12 February 2020

"Jika Sudah Menjadi Muslim, jangan Sia-sia..”

Karyawan Penerima Umroh Paragon Technology and Innovation:

Oleh: Rita Arin – Depok


Tak pernah terlintas sedikit pun, mualaf yang baru belajar tentang Islam, tiba-tiba dapat panggilan menunaikan umroh ke Tanah Suci. Aku tak pernah membayangkan, umrohku dibiayai kantor. Allah memang memiliki rahasia yang tak seorangpun bisa memprediksinya.
Namaku Rita Arin. Aku bisa dipanggil Arin. Aku  bungsu dari empat bersaudara. Tinggal di  Grobogan, Jawa tengah. Ayahku  pegawai PT KAI, di sebuah stasiun kereta.  Ibuku  seorang ibu rumah tangga. Beliau membantu ekonomi keluarga dengan  berdagang keperluan yang dibutuhkan tetangga.
Aku dari kecil beragama Katolik. Aku tak mengerti mengapa hanya keluargaku yang beragama Katolik, sementara keluarga besar ibu semuanya muslim. Aku tak mengenal lebih dalam keluarga ayah. Kata ayah, keluarga beliau sudah lama meninggal dunia. Hanya ada keponakan, itu pun kami jarang bertemu.
Perbedaan agama di keluargaku dengan keluarga ibu, ketika aku kecil, tak membuatku bingung. Aku senang-senang saja. Saat perayaan Natal, aku merayakannya. Saat Idul Fitri, aku juga merayakan. Dimasa kanak-kanak itu, aku merasa senang saja karena bisa merayakan dua hari raya.
Saat aku kelas III SD, ayahku meninggal dunia. Begitu cepat ayah meninggalkan kami. Sejak itu, aku dibesarkan ibu.  Di rumah, aku  seperti anak semata wayang. Kakakku tertua sudah menikah dan merantau ke Jakarta. Kakakku kedua, merantau ke Jakarta dan akan menikah. Kakakku ketiga, satu-satunya laki-laki, sekolah di SLB. Ia menetap di asrama sejak kecil karena terlahir down sindrome.
Ibu selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku. Perubahan terjadi disaat aku kelas III SMA. Ibu menderita strok ringan. Sejak itu, terasa ada perubahan dalam keseharianku. Ibu tak bisa lagi berjualan. Perekonomian kami hanya mengandalkan uang pensiun ayah.
Aku terus berjuang untuk menggapai prestasi, demi agar bisa menyenangkan ibu. Aku selalu dapat rangking III. Aku ingin melanjutkan kuliah, tapi keinginan itu pupus karena kondisi ibu terus memburuk. Jika aku kuliah, maka uang pensiunan ayah akan habis untuk biaya kuliahku. Aku juga tak mau terlalu berharap menunggu kiriman kakak karena mereka juga punya kewajiban terhadap keluarganya.
Berbekal nilai UN-ku yang memuaskan, akhirnya aku memutuskan pindah ke Jakarta bersama ibu dan abangku yang di SLB. Kami berharap bisa dekat dengan kakakku, sehingga kami bisa merawat ibu bersama. Sesampai di Jakarta, aku bingung terhadap masa depanku. Apa yang harus aku lakukan di Jakarta?
Kakakku menyarankan agar aku bekerja dulu. Jika kuliah, akan memberatkan. Aku akhirnya diterima di PT Sanyo di kawasan Cimanggis. Aku bisa masuk ke sana dibantu saudara kakak iparku. Awalnya aku merasa lelah bekerja di sana, sebab bekerja di pabrik bekerja secara shift. Kadang masuk malam, pulangnya pagi.
Aku tepis rasa lelah itu dengan harapan setiap bulan. Aku menerima gaji yang tergolong besar. Aku akhirnya menikmati pekerjaan dan gaji yang lumayan. Tanpa aku sadari, ternyata keseharianku sangat boros. Aku tak pernah berpikir untuk menabung. Gaya hidupku mengikuti trend. Aku lupa untuk melanjutkan cita-cita untuk kuliah. Hari-hariku, selain pergi kerja, aku ada di salon, mall, restauran. Begitu setiap hari. aku lupa memikirkan masa depan.
Kakakku mengingatkan agar aku menabung. Jika tak bisa menabung uang, bisa dibeli sepeda motor. Aku turuti nasehat kakakku tersebut. Ketika cicilan motorku memasuki angsuran ke 12, ternyata kontrakku tidak diperpanjang, berawal dari tidak hadirnya aku ke pabrik selama seminggu karena terserang tifus.
Kerja di perusahaan Jepang ini, sistemnya menggunakan point. Jika tidak masuk, sekali pun alasannya sakit, selalu diberi point. Semakin banyak point yang didapat, semakin buruk penilaian kinerja.
Sejak kontrak tidak diperpanjang, aku mulai menghadapi kesulitan. Kucari kerja ke sana kemari, tapi aku selalu ditolak. Aku bingung bagaimana cara mencicil sepeda motor. Aku takut menyampaikan kepada kakakku. Aku takut mereka marah karena aku tak bisa mengelola uang secara benar ketika masih kerja dulu. Belum sempat aku menemukan jawaban untuk membayar cicilan motor, ternyata motorku dicuri orang di parkiran. Aku panik, bingung.
Musibah berikutnya kembali menghinggapiku. Aku juga harus berpisah dengan lelaki yang sangat aku cinta. Aku sebenarnya berharap, ia menjadi jodohku, tapi ia pergi begitu saja. Aku yakin, ia meninggalkanku karena perbedaan agama yang kami anut.
Entah kenapa, sejak kejadian itu, aku kehilangan arah. Aku panik dan kalut. Tapi aku tetap bisa menjaga diri. Aku tak mau terjurumus ke jurang kehidupan yang lebih buruk. Bagiku, kemiskinan bukan alasan untuk menghalalkan secara cara.
Suatu malam, aku bermimpim. Aneh sekali. Sangat aneh bagiku.  Aku bermimpi menangis di sajadah dengan menggunakan mukena. Aku bingung, ada apa dengan mimpiku?
Kudatangi sahabatku di Bogor. Aku mencoba menenangkan diri di rumahnya. Aku kemudian menceritakan mimpi yang kualami. Aku mantapkan hatiku untuk minta bantuannya memanggilkan seorang ustad. Malam itu, aku mengucapkan dua kalimah, di musala, disaksikan sejumlah orang.
Ketika aku pulang, kuceritakan semuanya kepada  kakak keduaku. Ia merespon sangat baik, apalagi kedua kakakku juga sudah menjadi mualaf.  Kakak pertamaku masih Nasrani. Ibu juga mendukung. Beliau tidak menentang keputusanku.
Sejak saat itu, aku memulai lembaran hidup baru. Aku mulai pakai hijab. Urusan kerja, aku akan terus berusaha sekuat tenaga. Urusan jodoh, aku sudah punya putusan; tak akan pacaran, kecuali lelaki tersebut serius untuk menikahiku. Kendati baru kenal dan ia mengajak nikah, insya allah, aku siap menerimanya.
Allah mengabulkan doaku. Aku bertemu dan berkenalan dengan seorang lelaki. Ia begitu gigih mendekatiku. Aku ragu karena baru mengenalnya, tapi aku tak kehilangan akal. Kuberanikan bertanya kepadanya, apakah mau segera menikahiku?
Aku terkejut. Aku mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkanku. Ia mengatakan, segera melamarku. Aku justru bingung, apakah aku harus menikah secepat ini? Aku belum mengenal dia. Apakah ia orang baik-baik? Aku hanya bisa berdoa dalam setiap salat agar diberikan jalan dan keputusan terbaik.
Beberapa bulan kemudian, aku resmi dilamar. Kami pun menikah secara sederhana. Aku memutuskan untuk tetap berhijab. Aku kemudian belajar mengaji. Tak lama kemudian, aku hamil dan melahirkan.
Allah punya rencana besar untuk keluarga kecilku. Setelah anak pertama lahir, aku harus kehilangan ibunda tercinta. Ibuku meninggal dunia disaat kami bahagia menerima kehadiran anak pertamaku. Aku kehilangan orang yang selama ini menerima keluh-kesahku. Orang kehilangan orang yang sangat mencintaiku dan sangat aku cintai.
Tak lama kemudian, aku minta izin pada suami. Aku akan bekerja. Berapa pun gaji yang kudapatkan, setidaknya dapat membantu menambah pendapatan keluarga. Setidaknya bayi mungil kami dapat mengkonsumsi susu karena ASI-ku tak mencukupi.
Aku dapat kabar ada restaurant di sebuah mall di Pejaten buka lowongan. Aku mendaftar ke sana.  Aku tak tahu apakah bisa diterima atau tidak. Selain tidak memiliki pengalaman, aku juga membawa bayi saat wawancara. Alhamdulillah, aku diterima dengan gaji Rp 800 ribu sebulan. Jauh di bawah gajiku saat di PT Sanyo. Kujalani pekerjaan tersebut dengan ikhlas.
Ketika restaurant buka cabang di Depok, aku mengajukan untuk pindah. Kataku, lokasi di Depok tak jauh dari rumahku. Permintaanku dipenuhi. Ketika itu pula supervisor menunjukku menjadi kasir.
"Pak,  Arin belum pernah jadi kasir. Kerja di restaurant pun baru. Arin takut tak bisa,” kataku.
“Tak ada yang tak bisa, jika kamu mau belajar. Saya akan bantu,” katanya.
Ketika restaurant itu dibuka, aku bukan lagi menjadi seorang waiters, atau yang mengantarkan makanan. Aku sudah duduk manis di kursi seorang kasir. Kerjanya tak terlalu capek. Gaji pun naik dari sebelumnya.
Tiga tahun berlalu. Aku menikmati pekerjaan dengan semangat yang mengebu-gebu, namun sesuatu menggodaku. Aku bertemu teman kerjaku di Sanyo dulu. Ia tampak lebih cantik dan anggun. Ia terlihat lebih cantik dengan hijab dan seragamnya. Aku penasaran. Aku mencari tahu lebih jauh tentangnya. Ternyata ia bekerja di Wardah. Ketika itu, ia seorang Beauty Advisor (BA) atau SPG-nya Wardah.
Bermodal alamat kantor Wardah, aku diantar suami untuk melamar. Entah memang sudah rezeki yang ditakdirkan Allah, prosesnya sangat mudah. Beberapa hari kemudian aku diterima. Saat itu pula aku mengundurkan diri dari restaurant.
Jumat, 2 November 2012, menjadi hari pertamaku bekerja di Wardah. Aku ditempatkan disebuah apotek di Depok. Seminggu aku bekerja, aku ditimpa musibah. Sekitar pukul 01.00 WIB, rumah kontrakan yang aku tempati, terbakar. Api menjalar dari rumah sebelah yang sudah dijamah si Jago Merah.  Aku langsung membangunkan suami, anakku dan tetangga. Alhamdulillah, kami selamat tapi semua harta benda tak bisa diselamatkan, kecuali surat-surat berharga. Baju pun hanya yang melekat di badan.
Aku bagaikan disampar petir. Semua ludes. Kami akhirnya memutuskan tinggal sementara di rumah mertuaku. Aku kabarkan semua kepada team leader-ku, sembari minta izin untuk beberapa hari. Aku diminta mengirimkan foto keadaan rumahku yang terbakar. Aku kirimkan. Beberapa hari kemudian aku dapat kabar, belum bisa menerima bantuan karena aku baru sepekan bekerja. Aku menerimanya dengan lapang dada, namun aku menyampaikan agar dapat seragam baru karena seragamku sudah terbakar. Aku, anakku, dan suamiku menggunakan baju bekas yang diberikan saudara dan tetangga. Air mataku mangalir setiap ada orang datang membawakan baju, makanan dan uang. Semua aku terima karena kondisiku benar-benar sangat sulit.
Aku dan suami kemudian bangkit. Kami memulai dari awal lagi. Berlahan kehidupan kami mulai membaik. Aku membeli barang sedikit demi sedikit. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa membeli kendaraan lagi. Ketika keadaan sedikit membaik, tiba-tiba aku ditawari menjadi Beauty Promotor (BP).
"Beauty Promotor itu apa, pak? Kerjaannya apa?” tanyaku.
“Tugasmu, mempromosikan produk Wardah untuk wilayah yang lebih luas. Bisa ke instansi dan kantor-kantor yang ada,” kata Pak Novi, pimpinanku.
Aku terhenyak. Selama ini aku selalu bergantung pada suami untuk pergi dan pulang kerja. Jika aku ditempatkan di BP dan pekerjaannya seperti disampaikan Pak Novi, tentu aku tak mungkin bergantung terus kepada suamiku.
Tawaran itu aku rembukkan dengan suami. Keputusannya, aku ke kantor pusat dan bertemu supervisorku, Mbak Eva. Aku kemudian harus melalui tahap interview dengan Buk Marry. Aku mendengar kabar dari kawan-kawan lain, jika tak bisa menjawab pertanyaan Buk Marry, bisa dipastikan yang bersangkutan akan gagal.
Lama aku diinterview Buk Marry, namun kepadaku tak pernah diajukan pertanyaan seputar produk. Beliau lebih banyak bertanya sekitar keseharianku. Interview selesai. Aku dinyatakan lulus. Aku heran, ternyata bertemu dan interview dengan Buk Marry tidak seperti ketakutan yang berkembang selama ini.
Aku lulus sebagai BP. Setiap hari aku harus bolak-balik Depok dan Swadarma Raya. Aku tak mungkin mengandalkan suami saja. Akhirnya aku memutuskan membeli sepeda motor lagi. Menjadi BP ternyata benar-benar menyenangkan. Banyak pengalaman yang kudapati. Aku bertemu banyak orang. Berbagai kalangan. Bertemu banyak orang-orang penting. Aku benar-benar menikmati bekerja di Wardah.
Ketika aku melahirkan anak kedua,  aku mendapatkan tunjangan melahirkan. Rezeki ku terus bertambah. Aku dan suami tak henti-hentinya berdoa. Allah telah mengabulkan doa-doa kami, malahan melebih dari apa yang kami minta.
Saat aku dalam perjalanan untuk bazar di Kementerian Kelautan dan Perikanan, aku mendapatkan kabar yang mengejutkan. Tahun ini, 2019, aku mendapat jatah umroh gratis dari perusahaan, PT Paragon Technology and Innovation.
“Apakah aku mimpi?” tanyaku dalam isak tangis yang tak bisa kutahan.
Aku sempat tak percaya. Tapi orang yang memberikan kabar via telpon kantor pusat menyampaikan, bahwa diriku tidak sedang bermimpi. Aku kemudian diyakinkan. Katanya, dalam waktu dekat semua berkas dan panduan keberangkatanku akan dikirimkan. Aku tak menduga, bisa secepat ini ke Tanah Suci. Beribadah di Masjid Nawabi dan Masjidil Haram. Bersujud di depan Ka’bah, tempat yang selalu dirindukan umat Islam.
Aku memang pernah mendengar, setiap karyawan yang bekerja minimal tujuh tahun, diberangkatkan umroh bagi yang muslim. Bagi non muslim, diberangkatkan wisata religi, sesuai agama masing-masing. Program ini sudah berjalan di perusahaan sejak 2017. Rata-rata setiap tahun memberangkatkan sedikitnya 500 orang karyawan. Aku tak pernah menghitung dan membayangkannya sama sekali.
Aku sampaikan kabar bahagia ini kepada suamiku. Ia ikut meneteskan air mata. Katanya, Allah sangat sayang padaku, sehingga aku diberi rezeki berlimpah.
“Tapi aku belum mengerti Islam secara menyeluruh. Membaca Al-Qur’an pun aku masih terbata-bata. Apa aku pantas ke Tanah Suci?” tanyaku.
Suamimu mendorong dan memberikan semangat. Ia benar-benar mengerti apa yang kurasakan. Ia terus membimbingku. Aku pun memantapkan hati dan niat. Berlahan aku mulai mempersiapkan segala kebutuhan satu persatu. Aku berdoa sepanjang waktu, semoga Allah memberikan kemudahan dan kelancaran semua persiapan hingga ibadahku.
Sebelum berangkat, aku  menggelar pengajian di rumah.  Aku mengundang ustad agar aku diberi pemahaman selama ibadah di Tanah Suci.  Aku dengar dari banyak orang, apa yang biasa kita lakukan selama ini akan diperlihatkan di Tanah Suci.  Jika kita  berbuat salah maka akan diperlihatkan di sana.  Sempat timbul rasa takut, tapi aku mantapkan hatiku bahwa  aku berniat untuk ibadah. Aku memohon ampun kepada Allah.
Saat aku berangkat menuju Jakarta, tempat semua Jamaah Umroh Paragon Technology and Innovation, berkumpul, ada rasa berbeda mengalir dalam tubuhku. Sehari sebelum berangkat, aku melaksanakan manasik. Saat itu  mulai berkenalan dengan teman-teman satu kloterku dari berbagai. Alhamdulilah aku dapat teman baru.
Rabu,  15 Januari 2020, aku berangkat dengan diantar kedua anakku,  suamiku, bapak dan ibu mertuaku. Mereka melepas kepergianku. Aku tak kuasa membendung air mata yang menetes.
Kupeluk erat anakku; Jingga Zilvia Ardhan (9 thn) dan Axel Juro Reynand Ardhan (4 thn). Kupeluk erat keduanya.  Aku pasrah dan ikhlas meninggalkan kedua anakku. Aku benar-benar ingin fokus ibadah.
Ada rasa itu semakin menggelegar ketika rombongan kami sudah bergerak menuju Madinah.  Aku tak kuasa menahan tangis. Aku menangis  haru karena  bisa sampai  ke titik ini. Aku  memantapkan hati dan pasrah terhadap semua yang akan terjadi. Aku pasrah akan semuanya agar ibadahku  lancar.
Disaat pesawat mendarat di Bandara Internasional Amir Muhammad bin Abdul Aziz (AMMA) Madinah, aku semakin tak kuasa menahan tetesan air mata. Aku benar-benar telah menginjakkan kaki di Tanah Suci. Tiga hari rombongan kami menetap di Madinah. Aku sekamar dengan Mbak Esa, Mbak Sari dan Dita dari DC Bogor. Tiga hari kami ke masjid dan balik ke hotel bersama. kami salat, mengaji dan menunaikan ibadah-ibadah sunat. Kami memaksimalkan waktu yang ada untuk ibadah sebaik-baiknya. Aku juga bersyukur, flu yang sempat menyerang diriku sebelum berangkat, ternyata sesampai di Madinah sembuh.
Tiga hari di Madinah, perjalanan diteruskan ke Makkah. Ibadah umroh dimulai. Madinah – Makkah ditempuh selama enam jam. Ketika meninggalkan Madinah, kami semua sudah berpakaian untuk umroh. Jemaah lelaki sudah berpakaian ihram.
Setiba di Makkah, sekitar pukul sembilan malam. Kami menjamak salat Magrib diwaktu Isya. Setelah itu, langsung melaksanakan rangkaian ibadah umroh. Diawali dengan Tawaf, mengelilingi Ka’bah.
Saat pertama melihat Ka’bah, tiba-tiba saja air mataku berderai. Aku menangis. Aku tak pernah membayangkan bisa melihat Ka’bah secara langsung. Aku menangis. Apakah aku sedang mimpi? Tiba-tiba saja aku seakan berbisik kepada  Allah; Ya, Allah, jika aku sedang mimpi, jangan bangunkan aku, Ya Allah.
Kuusap mata berkali-kali. Kucubit lengan. Sakit. Aku tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar nyata. Aku memohon ampun atas dosa-dosaku, bermohon agar diampunkan dosa-dosa keluargaku dan memohon agar aku bisa kembali ke sini bersama suami dan anak-anakku.
Aku menjalani dan menikmati ibadah di Masjidil Haram. Aku benar-benar menikmatinya. Selama di Masjidil Haram aku mencari tempat terbaik,  aku beribadah  di depan Ka’bah. Aku juga memohon kepada Allah agar dosa-dosa orang tuaku diampuni, sekali pun keduanya beda agama denganku. Bagaimana pun juga, beliau adalah orang tuaku.
Masih segar dalam ingatanku pesan ibu saat kuberitahu bahwa aku sudah mualaf, “Jika memang sudah menjadi muslim, jangan sampai sia-sia. Jadilah muslim yang senantiasa menjalankan syariat Islam,” kata ibu kepadaku.
Pesan ibu bukan tanpa alasan. Ketika aku Nasrani yang hanya sekali seminggu ke gereja, aku sering lalai. Pesan ibu menjadi wasiat bagiku. Aku akan jalankan semua pesan tersebut. Aku harus melaksanakan salat lima waktu tepat waktu dan menjalankan syariat yang diperintahkan.
Ketika ustad pembimbing kami, Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim mengabarkan, Rabu, 22 Januaria 2020, pukul dua dinihari semua sudah di lobi hotel untuk Tawaf Wada’, aku tersentak. Berarti sudah empat hari kami di Makkah. Empat hari pula aku beribadah di Masjidil Haram. Sebentar saja rasanya.
Air mata perpisahan ini tak kuasa menetes saat itu melaksanakan Tawaf Wada. Aku berharap akan bisa kembali lagi bersama keluarga. Aku yakin, Allah pasti sayang padaku dan akan mengabulkan doaku.  
Saat berpisah dengan teman-teman satu kloter di Bandara Soekarno-Hatta, kami semua berharap bisa bersama lagi. Impian kami, suatu saat kami bisa bersama kembali. Suatu saat, kami dan keluarga kami diberi kesempatan beribadah di Tanah Suci.
Entah kenapa, hingga beberapa hari setelah sampai di rumah, aku  masih bermimpi Tawaf di depan Ka’bah.
Terima kasih, Buk Nurhayati Subakat dan Pak Subakat. Semoga ibu dan bapak senantiasa diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga Paragon Technology and Innovation semakin berkembang. *

Raudah, Aku Rindu

Oleh: Firdaus Abie

Raudah. Aku rindu.
menunggu, tak membuatku ragu.
antrian panjang ketika dingin menusuk kalbu
Gigil terasa ngilu.


Di Taman surga, 

antara mimbar dan rumah Baginda Rasulullah 

bersimpuh menghaturkan pinta.
Menyerah, menyembah Sang Pencipta.
Kepalaku lebih rendah dari segalanya.
Aku tiada daya.
Datang bergelimang dosa.
AmpunanMU yang kupinta, Allah 'Azza wa Jalla.

Raudah. Aku rindu.
Rindukan juga agar  aku kembali padanmu.

Padang,  Rabu 12 Februari 2020

03 February 2020

Ziarah Menghadirkan Gairah Keluarga Baru

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (7/Tamat)






Sebuah pengumuman; besok pagi semua bersiap untuk Umroh Wada’. Jamaah pria persiapkan pakaian ihram.  Jamaah perempuan, berpakaian sesuai tuntutan umroh.

“Kita Miqat di Ji’ranah,” kata Ustad Muhammad Azzam, ustad yang membimbing ibadah Jamaah Umroh Paragon.

Miqat berasal dari Bahasa Arab. Miqat merupakan  batas  dimulainya ibadah haji dan umroh (batas-batas yang telah ditetapkan). Apabila melintasi miqat, seseorang yang ingin mengerjakan haji perlu mengenakan kain ihram dan memasang niat.  Masjid Ji'ranah berada di Wadi Saraf, sekitar  24 KM arah  timur laut Masjidil Haram. 

Mendengar informasi dari Ustad Muhammad Azzam, ada perasaan bercampur aduk. Senang karena sebelum Miqat akan ziarah ke tempat-tempat bersejarah dalam perjalanan Islam. Sedih karena sebentar lagi akan meninggalkan Tanah Suci.

Syekh Muhammad Ilyas Abdul Ghani dalam bukunya,  Sejarah Makkah menuliskan, kata Ji’ranah diambil dari nama seorang wanita yang hidup di daerah tersebut.  Diriwayatkan oleh Al Fakihi dari Ibnu Abbas Ra bahwa surat Al-Nahl ayat 92 yang berbunyi Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali turun pada seorang wanita Quraisy dari Bani Tim yang dijuluki dengan julukan Ji’ranah. Wanita itu disinyalir sebagai seorang wanita yang terkenal dungu.

Rasulullah SAW pernah meninggalkan para tawanan dan harga rampasan perang yang diambilnya dari Hawazin.  Rasulullah tidak membagikan harga rampasan perang tersebut, karena sambil menunggu orang-orang Hawazin yang bertobat datang menyusulnya. Rasulullah lalu bertanya kepada para utusan itu.

“Silakan pilih, tawanan atau harta?”

Mereka lalu memilih tawanan, dan Rasulullah pun meminta kepada kaum Muslimin semua untuk membebaskan para tawanan Hawazin dengan lembut dan secara baik-baik. Kemudian, pada malam itu juga, dari Ji’ranah, Rasulullah lalu berihram dan mengerjakan umrah, dan selesai pada malam itu juga. Lalu, Rasulullah menyuruh para tentaranya untuk kembali ke Madinah.

Selain Miqat di Ji’ranah, jamaah Umroh Gratis Paragon berkunjung ke Padang Arafah, kemudian ke Jabal Rahmah. Tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa setelah diturunkan ke bumi. Nabi Adam diturunkan di Sri Lanka tepatnya di puncak bukit Sri Pada. Siti Hawa  diturunkan di daerah di Arabia.

Jamaah juga berkesempatan ke kawasan Jabal Tsur, tempat Nabi Muhammad dan sahabat pernah bermalam. Berkesempatan pula ke Goa Hira’ dan bukit tempat Nabi Ibrahim menyembelih Ismail, melintasi Musdalifah, Mina.  Melintasi dari kejauhan lokasi pasukan gajah yang dipimpin Raja Vassal Ethiopia di Yaman, Abrahah yang hendak menyerang Ka’bah, namun terlebih dahulu dihancurkan Burung Ababil.

Setiap ziarah ke lokasi-lokasi bersejarah itu, tanpa disadari, ada butiran panas mengalir di pipi para jamaah. Perasaan haru bercampur semakin tebalnya kecintaan kepada Baginda Rasulullah, semakin kuatnya rasa keimanan kepada Allah. Ada rasa yang tak terungkapkan. Ada gemuruh yang terus bergejolak dalam setiap diri. Semua tafakur dalam doa-doa yang sangat panjang. Melanjutkan kalimat Talbiah, juga bersalawat kepada Nabi Muhammad, berdoa untuk keluarga Baginda Rasul dan Syuhada Islam.

Sebelum azan zuhur, kami sudah berada kembali di depan Ka’bah. Tawaf pun dilakukan. Tujuh putaran dibantu Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim. Dilanjutkan doa bersama dan sendiri-sendiri. Salat sunat. Seterusnya bergerak menuju Safa dan Marwa. Pada putaran ke lima, terdengar kumandang azan. Kami pun bersiap untuk salat Zuhur berjamaah, kemudian melanjutkan sisa Sa’i yang tersisa dua putaran lagi.

*

Jauh sebelum salat Subuh, Rabu (22/1), tepatnya pukul 02.00 WIB, semua Jamaah Umroh Gratis Paragon sudah berkumpul di lobi Swissotel Al Maqam. Pukul 10 pagi waktu setempat harus meninggalkan Makkah.  Kami akan kembali ke Tanah Air via Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, selepas Magrib.

Tawaf Wada’ terasa lain. Ada rona berbeda yang dirasakan. Bukan karena dingin yang menusuk raga. Sembari membaca doa-doa yang dituntun Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim, pandangan kami tak bisa dilepaskan dari Ka’bah. Ada rasa yang tak terlukiskan. Ada gemuruh yang tak dapat dibendung. Sebentar lagi, kami akan meninggalkan Baitullah, meninggalkan Masjidil Haram, meninggalkan Tanah Suci. Ada deraian air mata yang tak terbendung disepanjang Tawaf Wada’.

“Ya, Allah. Jangan jadikan ini umroh terakhir bagi hamba....”

Ada tangis yang tak bisa ditahan. Selepas itu pula, semua jamaah saling mendoakan dan saling menguatkan. Ikatan batin semua rombongan pun terasa semakin kuat. Kian kuat.

Atas permintaan jamaah, Ustad Muhammad Azzam pun diminta memimpin doa agar semua jamaah diberi kesehatan, diberi kekuatan untuk bisa memperbaiki ibadah, dan menjaga silaturrahmi sesama jamaah untuk menjadi sebuah keluarga baru.

Perjalanan selama sembilan hari tersebut telah membentuk sebuah keluarga baru. Nyaris tak berapa orang yang saling mengenal satu sama lain, sebelumnya. Namun perjalanan ibadah telah menyatukan kami menjadi satu kesatuan yang sama-sama merasakan kenikmatan beribadah. *




02 February 2020

Tangis Pecah di Baitullah

Umroh Gratis Karyawan Paragon Technology and Innovation (6)







Perjalanan panjang, enam jam dari Madinah ke Makkah. Jamaah Umroh Paragon mengumandangkan talbiah, berdoa dan memperbanyak zikir. Dipandu ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim. Ada 35 jamaah dalam satu bus. Mereka terdiri dari karyawan PT Paragon Technology and Innovation, keluarga serta tiga orang wartawan. Aku salah satunya.

PT Paragon Technology and Innovation memiliki kebijakan hebat. Setiap karyawan beragam Islam yang bekerja minimal tujuh tahun, diberangkatkan umroh. Tak pandang posisi dan jabatan. Perusahaan ini memiliki 12 ribu karyawan. Paket umroh pertama, dimulai tahun 2017, lalu berturut di tahun 2018 dan 2019. Khusus di tahun 2019, 560 karyawan diberangkatkan dalam 16 Kloter. Aku dapat undangan khusus, masuk pada Kloter 14.

Pada umroh 2019, selain aku, ada empat wartawan lagi.  Buk Nur (sapaan akrab Nurhayati Subakat, pendiri sekaligus pemilik perusahaan yang salah satu produknya bermerek Wardah,  memberikan lima seat untuk wartawan melalui Aqua Dwipayana, pakar komunikasi dan motivasi yang juga memiliki program umroh gratis sejak lama melalui program The Power Of Silaturahmi. Putra Bungus Kota Padang itu, kemudian harus bekerja keras untuk menentukan pilihan. Ia memiliki ratusan  orang sahabat dan yunior di bidang jurnalistik. Mereka tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Karyawan yang tidak beragama Islam, maka diberangkatkan untuk wisata religi, disesuaikan dengan tempat ibadah masing-masing. Aturannya sama, tidak memandang jabatan. Syaratnya, minimal bekerja tujuh tahun.

Aku diberi kesempatan berkunjung ke pabrik karyawan PT Paragon Technology and Innovation  di Tanggerang. Buk Nur menyambut dengan senang hati. Beliau didampingi Ira Anzaina Putri  Human Capital Executive Paragon Technology.

Katanya, semua yang diberikan karyawan tersebut merupakan apresiasi manajemen terrhadap komitmen dan loyalitas mereka kepada perusahaan.  

"Perusahaan ini dibangun bersama oleh karyawan, maka tentu karyawan pula yang harus menikmati," kata Nurhayati Subakat.

Tiga tahun apresiasi telah diberikan. Karyawan yang sudah diberangkatkan umroh saja mencapai 1.500an orang. Keberangkatan 2019 berlangsung selama 16 kloter. Saat ini, kloter 14 sudah berada di Makkah. Dua kloter lain segera memulai perjalanan ke Madinah. Sebanyak 13 kloter sudah kembali ke Tanah Air.

Sesampai di Makkah, setelah meletakkan barang bawaan di hotel, jamaah umroh langsung menuju Masjidil Haram. Salat Magrib dijamak saat Isya. Semua sudah berpakaian umroh setelah Miqat di Bir Ali.

Semua jamaah yang mayoritas Generasi Millenial tertegun. Terpaku. Ustad yang mendampingi mengingatkan untuk membaca doa. Semua dalam sikap berdoa, dan doa pun dilakukan bersama. Tak berselang lama, isak tertahan pun terdengar lirih.

Selepas itu, Tawaf pun dilakukan. Dalam keramaian jamaah lain mengelilingi Ka'bah, jamaah Paragonians terus melantunkan doa-doa selama Tawaf. Setelah tujuh putaran, jamaah dituntun untuk menepi.

Di tempat yang sudah disediakan untuk salat sunat dan berdoa, jamaah Paragonians dituntun melaksanakan ibadah sesuai hukum agama. Setelah itu, diberi kesempatan berdoa sendiri, sebelum melanjutkan Sa'i di Syafa dan Marwa.

Seketika saja, tanpa harus dikomandoi lagi, semua menikmati "berdua" -an dengan Sang Khalik. Semua jamaah melepaskan rasa yang selama ini menggumpal di dada. Tangis pun pecah seketika.

"Saya ingat ayah yang sudah meninggal. Ingat ibu yang sedang sakit. Saya belum bisa berbuat untuk mereka," kata Dodi, karyawan bidang Pemasaran.

Syahrial yang akan melangsungkan lamaran, bulan depan, mengaku kalau dirinya banyak dosa kepada orang tua dan ibadahnya pun belumlah seberapa.

"Banyak yang harus diperbaiki dalam diri ini," katanya.

Karyawan lain pun mengaku begitu. Di balik tangis yang pecah di depan Ka'bah tersebut, ada impian untuk memperbaiki ibadah dikemudian hari.

Kalaulah Ustad Muhammad Azzam dan Ustad Hakim tidak mengajak kami melanjutkan ke Safa – Marwa untuk Sa’i, mungkin semuanya akan terus berlama-lama larut dalam isak tangis minta ampun kepada Allah.

“Kita lanjutkan untuk Sa’i dulu. Setelah itu, Tahallul. Jika selesai, boleh kembali lagi ke sini,” katanya sembari mengingatkan, Insya Allah waktu di Makkah ada tiga hari lagi. *