Cermin Sosial, Ruang Kontemplasi, dan
Dokumentasi Kultural
Oleh: Dirwan Ahmad Darwis,
Ph.D.

Saya ingin mengulas kumpulan
cerpen yang ditulis berbahasa Minang, Mangaji Indak Khatam, karya
Firdaus Abie. Tujuannya tidak sekadar merangkum isi buku, tetapi berusaha
menyingkap lapisan-lapisan makna yang terkandung di dalamnya, baik dari sisi
estetik, sosial, maupun budaya.
Setelah membaca seluruh cerpen,
saya berkesimpulan bahwa karya ini memiliki kekuatan yang tidak selalu tampak
di permukaan. Materi awal dibuka dengan cerita-cerita ini terasa ringan, akrab,
dan dekat dengan pengalaman sehari-hari, khususnya dalam kehidupan orang
Minangkabau.
Di balik kesederhanaan itulah
keistimewaannya: penulis berhasil mengolah peristiwa-peristiwa biasa menjadi
refleksi sosial yang tajam, tanpa kehilangan daya pikat naratifnya karena
ceritanya lebih dekat dengan kehidupan
orang Minangkabau asli.
Tiga Kelompok Orang Minang
Dari beberapa kali penelitian,
secara kebudayaan saya membagi orang Minangkabau itu menjadi tiga kelompok,
yaitu: Minang asli, Minang hanyuik dan Minang karam.
Dalam perspektif sosiologi
sastra, Lucien Goldmann (1975) memandang karya sastra sebagai ekspresi pandangan
dunia (world view) suatu kelompok sosial. Sastra tidak lahir dari
ruang hampa; ia merupakan cerminan struktur sosial, nilai, dan kesadaran
kolektif masyarakat tempat ia dilahirkan.
Pandangan ini sangat relevan
untuk membaca Mangaji Indak Khatam. Melalui langgam bahasa, setting,
serta tindakan para tokohnya, Firdaus Abie menghadirkan dunia Minangkabau yang
sangat hidup, lokal, dan autentik. Cerpen-cerpen ini tidak hanya merekam
realitas sosial, tetapi juga menampilkan kegelisahan kolektif masyarakat yang
sedang berhadapan dengan perubahan nilai.
Sejalan dengan itu, Alan Swingewood
dan Diana Laurenson (1972) menegaskan bahwa sastra merupakan salah satu medium
paling efektif untuk memahami realitas sosial. Sastra bukan hanya menggambarkan
kehidupan, tetapi juga mengkritik ketimpangan, perubahan nilai, dan
problem-problem masyarakat.
Judul sebagai Metafora Besar
Judul Mangaji Indak Khatam
sangat simbolik. Dalam tradisi Minangkabau, “mangaji” tidak sekadar berarti
belajar membaca Al-Qur'an. Ia juga melambangkan proses pencarian ilmu,
pembentukan karakter, dan perjalanan spiritual. Frasa “indak khatam”
mengisyaratkan sesuatu yang belum selesai, suatu proses yang terputus,
tertunda, atau bahkan gagal mencapai kesempurnaan.
Pertanyaan penting yang patut
diajukan kepada penulis adalah: apakah judul ini merepresentasikan kondisi individu?
Ataukah ia merupakan metafora bagi masyarakat yang belum tuntas memahami nilai,
tradisi, dan kehidupan modern yang sedang dihadapinya?
Dari 19 cerita yang disajikan,
saya melihat setidaknya ada empat gugus tematik utama.
Pertama, Kritik Sosial. Cerpen-cerpen
dalam kelompok ini menyoroti berbagai persoalan masyarakat dengan sudut pandang
yang tajam, namun tetap humanis. Maidu Dapue Amak, mengangkat
penyimpangan makna tradisi balimau menjelang Ramadan. Pitih Panjapuik, menyindir
praktik uang jemputan yang berlebihan hingga mendorong tindakan tercela. Lapau
Ayah, menampilkan kritik terhadap ketidakadilan struktural dan
perampasan ruang ekonomi rakyat kecil. Mangaji Indak Khatam, menggambarkan
dampak egoisme seorang tokoh (minim kaderisasi) terhadap kehidupan
sosial-keagamaan masyarakat.
Kekuatan penulis terletak pada
caranya menyampaikan kritik: halus, cair, tidak menggurui, namun justru karena
itu terasa lebih mengena.
Kedua, Romantisme dan Nostalgia. Ada sejumlah cerita yang merekam
kenangan, kerinduan, dan jejak emosional masa lalu. Pulang, menghadirkan nostalgia mendalam tentang rumah,
keluarga, dan figur ibu. Pesan budaya yang sangat kuat muncul dalam ungkapan: demi
pendidikan, apa saja boleh dijual, kecuali harga diri dan agama. Padusi tu Saroman jo Astuti, mempertemukan kenangan, romantisme, dan refleksi
lintas budaya jawa yang santun dan tanpa pamrih, dengan budaya Minangkabau yang
materialistis dan kalkulatif.
Nostalgia dalam karya ini tidak
hanya bersifat personal, tetapi juga universal.
Ketiga, Kesetiaan, Harga Diri, dan Martabat. Tema ini sangat kuat,
terutama dalam cerpen Abak, seorang pengusaha bengkel yang bangkrut. Cerita ini menampilkan sosok ayah yang tetap teguh
menjaga martabatnya di tengah kemerosotan ekonomi dan perubahan sikap keluarga
besar. Ia mengajarkan bahwa harga diri bukanlah kesombongan, melainkan
kemampuan menjaga kehormatan dalam keadaan sulit. Di sini, penulis berhasil
menghadirkan tokoh yang matang, bijaksana, dan sangat manusiawi.
Keempat, Kekuatan Jati Diri
Minangkabau. Hampir seluruh cerpen dalam buku ini memperlihatkan kuatnya
nilai-nilai Minangkabau yang berlandaskan falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi
Kitabullah (ABS-SBK). Jelas tergambar bahwa nilai ini tampak bukan sebagai slogan, tetapi sebagai etos hidup
yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi para tokohnya.
Dalam cerpen Saluang,
misalnya, pesan moralnya sangat jelas: keburukan tidak seharusnya dibalas
dengan keburukan. Adat dan agama berfungsi sebagai pengawal perilaku
individu. “Ayah malarang Piliang
mambaleh parangai Ciwaik jo dandam, apo lai basakutu jo setan. Kecek ayah,
jikok parangai buruak tu dibaleh, mako jadinyo labiah buruak pulo. Jikok
paralu, parangai buruak urang tu baleh jo caro nan elok”. Sedangkan unsur
budaya, seperti: Bapantang padusi kalua rumah surang2 sasudah sumbayang Isya.
Termasuk kekhawatiran Piliang jikok diliek urang inyo sadang baduo-duo jo
padusi tu. Ini sebagai bukti bahwa di Minangkabau amalan ABS-SBK yang
berintikan adat dan agama mampu menjaga prilaku individu dalam masyarakat yang
muncul melalui rasa takut dan malu.
Dalam cerita Abak, mulai dari ritme kehidupan Abak
sewaktu punya bengkel sesuai konsep ABS-SBK, yang meninggalkan sholat (ritual
agama/syarak atau hablum minallah).
Begitu juga sikap Abak terhadap para pekerja, terhadap saudara-saudara dan
lainnya (pelaksanaan adat budaya/hablum
minannas).
Pada Cincin Kelopak
Mawar, tampak bagaimana adat dan agama menjadi pagar etika dalam
pergaulan sosial.
Amalan adat budaya berfungsi
sebagai pengawal prilaku anggota bermasyarakat. Ini tercermin melalui ketakutan
Badri kepada Rabiatun: Badri sangaik takuik kok Rabiatun mangecek-an ka
urang lain. Kok itu tajadi, iyo lah ka pakau nasibnyo mah. Indak sidang nagari
jo sanksi barek se nan ditakuik-annyo, tapi raso malu ko indak tabayang deknyo
doh. Kama lah muko ka disuruak-an, ba-a lah kecek rang gaek jo dunsanaknyo
bisuak. Iyo lah ka sansai mah. Ubeknyo iyo pa-i abih dari kampuang sampai mati.
Tapi ba-a dek dunsanaknyo nan lain, kama lo ka pa-i. Kok lai badan surang,
mungkin bisa dibaok mah.
Bukti bahwa di zaman dulu peran
agama sangat berpengaruh dalam menjaga etika pergaulan. Sehingga untuk
menghindari ketahuan Badri harus bertemu secara sembunyi2 dengan Rabiatun: Kok
indak co itu, bisa kacau, karano di nagari tu, indak buliah urang nan indak
muhrim jalan baduo, apo la-i bapole-polean.
Salah satu kontribusi penting
buku ini adalah upaya melestarikan kosakata Minangkabau lama yang kini mulai
jarang digunakan.
Firdaus Abie
menghidupkan kembali sejumlah istilah yang kaya nuansa budaya, antara lain: taralah,
dipulun, sero, indak tabado, santuang, dilantuangnyo, tandeh, cah duduak cah
tagak, sabana tumbuang paja tu, tacilabie, tabudua, sagadang tungau, basionjak
onjai, iduik maranggeh, indak takao, sarok, sangkek sari, saisuak, segeh,
dilanyaunyo, pelor, basalang tenggang, samati-mati angin, bantuaknyo cayah
sajo, tenok, pudua, ndak tantu ojok, seka (aie mato), bapole, kaniak, satariak,
pose (istirahat), ditoyong, tacangang, mantagi, sasak takuyuah (kajamban), sia
(rantang), kicok (dikicok stek lu), ciknan, tacelak, ponten, engak, dan banyak
lagi.
Ini bukan sekadar pilihan
bahasa, tetapi juga tindakan kebudayaan. Bahasa adalah rumah kebudayaan. Dalam
konteks ini, karya sastra berbahasa Minangkabau memiliki peran strategis dalam
menjaga kesinambungan bahasa ibu. Ketika bahasa melemah, jati diri budaya pun
ikut terancam.
Sebagai pembaca, saya juga
menemukan satu catatan kecil dalam cerpen Abak. Pada bagian
awal disebutkan bahwa Abak telah wafat lima tahun sebelumnya, namun pada
kalimat penutup nama Abak masih disebut sebagai pihak yang belum menerima kabar
dari Udin. Hal ini tampaknya merupakan kekeliruan editorial kecil. Meski
demikian, hal tersebut tidak mengurangi kekuatan emosional cerita secara
keseluruhan.
Sikap Abak dan Amak yang tegas
dan sangat bijaksana, patut diteladani dalam mendidik anak. Namun setelah
dewasa, Udin terkesan jadi anak durhaka, karena sejak merantau tidak pernah
memberi tahu orang tuanya di kampung. Apakah ada pesan tersirat tertentu yang
disampaikan oleh penulis, mengapa di akhir cerita terasa ada yang paradoks?
Bukan Sekadar Cerita Pendek
Karangan dalam
bahasa Minangkabau perlu diperbanyak untuk malestarikan bahasa ibu yang kini
mulai ditinggalkan. Apalagi sekarang
seperti saya sebutkan pada kulit bahagian belakang buku kumpulan cerpen ini,
bahwa pada tahun 2016 saya hadir dalam Kongres Bahasa Daerah Nusantara di
Bandung. Dalam acara tersebut diumumkan bahwa bahasa Minangkabau adalah salah
satu bahasa daerah Nusantara yang kini tarancam punah.
Sayangnya kita
adalah bangsa yang memang sengaja dijauhkan dari sejarah, dari budaya dan
bahasa. Sehingga kita tidak tahu manfaat dan fungsinya. Ada tangan-tangan
tersembunyi yang memang secara sistematis melakukan hal ini.
Pada akhirnya, Mangaji Indak
Khatam bukan sekadar kumpulan cerita pendek. Ia adalah cermin sosial,
ruang kontemplasi, dan sekaligus dokumentasi kultural.
Karya ini membuktikan bahwa
sastra yang baik adalah sastra yang mampu menyentuh perasaan sekaligus
menggugah kesadaran. Ia tidak berteriak dalam menyampaikan kritik, tetapi
berbisik, dan justru karena itu, suaranya terasa lebih lama bergema.
Dalam keseimbangan antara
keindahan bercerita, kedalaman emosi, ketajaman kritik sosial, dan kekuatan
nilai budaya, bagi saya buku ini menemukan daya hidupnya.*
**) Naskah ini dimuat di koran Posmetro dan posmetropadang.id, 14 Mei 2026

No comments:
Post a Comment