13 October 2013

Pak Ogah

Oleh: Firdaus

Mendengar orang menyebut namanya, maka yang terbayang adalah sosok unik di film boneka Si Unyil, yang sangat populer di tahun 1980-an.
Dikatakan unik, lantaran karakternya pada film yang ditayangkan setiap Minggu pagi itu sangat khas. Kepalanya plontos. Mangkalnya di pos ronda yang selalu dilewati banyak orang. Setiap orang yang minta tolong padanya selalu dimintai uang.
"Cepek dulu..." pintanya dengan intonasi yang terasa didendangkan.
Saking melekatnya karakternya, sejak itu ada dua persamaannya yang kemudian dilekatkan pada sosoknya.
Orang yang plontos dipanggil dengan panggilan Pak Ogah. Orang yang membantu proses kelancaran lalu-lintas, juga disebut sebagai Pak Ogah.
Pak Ogah yang satu ini beda. Saya mengenalnya secara tak sengaja. Ketika itu saya berkunjung ke salah satu kabupaten di Sumbar.

07 October 2013

Mahasiswa Butuh Kemampuan Jurnalistik

*Pelatihan Jurnalistik bagi Mahasiswa PTS se Sumbar, Jambi


Ketua Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah X, Prof Damsar mengingatkan, aktivitas jurnalistik memiliki banyak persamaan dengan aktivitas akademi. Menguasai ilmu jurnalistik, maka dengan sendirinya bisa memperkuat ilmu akademi yang ada di kampus.
“Dalam ilmu jurnalistik, ada idealisme pers yang meliputi kejujuran, keberanian dan berpihak kepada kebenaran. Prinsip itu juga ada dan harus dimiliki kalangan akademi. Jika idealisme tersebut dimiliki mahasiswa, maka dengan sendirinya akan memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi mahasiswa menatap masa depan,” jelas Prof Damsar ketika membuka Pelatihan Jurnalistik bagi Mahasiswa PTS Sumbar – Jambi, di Bukittinggi, Kamis (3/10) lalu, diikuti 87 mahasiswa.

01 October 2013

“Malu Kami Membawa Tamu ke Padang…”

* Dialog Forum Editor (FEd) Sumbar


Membahas tentang Padang, hari ini, seakan membentang benang kusut. Tak pernah terselesaikan. Padang Kota Tercinta memiliki persoalan di sana-sini. Kusut-masai. Karut-marut.
Mau diurus dari mana? Semuanya serba masalah. Di sana ada masalah, di sini juga punya masalah. Masalah dimana-mana.

Firdaus – Padang

Banjir, misalnya. Persoalan banjir, ternyata bukan masalah kekinian. Dalam catatan Eko Alfares, pengamat Perkotaan, persoalan banjir di Kota Padang sudah terjadi sejak 400 tahun silam. Tak pernah terselesaikan.
Belakangan persoalannya semakin parah, sebab dasar-dasar hukum di Padang semakin tidak jelas. Dibanyak tempat tak ada lagi ruang yang bisa menerima resapan air ke datang. Semuanya terbendung di permukaan karena adanya penutupan permukaan tanah oleh bangunan atau landasan yang dicor dan sejenisnya.
“Jika ini dibiarkan, Padang akan terus mengalami banjir dan akan semakin lebih parah untuk masa-masa datang,” kata Eko Alfares, pada dialog Forum Editor (FEd) Sumbar, yang menghadirkan 10 pasangan Calon Walikota Padang serta pengamat, wartawan, akademisi dan praktisi, terkait persoalan infrastruktur dan sarana publik di Padang.

25 September 2013

Jebreettttt, Garuda Juara!


Oleh: Firdaus


Jebreettttt, Garuda Muda juara! Jebreettttt, Jayalah Garuda Jaya! 
Kata jebreettttt, seketika menjadi kata paling populer sejak Minggu (22/9) malam lalu, bersamaan dengan berlangsungnya babak final Piala AFF U-19. Kata itu tak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), juga tak ada dalam “Kamus Besar Bahasa Vickynisasi” yang lebih populer sejak sepekan terakhir.
foto: http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/183503.jpg
foto: http://image.metrotvnews.com/bank_images/actual/183503.jpg
Memang tak ada artinya dalam kamus, tapi kata Jebreettttt yang diteriakan komentator di MNCTV pada partai final tersebut, tak lain adalah kata yang  mewakili perasaan  untuk memberikan support kepada pemain Timnas Indonesia. Kata-kata tersebut dikeluarkan ketika tendangan Evan Dimas dkk melenceng atau dapat dibendung penjaga gawang Vietnam.
Selebihnya adalah kebahagiaan, setelah anak-anak asuhan Indra Syafri berhasil menggapai impiannya. Bukan mencapai mimpi. Impian terbesar tim tersebut adalah kejayaan, makanya Timnas U-19 memakai nama Garuda Jaya. 

Dulu Kau Datang, Lalu Kau Pergi, Kini Datang Lagi

Oleh: Firdaus 



Kawan. Aku bahagia ketika dapat kabar kau sudah kembali ke kampung kita. Aku senang karena kau sudah pulang. Aku bangga karena kau adalah teman lama yang membanggakan. Kau pulang untuk menemui saudara-saudaramu.
Kita memang belum sempat berjumpa, aku belum sempat menemuimu. Kamu juga belum menemuiku. Aku tahu kalau kamu begitu sibuk. Sangat sibuk, malah. Aktivitasmu sangat bertumpuk.
Dua hari lalu, aku jumpa Suara, sahabat kita yang tinggal sudut kampung. Kamu masih ingat dia-kan? Suara banyak membantumu lima tahun lalu. Kemudian ia mengantarkanmu duduk menjadi orang terhormat di ibukota.
Kepadaku Suara mengabarkan, ia sudah bertemu kamu sebulan lalu. Katanya, kamu semakin gagah. Pakaianmu sudah bersanding. Sepatumu mengkilat. Kamu semakin necis. Kamu semakin berwibawa. 
Ia mengambarkan betapa sibuknya kami selama di kampung. Kamu menemui seluruh orang kampung. Tua muda. Siapa pun kamu datangi. Apa pun undangan yang datang untukmu, kamu akan datang pada hajatan tersebut. Katamu, wajib untuk memenuhi undangan, apalagi undangan saudara atau orang kampung sendiri.
Kamu tak hanya sekadar datang. Kamu juga membawa oleh-oleh. Kamu bagikan semuanya untuk orang-orang yang hadir pada undangan acara tersebut. Kamu kemudian juga membantu pembangunan pos ronda, balai pemuda, pembangunan surau, membuka jalan, memberikan bantuan bibit, membantu bertumpuk-tumpuk pupuk. Kamu hebat. Aku bangga padamu.

15 September 2013

Biaya Pemilu Besar, Jangan Golput!

* Dari Dialog Forum Editor (FEd) Sumbar


Sejumlah pertanyaan mengapung berkaitan dengan Pemilu. Benarkah Pemilu penting? Seberapa pentingkah? Bagaimana kalau Pemilu tidak pernah ada? Bagaimana kalau rentang waktu antara Pemilu yang satu dengan Pemilu berikutnya diperpanjang, lebih dari lima tahun? Itu baru seputar pelaksanaan saja.
Pertanyaan lain, seputar “kurenah” calon legislative (Caleg) yang akan dipilih masyarakat. Sudahkah mereka benar-benar mampu mewakili kepentingan rakyat? Tidakkah mereka yang ketika menghadapi Pemilu butuh dukungan suara, kemudian setelah terpilih justru jauh dari pemberi suara untuk mereka? Jika kemudian dirunut, maka berjuta pertanyaan akan bisa diurut.

01 September 2013

M u n d u r

Cerpen: Firdaus Abie

“Pergi dulu, bu,” kataku sembari menyelipkan sumpitan tua  peninggalan ayah ke balik baju bagian belakang.
“Apa semuanya sudah beres?”
“Beres, bu, bahkan sumpit ini sudah pula kubersihkan kemarin. Pokoknya dijamin tak bakalan macet lagi seperti kemarin itu,” jelasku mengeluarkannya kembali dari balik baju tersebut yang kuiringi dengan memukul-mukulkan lembut ke telapak tangan kiriku.