08 February 2018

ANGAN


Angan (1)

Di sini dalam diam
Perut tak berisi
Kosong melompong
Asa nun jauh di sana
Di negeri entah
Berlaut dalam
Berkarang tajam
Bergelombang
Berangin kencang
Tak ada yang menyeberangkan
Aku hanya punya biduk tak berkayuh


Padang, 20 November 2017


Angan (2)


Perihnya penantian tak bertepi
Pedih, bagai luka disiram cuka
Kelam, gelap tak terkata
Si buta menatap lukisan cinta

Padang, 24 November 2017





Angan (3)

Sejauhh mata memandang, harapan tak jua datang
Asa mengambang
Gugurkan bulir-bubur harap
Hancur sebelum dapat

Di sana, mereka mendendangkan tembang cinta
Di sini, ada nyanyian luka
Luka kita berdua

Padang, 24 November 2017

 

 


Kau dan Aku



Kau paksa tanpa rasa
Katamu, “sudah biasa”

Kau tarik tanpa pedulikan jeritanku
Katamu, “aku lebih sulit”

Kau hentakkan
Aku terhenyak
Katamu, “aku tak pernah tidur nyenyak”

Kau hina aku
Aku terpana
Katamu, “aku lebih hina”

Biasa tanpa rasamu
Tak biasa dalam rasaku

Padang, 23 November 2017

Masa



Bila sampai masa
Pemiliknya menjemput
Tak ada yang bisa disebut
Tak juga cemberut
Tak bisa memberungut
Tak perlu kening dilipat sampai berkerut

Sebelum sampai masanya
Sang pemilik selalu memberi aba-aba
Kita saja yang sering lupa
Kadang dianggap bercanda
Tak jarang dijadikan bahan tertawa
Sampai akhirnya benar-benar lupa
Lalu, kita terpana

Padang, 21 November 2017

Perih



Merenda hari dalam gulita diri
Sepi
Tak bertepi

Angan direntang sepanjang jalan
Harap terkungkung bingkai lusuh
Asa tiada rasa
Sorak tak bergema

Haruskah perih kuseret tertatih,
agar tak ada rintih

Haruskah pedih  kuperam di pantai
biar  hanyut ditelan gelombang berantai

Padang, 13 November 2017