19 January 2022

RPI – KPM Bedah Buku 20 Penulis Muda Sumbar

Rumah Produktif Indonesia (RPI) Sumatera Barat dan Komunitas Penulis Minang (KPM) akan membedah buku Kumpulan Cerpen (Kumcer) Dua Pilar Rindu. Buku tersebut ditulis 20 orang siswa binaan Bengkel Literasi Rakyat Sumbar.
Bedah buku tersebut menghadirkan dua pemantik diskusi,  Muhammad Subhan (Penulis dan Pegiat Literasi), dan Dra Yenni Putri, MM (Pengawas Inspiratis tk Nasional tahun 2021 dan Penulis) serta mendatangkan ada tiga dari 20 penulisnya. Ketiga penulis itu,  Zhilan Zhalila, Nurul Fazira Pratama dan Reyhan Meldi Santana. 

18 January 2022

Fauzi Bahar Beli Buku “Dua Pilar Rindu” :


“Apresiasi untuk Generasi Muda, Teruslah Berkarya…”

 

Sebuah pesan singkat masuk ke selular saya, "Dinda, abang pesan bukunya, ya,"

Membacanya, saya sedikit terkejut. Saya tak menduga, Fauzi Bahar, mantan Walikota Padang, mengirimkan pesan singkat untuk membeli buku Kumpulan Cerpen yang ditulis pelajar dan mahasiswa. Penulisnya belum punya nama tenar.

 "Ini kumpulan Cerpen penulis pemula, bang," balas saya.

"Apa salah kalau abang memesan?" tanya beliau.

Tonton di sini; 

https://www.youtube.com/watch?v=FviYMuD9BqI&t=496s  

Maka, selepas salat Isya, saya dan Zhilan Zhalila, salah seorang penulis buku  tersebut, sampai dikediaman Fauzi Bahar, di kawasan Gunuang Pangilun.

"Jangan lupa, bukunya ditandatangani dan berikan catatan, ya," kata Fauzi Bahar kepada Zhilan Zhalila.

17 January 2022

Buat Orang Lupa Agama

Pesan singkat yang dikirim senior saya di dunia kewartawanan ketika berkiprah di Harian Semangat; Nofi Sastera,  mengabarkan H Zainuddin Tamir Koto yang akrab dengan sapaan Zatako, meninggal dunia, membuat saya tersentak.


“Taruihlah Manulih, Jan Lupo Kode Berita Tu..”

Oleh: Firdaus Abie

 

Saya merasa, tergolong orang yang beruntung. Alhamdulillah.

Ketika diterima menjadi wartawan di Harian Umum Semangat, Padang, surat lamaran saya ditolak, tapi saya justru diterima. Cara menerimanya, bagi saya tergolong aneh.

“Silakan bung tinggalkan saya. Dua jam lagi kembali ke sini. Saya ingin tahu apa yang bung bawa ke kantor,” kata Yanuar Abdullah, Pemimpin Redaksi koran yang bermarkas di bekas Balai Prajurit, Jl Imam Bonjol – Padang.

16 January 2022

“Jangan hanya Sekali Pelatihan Saja, Pak..!”

Selesai pelatihan, sejumlah anak mengajukan pertanyaan senada, “jangan hanya sekali pelatihan saja, Pak!” kata mereka.

Pertanyaan tersebut, menghadirkan pula pertanyaan dari Firdaus Abie, Pemimpin Redaksi Harian Umum Rakyat Sumbar kepada pelajar MTsN 4 Pasaman.

“Mengapa?”

15 January 2022

Cerita Remaja Biasa, Pakai Bahasa yang ‘Luar Biasa’


Oleh : Arbi Tanjung*

Pencang pencong gerak mulut membacanya.Geli sendiri dibuatnya

 

Judul                                      : Indak Talok Den Kanai Ati

Penulis                                    : Firdaus Abie

Penerbit                                  : Rumah Kayu Pustaka (Padang)

Tahun Terbit                         : 2020

Halaman                                 : xvi + 208

ISBN                                       : 978-6006-0738-26-0

 

    Karakter Paradise dalam novel berhasil menggiring pembaca untuk membayangkan tokoh-tokoh dalam sinema elektronik (sinetron) yang saban hari mendatangi ruang keluarga lewat layar kaca. Paradise, tokoh yang serba kekurangan secara materi. Namun, memiliki kepribadian yang patut dicontoh. Punya kemampuan khusus yang jarang dimiliki orang lain. Suka menulis, pemenang aneka lomba menulis, tulisan terbit di mading sekolah, dan media cetak. Mahir menulis surat cinta untuk orang lain. 

 Perawakannya tak menarik, kurus kerempeng. Berbaju seragam lapuk. Bercelana tum bok (ditempel-tempel). Masuk daftar kategori keluarga tak mampu, penyebutan lain untuk ‘miskin’ oleh pendata sensus. Demi ongkos kendaraan pergi sekolah, ia ikut bantu ayah bekerja di siang hari. Malam hari, berperan sebagai petugas ronda berbayar. Pendapatan dari pekerjaan itu hanya cukup untuk biaya ongkos pergi sekolah saja, sedangkan untuk pulang tetap harus berjalan kaki. 

Perawakan dan nasib yang ditakdirkan padanya menjadi bahan cemoohan empuk oleh orang lain, terutama kawan di sekolah. Ia di bully, dikucilkan, tak dianggap ada. Tak dipedulikan. Lazimnya pengalaman anak remaja: ia juga jatuh cinta, sekaligus merasakan kecewa. Tiga kali jatuh cinta. Ketiganya ditolak. Dita menggantung jawaban tanpa penjelasan. Resti menolak dengan alasan umurnya lebih tua. Varistha lebih memilih tetap sebagai teman saja, sebab ia punya lelaki dambaan lain. Terakhir, ia memendam rasa tanpa berani mengungkapkannya pada Erika. Sampai ke ujung cerita.

23 October 2021

Setelah Kegagalan Sumbar di PON Papua

Oleh: Firdaus Abie

Jamaknya tolok ukur sebuah multievent olahraga, diukur dari perolehan medali kontingen yang berlaga. Di arena Pekan Olahraga Nasional (PON), kontingen Sumbar pernah terpuruk di posisi yang buruk. Pernah dua kali pulang tanpa sekeping emas pun. Terjadi tahun 1969 dan 2000. Keduanya di Surabaya, Jawa Timur.
Satu-satunya medali yang dibawa pulang, tahun 1969, medali perunggu.  Berasal dari panahan beregu atas nama Mursyidah Arifin, Odi Supardana, Olga Nurbaiti Ali, Nuzra. Berada di posisi ke-22. Empat perak pada PON 2000 dipersembahkan angkat berat, takraw, gulat dan layar. Selain itu, ada tujuh perunggu. Saat itu,  Sumbar berada  di peringkat 26.
Usai PON di Surabaya, tahun 2000, Sumbar buncah. Kecewa, caci maki dan beragam pernyataan mencuat ke permukaan. Kendati ketika itu belum ada media sosial seperti sekarang, namun umpatan-umpatan tersebut meluncur dari mulut ke mulut. Setiap hari.
Buntutnya, evaluasi besar-besaran dilakukan. Langkah besar pertama, Musyawarah Olahraga Daerah Luar Biasa (Musyordalub) KONI Sumbar, tak terhindarkan. Dilakukan pemilihan ulang pengurus. Salah satu indikatornya, agar persiapan ke PON di Sumatera Selatan, tahun 2004, bisa lebih dimaksimalkan.