03 July 2015

Dahlan Iskan

 Oleh: Firdaus


Aksi Dahlan Iskan melempar kursi ----kemudian Dahlan Iskan menyebutkan, tidak melempar, tetapi meletakkan kursi di luar loket—di pintu tol Senayan, awal pekan ini, kemudian membuka dua pintu tol dan kemudian mengarahkan antrian panjang di pintu tol tersebut untuk masuk gratis, mengundang perhatian banyak kalangan.
Hampir seluruh komentar, memandang positif apa yang dilakukan orang nomor satu di Kemeneg BUMN itu. Bukan karena ia Meneg BUMN sehingga bisa dengan mudah dan semaunya melakukan tindakan itu, tetapi langkah yang diambilnya tersebut bagian dari kekecewaannya terhadap kinerja anak buahnya.
Betapa tidak kecewa. Langkah-langkah strategis yang sudah diputuskan untuk dijalankan, ternyata tidak sepenuhnya dijalankan secara baik dan benar. Tindakan itu, memang kali pertama dilakukan Dahlan Iskan, namun pesan, peringatan, mau pun teguran sudah sering dilakukan untuk mengingatkan otoritas pengelola jalan tol tersebut.

29 June 2015

Pelacur II



* Firdaus

Aroma
Lendir selangkangan
Membungkus moral

Ah, dia bicara moral?
Masih adakah
moral di negeri ini?

Bukankah moral
hanya tertinggal
di kelas anak-anak kita saja?

Di luar,
Moral sudah
tergadai lender selangkangan

Padangpanjang, 22 Maret 2011

Pelacur I

* Firdaus
Meratap aku tak
harap
 Luka dibekas
tikaman tinggalkan
dendam
Pergilah
Tebarkan senyum menggoda
Semaikan
pesona dusta

Perih dalam Rinai



* Firdaus


Sejak kepergian tuan
Setiap rinai
yang jatuh ke tanah
terasa perih
bagai belati
menancap di ulu hati
adakah tuan  rasakan?

Aku benci rinai
Rinai membawa perih
Seperih renggutan tuan
ketika rinai

Bukittinggi-Padangpanjang,  1 Maret 2011

Menjemput Rindu


* Firdaus

Kujemput rindu
di Batanglunto
rindu pada nyanyian
yang lenyap di antara
lalu lalang penambang perut bumi

Kujemput rindu
dalam nyanyian sendu
Batang Lunto tak seperti dulu

Kota Kuali, 2-3 Maret 2011

Rindu pada Rindu Usang


* Firdaus

Kujemput
rindu usang
rindu yang terkubur
dalam rahang
kujemput
rindu di seberang matamu
rindu tercecer
pada diary berdebu

Tempat menautkan
rinduku
telah melangkah jauh
jejak langkah
ditutupi debu

Kota Kuali, 2-3 Maret 2011

20 May 2015

Mak Siat Sakandak Ati!

Oleh: Firdaus


Rang kampuang baru baliak dari surau sumbayang mugarik. Langkah Badai agak gadang dari langkah nan lain. Kecek rang kampuang, balari-lari anjiang namonyo. Dek Badai, wakatu sasudah sumbayang mugarik ko wakatu nan ditunggu-tunggunyo.
Dek balari-lari anjiang tu, tantu inyo nan paliang dimuko. Sampai di pondok sate Tukang Kipeh-nyo, dikipehnyo baro, tu dibinjeknyo bawang goreang. Sasudah tu bawang  dibakanyo dibaro nan sadang barapi, tu ditambah jo minyak saketek. Asok mambubuang, tu dikepeh sakuek-kueknyo. Baun bawang goreang dibaka taraso mancucuak ka iduang. Hm… sabana arun.
”Sate apo nan waang jua kini, Dai?” tanyo Karapai.