Badri sudah mengenal Rabiatun sejak kecil. Sejak ingus masih meleleh dari hidungnya, kemudian disapu
dengan lengan kanan dari kiri hidungnya ke arah samping kanan pipinya. Saat
itu, ia sudah merasakan sesuatu pada gadis tersebut.
Ia sangat menyukai Rabiatun. Sangat mengagumi teman kecilnya itu. Teman
semasa mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Bagi Badri, Rabiatun
merupakan cewek paling sempurna. Hitam manis, berambut panjang, hidung mancung,
berpenampilan tenang. Kesehariannya berbeda dibandingkan anak-anak sebayanya.
Sejak masih kanak-kanak, Badri memandang sosok Rabiatun sebagai sosok anak
baik, solehah dan paling sempurna jika dibandingkan kawan-kawannya. Tak mengherankan
jika setiap akan tidur, Badri selalu mengingat-ingat apa yang disaksikannya
dari aktivitas Rabiatun siangnya. Jika ia tak bertemu Rabiatun, maka biasanya
Badri mengulang bayangan sehari sebelumnya, atau hari-hari lain. Ia akan
menjemput ulang kisah Rabiatun.
Ketika tumbuh remaja, Rabiatun tampak semakin ranum. Tubuhnya padat berisi,
dada dan pinggulnya menonjol ke sana ke mari. Terasa indah untuk dinikmati.
Badri tak peduli kata orang. Dalam pikirannya, suatu saat kelak, ia akan
mempersunting Rabiatun sebagai isteri.

