatkan pembekalan motivasi dari Aqua Dwipayana. Motivasi yang diberikan terasa sekali. Tak hanya saat kegiatan berlangsung, hingga hari ini, masih sangat terasa di  diri mereka. Selain itu, silaturrahim terus dipupuk dan berkelanjutan.

Mas Aqua kemudian melanjutkan, insya allah Desember 2019, ada rombongan umroh gratis karyawan Paragon Technology and Innovation. Diinisiasi pemiliknya Ibu Dr (HC) Nurhayati Subakat dan CEO-nya Bapak Salman Subakat. Salah satu produk terkenal perusahaan itu adalah kosmetik Wardah.

Kata Mas Aqua, perjalanan umroh ini dibiayai Paragon Technology and Innovation.   Mengikutsertakan lima wartawan di dalamnya. Siapa wartawan yang dibawa, sepenuhnya diserahkan kepada beliau. Aku tak menduga, salah satu di antara amanah itu diberikan kepadaku.  

Bagiku,  ini sebuah anugerah, sejalan dengan rencana saya untuk menunaikan umroh di tahun pertengahan 2020. Kata-kata beliau membuatku  terdiam, mengapa harus ditunggu tahun depan jika kesempatan itu datang lebih cepat?

Ketika mengirimkan berkas yang diminta Mas Aqua, rasanya seperti mimpi. Rasanya,  undangan tersebut datang tanpa diduga, sekali pun selama ini saya sering mengikuti tulisan-tulisan beliau seputar aktivitas  menjembatani banyak orang untuk umroh gratis.

Saya teringat buku  The Power of Silaturahim (POS), yang  benar-benar menjadi “darah daging” dalam keseharian beliau. Kekuatan silaturahim adalah sebuah kekuatan dahsyat yang tidak akan dapat dibendung oleh siapa pun, kecuali pemilik alam ini.

Setidaknya, hebatnya kekuatan silaturahim tersebut tergambar jelas dari tulisan-tulisan Mas Aqua terhadap banyak persoalan yang dihadapinya, mau pun masalah yang dihadapi sahabat beliau. Banyak kisah inspiratif yang saya dapatkan dari postingan beliau yang berangkat dari peristiwa keseharian.  Komunikasi menjadi cair, urusan menjadi mudah dan hidup semakin indah.

Setelah komunikasi dengan Mas Aqua berakhir, aku terdiam, tertegun  tak percaya mendengar kabar selepas Magrib tersebut. Aku hadapkan  posisi ke arah kiblat, lalu aku takbir; Allahu Akbar!

Aku sujud syukur. Allahu Akbar!
*



[]Firdaus Abie, Wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar

04 January 2020

Taksi Uda Menuju BIM


Judul Buku : Taksi Uda Menuju BIM
Penulis : Dra Hj Yenni Putri, MM
Editor : Firdaus Abie
Penerbit : Visigraf



Sinopsis
Di antara kewajiban guru adalah menulis Best Practice (Praktik Terbaik) yang berangkat dari pengalam dalam menyelesaikan masalah pendidik dan tenaga pendidikan. Muaranya diharapkan mampu memperbaiki mutu layanan pendidikan dan pembelajaran.
Sesuai aturannya, penulisan secara runut dimulai dari latar belakang yang menyebabkan penulis pengamatan mau pun penelitian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikannya, kemudian mencarikan jalan keluar terhadap masalah tersebut.

02 January 2020

Cincin Kelopak Mawar

Judul                 : Cincin Kelopak Mawar
Penulis              : Firdaus Abie
Penerbit             : ErKa 
Tahun Terbit      : 2016



Sinopsis Novel

   Mereka tahu, berdukun terlarang di kampungnya. Mereka paham, pacaran adalah aib di kampungnya. Larangan dan pantangan sejak masa lalu, ternyata tak menyurutkan nyali mereka. Sanksi sosial yang dijatuhkan orang kampung, dibuang sepanjang adat,  diusir dari kampung dan tak diizinkan lagi untuk pulang, sekali pun hanya jasad, tak membuat Badri dan Rabiatun jera.
Badri dan Rabiatun bermain api. Keduanya memanfaatkan waktu-waktu sempit. Keduanya mencuri-curi kesempatan untuk menjalin hati di tempat-tempat berbeda. Kedekatan hubungan keluarganya, dimanfaatkan untuk merajut hati itu.